menerima Adek Media Rosa dari Tempo di kantornya, lantai 81 Tower 1 Menara Petronas. Dari lantai dasar, Tempo berganti lift di lantai 41. Itu pun elevator hanya berhenti di lantai 80. Selanjutnya, harus melewati tangga yang dijaga petugas untuk mencapai ruang Hassan. Wawancara berlangsung di ruang rapat, dengan pemandangan seantero Kuala Lumpur dari jendela yang tirainya terbuka. Dengan suara datar dan mimik wajah serius, Hassan menjelaskan kegiatan Petronas di luar negeri. Ia juga menuturkan bahwa kenaikan harga minyak tak selamanya menguntungkan produsen, karena biaya produksi juga naik drastis. Selama satu jam wawancara, senyum di bibir sang kepala syarikat bisa dihitung dengan separuh jari tangan. Berikut petikannya.
Bagaimana posisi Indonesia bagi Petronas?
Indonesia adalah negara yang sangat menarik bagi setiap investor. Apalagi buat mereka yang bermain di sektor minyak dan gas. Bicara tentang sumber daya alam di Asia Tenggara, tak bisa tidak menyebut Indonesia. Bagi kami, Indonesia merupakan salah satu negara kunci bagi operasi internasional Petronas, baik di sektor hulu maupun hilir. Di bagian hilir, misalnya, pembangunan infrastruktur gas dan penjualan retail. Itu sebabnya kami ingin hadir di Indonesia.
Mengapa Indonesia menjadi kunci operasional Petronas?
Perusahaan minyak dan gas mana pun tak bisa mengabaikan keberadaan Indonesia. Negara dengan jumlah penduduk sangat besar, tentu besar pula konsumsi bahan bakarnya. Saya yakin masih banyak daerah yang belum dieksplorasi. Ini merupakan kesempatan sekaligus tantangan buat kami.
Sejak kapan Petronas mulai berbisnis di Indonesia?
Kami mulai pada 1996. Tapi kegiatan di sektor hulu, yaitu pengeboran, baru dimulai pada 2000. Lokasinya di Blok Ketapang, lepas pantai utara Jawa Timur. Kami menjadi rekanan ConocoPhilips, yang bertindak sebagai operator.
Masuknya investor asing, terutama di bidang pertambangan dan energi, kerap disambut penentangan sebagian masyarakat lokal. Bagaimana Petronas menghadapi situasi ini?
Kami beroperasi di lebih dari 30 negara. Di sejumlah negara, memang ada resistensi. Untuk mengatasi semua itu, kami berusaha menjalin hubungan erat dengan semua pihak yang berkepentingan di negara tujuan investasi. Terutama kami harus berhubungan dengan pemerintah dan perusahaan sejenis. Di Indonesia, kami telah lama menjalin hubungan dengan Pertamina dan pemerintah hingga level daerah.
Bagaimana Petronas melihat iklim investasi sektor minyak dan gas di Indonesia?
Bagi Petronas, setiap negara memiliki tantangan tersendiri dan kekhususan masing-masing. Cara terbaik untuk mengatasi masalah yang muncul, kami harus selalu berkomunikasi dengan otoritas setempat. Kami percaya, setiap negara menginginkan kedatangan investor dan akan memberikan kemudahan serta bantuan.
Apa kendala terbesar dalam berbisnis di Indonesia?
Persaingan. Tapi ini tidak cuma di Indonesia. Di setiap negara, kami selalu menghadapi persaingan yang kuat. Tapi, semakin lama waktu berjalan, kami bisa menghadapi persaingan dan mengatasi masalah yang ada.
Berapa uang yang telah ditanamkan di Indonesia?
Sejauh ini kami telah menginvestasikan lebih dari US$ 1 miliar atau Rp 9 triliun. Yang terbesar tentu untuk proyek hulu. Dari sembilan ladang pengeboran minyak, investasi terbesar kami ada di Blok Jabung, Sumatera Utara. Petronas masuk ke Jabung pada 2002. Ini ladang terbesar kami di Indonesia, yang menghasilkan sekitar 13 ribu barel minyak mentah setiap hari.
Bagaimana perbandingan investasi Petronas di Indonesia dengan di negara lain?
Jika dibandingkan dengan total volume investasi, uang yang kami tanam di Indonesia tidak terlalu besar, masih di bawah lima persen. Investasi besar kami ada di Sudan, Turkmenistan, dan Afrika Selatan. Di bidang pelumas, kami mendirikan pusat bisnis di Italia. Tapi Indonesia tetap penting dan kami ingin meluaskan kehadiran dengan berusaha mendapatkan ladang pengeboran baru
Kenapa Petronas ikut bermain di bisnis retail?
Ketika Indonesia membuka izin untuk bisnis retail, kami melihat ini sebagai peluang besar karena konsumsi bahan bakar sangat tinggi. Kami memberanikan diri membangun stasiun di Jakarta dan Medan serta akan meluaskan ke sejumlah kota lain di Indonesia.
Sewaktu harga minyak dunia melonjak, konsumen kembali ke stasiun Pertamina yang menjual minyak bersubsidi. Akibatnya, sejumlah stasiun pompa Petronas, juga Shell, tampak lengang.…
Sayangnya, hanya Pertamina yang boleh menjual bahan bakar bersubsidi. Ini tentu menempatkan kami pada posisi yang tidak menguntungkan karena selisih harga. Ketika selisih tidak terlalu besar, kami masih bisa bersaing. Tapi, dalam kondisi saat ini, dengan selisih hingga dua kali lipat, mustahil bagi kami untuk bersaing.
Apakah Anda akan tetap bertahan di sektor retail?
Kami akan bertahan. Di bidang ini, kita tak bisa datang dan pergi begitu saja. Saya percaya, akan ada peluang bagi kami untuk bersaing kelak. Mungkin pemerintah Indonesia akan membolehkan kami secara penuh berbisnis di sektor hilir.
Ada rencana menjual solar ke dunia usaha?
Ya, kami ingin memasarkan lebih banyak lagi produk kami di Indonesia. Tak cuma bahan bakar di stasiun pompa, tapi juga pelumas, dan solar untuk industri.
Konsumen Indonesia menilai kualitas solar Petronas tidak sebaik Pertamina Dex. Jadi, meski harga solar Petronas sedikit lebih murah, produk Pertamina tetap jadi pilihan.…
Tidak benar. Tidak ada perbedaan kualitas. Bahkan solar Petronas sudah diimpor oleh Amerika Serikat.
Berapa keuntungan Petronas akibat melonjaknya harga minyak dunia?
Hmmm…, (menghela napas panjang). Banyak orang bicara tentang harga minyak naik, tapi sedikit sekali yang tahu bahwa biaya eksplorasi, pengolahan, dan kegiatan di sektor hilir juga mengalami peningkatan besar. Memang keuntungan besar, tapi biaya juga tinggi. Dalam tiga tahun terakhir ini, persentase peningkatan biaya produksi jauh lebih tinggi daripada kenaikan harga minyak. Jadi, buat kami kenaikan harga juga menjadi tantangan.
Bagaimana Anda melihat masa depan industri minyak dan gas di Indonesia?
Kami melihat prospek ke depan masih bagus karena banyak wilayah yang belum terjamah. Petronas berharap pemerintah Indonesia selalu melibatkan kami untuk mengembangkan industri ini.
Selain sembilan ladang yang dimiliki Petronas di Indonesia, adakah blok lain yang diincar?
Bukan rahasia lagi, kami sudah menyatakan keinginan untuk ikut serta mengelola Blok Natuna D Alpha di Kepulauan Riau. (Ladang gas ini diserahkan pemerintah ke Pertamina pada Februari lalu karena tak tercapai kesepakatan bagi hasil dengan ExxonMobil. Tapi Pertamina tetap memerlukan mitra untuk menyedot gas itu.)
Berapa besar pendapatan yang harus disetor Petronas ke kas negara?
Seperti perusahaan swasta, kami memberikan kontribusi melalui pajak. Selain itu, kami juga membayar dividen kepada negara, sebagai pemegang saham. Dari total keuntungan US$ 51 miliar atau Rp 459 triliun pada 2007, 65 persen kami bayarkan untuk pajak dan dividen. Sisanya untuk investasi. Tapi persentase itu tidak tetap tiap tahun. Karena pemerintah mendukung kami untuk meluaskan bisnis.
Apa yang membuat Petronas menjadi perusahaan kelas dunia?
Kami didirikan sebagai entitas komersial. Karena itu kami harus berkompetisi. Di Malaysia sendiri kami bersaing dengan perusahaan asing. Inilah yang membuat kami tumbuh menjadi seperti sekarang ini. Di samping itu, kami terus mengembangkan organisasi, memperkuat modal, dan sumber daya manusia.
Di tengah menurunnya cadangan minyak bumi, apa yang dilakukan Petronas untuk tetap eksis?
Kami terus melancarkan strategi global kami. Prioritas utama kami adalah mengembangkan teknologi. Dengan teknologi yang lebih canggih, kami bisa mendapatkan sumber energi baru. Untuk tujuan ini, kami mendirikan pusat penelitian dan kampus.
Bagaimana Anda melihat Pertamina?
Tentu tidak adil membandingkan Pertamina dengan Petronas. Dua perusahaan ini hidup di alam yang berbeda. Sejak awal kami memang menjadi entitas bisnis, ini berbeda dengan Pertamina. Tapi, jika dilihat dari kemampuan secara teknis, kami sangat hormat pada Pertamina. Dulu kami belajar dari Pertamina, terutama tentang productivity sharing contract. Pertamina, sebagai perusahaan yang lebih dulu berdiri, telah menggunakan sistem yang menjadi standar dunia itu, dan kami harus mempelajarinya.
Selama era reformasi, apakah Anda melihat ada perbaikan dalam cara berbisnis di Indonesia?
Saya percaya bahwa reformasi di Indonesia akan membuat kehidupan jauh lebih baik, begitu pula perekonomian. Tapi hasil dari reformasi tidak dapat dicapai dalam semalam. Banyak pihak yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru. Saya harap reformasi akan terus berlangsung dan mendorong perekonomian, terutama untuk investasi.
Tan Sri Dato’ Sri Mohd. Hassan Marican
Tempat dan Tanggal Lahir: Sungai Petani, Kedah, 18 Oktober 1952
Jabatan:
Acting Chairman, President and Chief Executive Officer Petroliam Nasional (Petronas) Berhad.
Pendidikan
* Fellow of the Institute of Chartered Accountants in England and Wales.
* Malaysian Institute of Accountants
* Malaysian Institute of Certified Public Accountants
Karier
* 2004-sekarang, Acting Chairman Petronas
* 2005-sekarang, Presiden and CEO Petronas
* 1989-1995, Senior Vice President-Finance
* 1972-1989, Akuntan
Jabatan Lain
* Direktur Bank Negara Malaysia (Bank Sentral)
* Chairman MISC Berhad
* Chairman Petronas Gas Berhad
* Chairman Engen Limited, Afrika Selatan


