Deedee's posts with tag: menado
Catatan Perjalanan PTD Manado – Bunaken – Tondano – Tomohon 17-18-19 Mei 2008 By : Deedee Caniago, Sahabat Museum Hari Terakhir, Senin, 19 Mei 2008
Jam 05.30 subuh saya dan Ninta sudah bangun (catet yah, waktu di Manado satu jam lebih cepat dari Jakarta, sehingga waktu sebenarnya adalah pukul 04.30 subuh WIB, ya ampyuunnn), karena kami harus membangunkan peserta, mengingatkan bersiap2 untuk sarapan & menaikkan luggage mereka ke bus. Terlihat uda Indra, Alice & teman-teman lainnya yang habis hunting sunrise, serta teman2 peserta lainnya tampak sudah jalan2 melihat2 resort di pagi hari. Sayang sekali resort yang sangat menawan ini terpaksa harus kami tinggalkan segera karena kami masih punya beberapa lokasi yang harus dikunjungi.  Sarapan pagi di hotel restaurant, kami merasa sangat kecewa, terutama Ibu Rose Lintong yang asli dari Tondano pun harus protes keras ke manager setempat karena sarapan pagi yang tersedia hanya nasi goreng dan telur mata sapi serta roti tawar saja, tidak sepadan dengan harga sewa penginapan yang kami nilai sangat mahal.
Next, kita semua memasukkan barang2 ke bus dan sebelum berangkat ke lokasi berikutnya, kami berphoto2 dengan spanduk dengan latar belakang gunung Lokon yang cantik.
Makam Tuanku Imam Bonjol Kami tiba di makam Tuanku Imam Bonjol sekitar jam 09.00 pagi, keliling sebentar, photo2 dengan spanduk, dan mendapat penjelasan dari penanggung jawab pemelihara makam. Tuanku Imam Bonjol adalah pahlawan nasional yang pada waktu perang Padri di Sumatera, dibuang oleh Belanda ke Manado pada tahun 1874 dan wafat disana. Kami selanjutnya meneruskan perjalanan ke komplek perumahan Citraland, untuk melihat patung Yesus raksasa. Disana kami turun sebentar dan kembali photo2 dibawah patung Yesus dan melanjutkan acara dengan belanja oleh2 khas Manado di Merciful Building Business Center.
 Belanja Oleh2
Dari makanan kering, klapeertart, sirop, sampai baju2 & boneka tarsius spektrum, semuanya tampak diborong kalap oleh teman2 peserta PTD membuat petugas nya kalang kabut. Ditempat yang sama kami juga dihibur oleh pegawai toko mereka yang bermain kulintang, sehingga oma Grace dan ibu Taty tampak berjoget2 dengan riang gembira. Disana kami juga terhibur dengan adanya seorang polisi muda ganteng yang sedang bertugas disana yang bernama Marlon, sehingga urusan beli oleh2 menjadi heboh dan penuh canda tawa teman2 semuanya. Menaiki bus ada sesuatu yang unik disini, para pegawai toko yang cantik-cantik berbaris dipinggir jalan didepan toko memberi hormat selamat jalan kepada kami dengan lambaian tangan disertai hormat membungkuk ala Jepang. Dan pada saat2 terakhir, mas polisi Marlon kami tahan untuk photo bareng teman2 batmusers cewek, hihi  Klenteng Ban Hing Kiong Selesai beli oleh2, kami berkunjung ke Klenteng Ban Kian Hiong dan menghabiskan setengah jam berkeliling Klenteng Ban Hing Kiong
Kelenteng Ban Hing Kiong didirikan sekitar 300 tahun yang lampau dengan mengikuti pola yang diawali dari niat dan hakekat para pendirinya, dimana hal tersebut tertampil secara fisik pada papan nama yang mencerminkan fungsi dan peran serta sifatnya yang umum dan luas (universal), yaitu:
- Ban = Banyak
Suatu Tempat Ibadah yang dibangun oleh umat untuk melaksanakan berbagai Upacara Suci, Upacara Sembahyang, Menunaikan Ibadah Agama Bagi Kepentingan Umat Manusia.
- Hing = Berkah Yang Berlimpah Suatu Tempat Ibadah yang mempunyai nilai-nilai relijius untuk memuliakan nama Tuhan dalam menangkal terhadap kuasa gelap dan segala gangguan yang merugikan Umat Manusia serta alam lingkungannya, agar senantiasa tercipta jagad yang tertib teratur dan damai mendatangkan berkah yang berlimpah bagi Umat Manusia.
- Kiong = Istana
Suatu Tempat Ibadah yang dibangun sebagai Istana Tuhan untuk menghadirkan-Nya dan merupakan perwujudan Istana Langit di muka bumi berdasarkan tata krama yang sama dengan pola arsitektur yang diambil dari Alam Semesta dalam mewakili Jagad Raya dan waktu yang disucikan, merupakan perwujudan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Corak khas yang diwujudkan melalui simbol-simbol yang ada di Kelenteng Ban Hing Kiong mampu menghantarkan kepada kita pesan-pesan yang dibawanya, bahkan perlambangan dari simbol tersebut merupakan pernyataan yang sekaligus adalah pesan-pesan Suci yang berbicara kepada kita secara nyata. Diawali dengan langkah pertama saat menginjak lantai yang agak tinggi di bawah gapura berarti dari kehidupan duniawi menuju kehidupan suci sehingga jalan yang dilalui dari sempit menuju luas. Hal ini terlihat pada bentuk halaman Kelenteng Ban Hing Kiong yang awalnya sempit kemudian melebar yang bermakna Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menolong umatNya dengan memberikan jalan keluar dikala kesusahan. Diatas atap terdapat palang yang berbentuk perahu dalam pengertian rohani adalah perahu penyelamat bermakna Tuhan dan Dewa Dewi senantiasa menolong, melindungi dan menyelamatkan umat manusia.
Dalam pengertian ibadat adalah SIN yang maknanya Hati Nurani, artinya manusia harus sungguh-sungguh dengan hati dan pikiran yang bersih dan luhur melaksanakan ibadahnya serta senantiasa memupuk kebajikan sebagai bekal bagi kehidupannya nanti.
Pada pintu kiri & kanan terdapat tulisan Hong Tiau U Sun Kok Thay Ping An yang bermakna hujan dan angin selaras rakyat dan negara aman tentram. Disisi kiri & kanan pada kam terdapat dua pintu kecil menuju ruang belakang terdapat tulisan umur panjang setinggi gunung, rejeki sedalam lautan yang bermakna, laksanakan ibadat dengan benar maka berkah dan karunia akan diperoleh. Melewati pintu samping akan ditemukan ruang kebaktian sebagai ruang penerangan batin di dalam mempelajari Ajaran Tri Nabi Agung yang berada pada ruang belakang lantai dua serta menghayati sikap Welas Asih dari para Dewa-Dewi, yang berada di ruang belakang lantai tiga, juga sebagai tempat untuk merenungkan akan perilaku kita pada sesama dan agar boleh tetap berada di jalan yang benar. Sebagai bahan renungan, pada dinding ruang belakang terdapat beberapa ukiran gambar yaitu, dinding tengah terukir gambar pohon dengan buahnya dimana seorang anak sedang berusaha memetik buahnya sementara disampingnya seorang tua memperingatkan / mengingatkan yang bermakna siapa yang menanam dia yang akan menuainya. Pada dinding kiri terukir yang suci Cu Seng Nio Nio dengan buku pencatat kelahiran sebagai reinkarnasi hukum sebab akibat. Dinding sebelah kanan terukir gambar neraka dan dua puluh empat laku bakti yang bermakna untuk menyadarkan kita agar tidak melakukan perbuatan jahat bila ingin luput dari hukuman neraka.
Dari uraian diatas jelas mencerminkan nilai-nilai Agama melalui perlambangan dan simbol dalam melahirkan ungkapan-ungkapam spritual maupun ritual sehingga dapat diumpamakan Tempat Ibadah Tridharma adalah sebuah Kitab Suci yang terbuka dan senantiasa memancarkan sinar kemuliaan dari Tuhan.
(info diambil dari http://community.siutao.com/blog.php?b=72 )  Selesai muter2 Klenteng, kami pindah tempat menuju restauran Mapanget untuk makan siang terakhir kalinya di Manado. Menu nya tetap sea food tambah sayur kangkung lagi, namun rasa makanan di restaurant ini tampaknya yang paling enak di antara restaurant lainnya, sehingga perut kenyang dan hati senang. Tapi rasanya, untuk beberapa minggu ke depan, saya nggak akan makan makanan Manado lagi deh, tiap hari menunya samaaaa
Ditempat ini pula saya atas nama panitia PTD Manado-Bunaken-Tomohon-Tondano mengucapkan kata2 perpisahan dan memberikan sedikit arahan untuk kepulangan kembali ke Jakarta.
Jarak dari restauran Mapanget ke bandara Sam Ratulangi hanya 5 menit saja, akan tetapi dikarenakan bagasi kami bertambah banyak, check in memakan waktu lebih dari 1 jam dengan jumlah total 53 bagasi dan tambahan 28 kardus oleh oleh (bandingkan dengan jumlah koper pada keberangkatan, 49 bagasi tanpa tambahan kardus oleh2 !!!)
Pada pulukl 15.00 sore, pesawat Lion Air yang delay selama 30 menit pun akhirnya tiba, transit di Makassar selama 30 menit, (dengan kasus boarding pass yang Oma Anna & Intan yang tertukar) dan tiba dengan selamat di Jakarta pada pukul 19.00 WIB.
Akhirnya, setelah menghitung jumlah bagasi dan oleh2 secara lengkap, semua peserta cipika cipiki dan berpamitan untuk kembali pulang kerumah masing2, dan kamipun berangkat dari bandara menuju rumah pada pukul 20.00 malam, dan langsung ke restaurant Padang Sederhana untuk makan masakan Padang ! hihi, teuteeeepp.
Akhir kata, kami para panitia PTD Manado – Bunaken – Tondano - Tomohon, Adep, Deedee, Ninta, bu Wisda dan Pak Amran mengucapkan banyak terima kasih kepada teman2/bapak2/ibu2 peserta semuanya atas partisipasi nya, terima kasih juga kami tujukan kepada Bapak Hence dari Universitas Sam Ratulangi yang telah menemani kami selama 2 hari, Nyong Rony dari Mapanget Tour yang telah mengurusi akomodasi, bus dan tiket kami di Manado, Bapak Toku Malohing dari Kebun binatang mini yang kocak, para karyawan hotel Santika Sea Side Resort dan Lokon Boutique Resort, mas Sugianto dari Lion Tour, dan pihak2 yang terkait yang telah ikut serta membantu mensukseskan acara, disertai permohonan maaf apabila ada beberapa kekurangan, baik melalui kata2 atau perbuatan yang kurang berkenan selama di perjalanan. Semoga tali pertemanan, kekeluargaan dan silatuhrahmi yang telah terbina bisa kita pertahankan, ....dan sampai jumpa lagi di acara PTD berikutnya.
Salam, Deedee Caniago The Ancient Rocks !!!
Catatan Perjalanan PTD Manado – Bunaken – Tondano – Tomohon 17-18-19 Mei 2008 By : Deedee Caniago, Sahabat Museum Hari Kedua Minggu 18 Mei 2008 Tarsius Spectrum Hari kedua diawali dengan sarapan pada pukul 06.00 – 07.00 pagi, kemudian check out dan meletakkan barang2 keatas bus, dan kami berangkat meninggalkan hotel pada pukul 07.30 pagi menuju arah ke timur kota Bitung untuk mengunjungi kebun binatang mini setempat. Kami memilih tempat ini karena selain tempatnya bagus, (udara sejuk & pemandangan pantai biru yang indah), tempat ini mempunyai koleksi satwa langka yaitu sejenis monyet yang bernama Tarsius Spectrum yang merupakan monyet terkecil di dunia (sebesar genggaman tangan manusia) dan hanya terdapat di Sulawesi, Indonesia. Disini kami juga melihat monyet Sulawesi, babi rusa, bermacam burung elang, kuskus Sulawesi yang mempunyai kantong anak mirip Kanguru serta mempunyai ekor panjang yang digunakan untuk bergelantungan. Tarsius Spectrum adalah binatang mungil yang lucu dan mempunyai mata sendu yang besar seperti koala, badannya menyerupai monyet dan ekornya mirip tikus, dan konon menurut Bapak Toku, pemandu setempat, binatang ini merupakan jenis makhluk yang amat setia pada pasangannya atau lebih dikenal dengan isitilah monogamy (tuh, contoh tuuuhh), dan kepala nya bisa memutar ke belakang 180 derajat, menggemaskan !!!  Disini kami juga melihat dua ekor ular sanca raksasa yang usia nya sudah puluhan tahun yang beratnya 200kg, dan beberapa dari kami photo bersama sambil memegang sang ular. Saya nggak ikutan photo sama ular, takut nanti saya nya ngak tahan untuk ambil kulit ular tersebut buat bikin tas & sepatu, saking bagusnya itu kulit ular, hihi Sayangnya disini ada incident kecil, salah satu teman bernama Itoy kena cakar monyet yang memang hanya dirantai dan dikeluarkan dari kandang, sehingga lengan Itoy terdapat luka ringan yang segera diobati. Lucunya, Itoy dengan cueknya menertawakan diri sendiri, sehingga pada saat di bus, Itoy jadi bahan ledekan teman2 yang lain sehingga kami semua hampir sakit perut tak putus2nya menggoda Itoy yang mendadak doyan makan kacang & katanya akan berubah wujud nanti malam. Dari kebun binatang mini ini, kami meneruskan perjalanan ke lokasi kunjungan berikutnya, makam tua (Waruga), yang merupakan makam nenek moyang suku Minahasa yang terletak di kecamatan Sawangan, dekat kota Air Mandidi. Waruga Matahari di Manado kayaknya ada 3 deh, udara dan cuacanya amat sangat panas membakar kulit, apalagi untuk ukuran jam 12.00 siang disebuah makam tua yang terik. Disini kami dipandu oleh Bapak Hence, seorang dosen Sejarah di Universitas Sam Ratulangi yang dengan fasih menerangkan tentang makam dan asal muasal orang Minahasa yang umurnya sudah ribuan tahun, juga mengenai adat isitiadat & kebiasaan orang sana. Waruga ini sekilas mirip makam yang ada di Tana Toraja, bedanya, mayat di Waruga tersebut diletakkan kedalam sebuah batu dan ditempatkan dalam keadaan posisi duduk. Kalo dilihat dari rangka dan peninggalan museum nenek moyang mereka, terlihat bahwa orang Minahasa jaman dahulu itu berbadan besar2, perhiasan gelang2 tangan nya aja raksasa bo, agak2 ngeri ngeliatnya.  Dari Waruga, kami mampir bentar ke makam Kiai Maja, tapi karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang, kami tidak masuk ke pemakaman, namun melanjutkan perjalanan ke restaurant Tumou Tou yang terletak di tepi Danau Tondano untuk makan siang. Menu nya lagi2 ikan & sea food, sayur kangkung dan sambal. Dibandingkan dengan masakan Manado yang ada di Jakarta (Camoe Camoe & Beautika), rasanya kurang nendang & sambalnya kurang pedas. Dan lucunya, ketika kita minta perkedel jagung, mereka kebingungan, karena ternyata perkedel jagung yang sangat terkenal di Jakarta ternyata tidak dikenal di Manado nya sendiri. Padahal kita sudah tanya kesemua restaurant Manado tempat kita makan, baik pagi, siang maupun sore harinya, tidak ada perkedel jagung sama sekali, case closed :-) Selesai makan, sambil dihibur oleh pemain organ tunggal yang menyanyikan lagu-lagu Manodo yang melankolis, sebagian dari kami kembali mendengarkan penjelasan Bapak Hence mengenai orang2 Manado dan kebiasaan mereka dalam berpesta, dansa dansi dan minum minum-an keras (cap tikus, man), dan sebagian lagi Batmusers memilih untuk photo2 di tepi danau yang air nya biru tersebut. Cap Tikus Cap Tikus adalah jenis cairan berkadar alkohol yang dihasilkan melalui penyulingan saguer (cairan putih yang keluar dari mayang pohon enau atau seho dalam bahasa daerah Minahasa). Tinggi rendahnya kadar alkohol pada Cap Tikus tergantung pada kualitas penyulingan. Semakin bagus sistem penyulingannya, semakin tinggi pula kadar alkoholnya Cap Tikus sudah dikenal sejak lama di Tanah Minahasa. Memang tidak ada catatan pasti kapan Cap Tikus mulai hadir dalam budaya Minahasa. Namun, setiap warga Minahasa ketika berbicara tentang Cap Tikus akan menunjuk bahwa minuman itu mulai dikenal sejak nenek moyang mereka. Sadar betul bahwa Cap Tikus mengandung kadar alkohol tinggi, sudah sejak dulu orang-orang tua mengingatkan agar bisa menahan atau mengontrol minum minuman Cap Tikus. Sejak dulu pula dikenal pameo menyangkut Cap Tikus, “minum satu seloki Cap Tikus, cukup untuk menambah darah, dua seloki bisa masuk penjara, dan minum tiga seloki bakal ke neraka”. Wuidih, mantaaap  photo diambil dari sini Mengapa minuman tersebut dinamai Cap Tikus? Tidak diperoleh jawaban yang pasti. Ada dugaan, nama itu dipakai karena pembuatannya dilakukan di sela-sela pepohonan, tempat tikus hutan bermain hidup. Entahlah. Sayangnya, menurut Pak Hence dan orang2 setempat, minuman keras Cap Tikus yang diminta oleh teman2 saya di Jakarta tidak bisa keluar dari Manado karena termasuk kedalam list minuman dengan kadar alkohol yang amat sangat tinggi, jadi tidak bisa dibawa ke Jakarta, hiks. (maap yah Dony, Indra, Cap Tikus nya diganti sama Klapeertart aja) Setelah selesai makan dan photo2, kami rencananya mengunjungi makam pahlawan nasional Dr. Sam Ratulangi di kota Tondano, namun karena jalan menuju makam tersebut di tutup karena ada kampanye Pilkada maka kami hanya mendengarkan informasinya dari Pak Hence, dan kami langsung melanjutkan perjalanan menuju lokasi berikutnya Watu Pinawetengan dan Bukit Kasih. Bukit kasih
Watu Pinawetengan terletak diketinggian perbukitan. Tempat ini sebetulnya cukup sederhana. Hanya sebongkah batu besar berukuran kira2 5m x 2m sebagai tempat leluhur Minahasa keturunan Toar Lumimmut (nenek moyang bangsa Minahasa) untuk bertemu dan bermusyawarah. Selesai foto bersama didepan Watu Pinawetengan tersebut kami menuju ke Bukit Kasih Yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Watu Pinawetengan.  Bukit Kasih terletak di areal perbukitan di desa Kanonang, Kawangkoan. Bukit Kasih adalah pusat spiritual dimana penganut agama dari berbagai kepercayaan berkumpul, bermeditasi, dan beribadah, terletak di pangkuan perbukitan tropis yang subur dan berkabut. Di bagian bawah, terdapat satu tugu yang melambangkan 5 agama, di bagian atas sebelah kanan terdapat 5 tempat ibadah sesuai dengan 5 agama yang dianut disana (Protestan, Katolik, Muslim, Hindu & Budha). Terdapat pula pahatan dua patung raksasa didinding bukit dalam bentuk wajah wanita & pria, nah yang ini adalah Toar Lumimmut asal muasal nenek moyang orang Minahasa menurut legenda masyarakat setempat. sedangkan di bagian atas sebelah kiri terdapat sebuah salib raksasa. Untuk mencapai puncak bukit melihat salib raksasa tersebut, kami harus menaiki sebanyak 2,300 anak tangga (menurut informasi di information centre) yang menanjak keatas. Awalnya saya ragu untuk ikutan naik, karena : - makin lama saya makin males untuk trekking, apalagi naik tangga curam sebanyak kurang lebih 2,300 anak tangga. I mean, turun dari lantai 27 waktu latihan “fire drill” kantor aja, kaki saya besoknya remuk redam, apalagi naik turun sekian ribu tangga. Akan tetapi karena malu sama ibu Taty yang lebih suhu dari kami yang berusia sekitar 60 an, saya nekat ikutan naik, ya udah akhirnya saya ikut juga
- penasaran pengen melihat salib dari dekat, karena sebelumnya udah liat dari atas pesawat dari ketinggian sekian ribu kaki, jadi merasa harus liat sendiri dari dekat untuk merasakan pengalaman spiritual
- harus ikutan untuk menjadi “time keeper” nya peserta batmus yang naik. Kalo nggak ada panitia nya, bisa2 peserta yang diatas nggak mau turun2 *lirik geng Bukit Kasih yang kemaren naek*
Akhirnya, setelah perjalanan sekitar 45 menit keatas ditemani oleh pemandu2 lokal yang masih kecil2, Fernando dan Ferdie yang bawel nya setengah mati tetapi membuat kami ketawa ketiwi dengan ocehan mereka yang khas anak2, kami berhasil mencapai puncak dan berphoto2 dibawah salib raksasa tersebut. Aih, bangga nyaaaaa, bisa mencapai puncak dengan sukses !  Pemandangan diatas juga tampak cantik, udara nya sejuk semilir angin sore membuat kami semua malas turun, apalagi sebentar lagi sunset alias matahari terbenam, moment yang sayang untuk dilewatkan. Akan tetapi, dikarenakan peserta yang tidak ikut naik telah menunggu kita, akhirnya setelah sekitar 30 menit diatas sana, kami turun lagi kebawah dan ibu Taty yang duluan tiba dibawah disambut bak pahlawan oleh teman2 lainnya. (Dan ketika dua hari kemudian kaki saya sakit sekali, saya tidak menyesal, karena it was really worth the pain). Berangkat dari Bukit Kasih jam 18.00 sore, perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam untuk menuju Lokon Boutique Resort tempat kami menginap. Sayang ada sedikit salah paham dengan pihak hotel sehingga makan malam yang seharusnya disediakan oleh pihak hotel tidak tersedia, sehingga kami harus mengambil last minute decision untuk makan malam dadakan di Resto bakso Cak Man yang terletak tidak jauh dari resort. Tapi karena kami datangnya secara tiba-tiba, rumah makan bakso Cak man jadi kelabakan disatroni 62 orang sekaligus, sudah malam pula, dan karena mereka tidak mempunyai persediaan makan yang cukup untuk rombongan besar kami, sehingga kami harus bersabar lama untuk menunggu datangnya bakso susulan yang didatangkan dari Manado dan menunggu lama pula untuk ikan bakar & nasi putih nya. Pada waktu menunggu yang agak lumayan lama, kami pergunakan untuk acara perkenalan dan ice breaking peserta. Dengan menyebutkan nama, pekerjaan, dari mana dapat info PTD dan sudah berapa kali ikutan PTD, acara ini menjadi semarak dan penuh keakraban apalagi ditambah dengan cela2an penuh canda tawa. Ketika makanan akhirnya datang juga, kami pun makam malam dengan lebih mengenal dekat para peserta yang sebagian besar sebelumnya hanya dikenal melalui name tag saja.  Lokon Boutiue Resort
Selesai makan malam, kami semua kembali naik bus dan berangkat menuju Lokon Boutique Resort. Tiba disana sekitar 40 menit kemudian, semua peserta dibagikan kunci kamar dan naik ke kamar masing2. Saya sharing satu kamar berlima dengan Ninta dan Dina, juga Linda & Dwi, karena kami mendapatkan kamar cantik khas rumah Sulawesi yang bertingkat yang terbuat dari kayu. Setelah meletakkan barang2, kami berlima kedatangan Adep, Uda Indra & Alice yang ikut bergabung ngobrol2 sambil ngopi2 hingga waktu menunjukkan waktu 01.00 WITA dan semua nya masuk kamar dan tidur. Lokon resort yang terletak dibawah kaki gunung Lokon ini dingin bukan main, sehingga saya harus memakai jaket, selimut tebal dan kaos kaki agar badan menjadi hangat.  to be continued to Day-3
Catatan Perjalanan PTD Manado – Bunaken – Tondano – Tomohon 17-18-19 Mei 2008 By : Deedee Caniago, Sahabat Museum
Introduction : PTD Manado-Bunaken-Tondano-Tomohon adalah PTD luar kota kedua saya pada tahun 2008 ini. It’s been a very long time indeed, since I last lead a group of batmusers out of town, sehingga saya agak2 lupa bagaimana penuh challenge nya membawa rombongan lebih dari 50 orang dengan segala macam karakter, dengan kendala di perjalanan yang mungkin akan muncul. Akan tetapi semuanya siap saya hadapi, karena saya begitu excited untuk menikmati perjalanan, menambah teman baru, dan mencapai goals kami untuk menyukseskan acara dengan ending yang bahagia, seperti biasa... So here goes the small brief of the journey, enjoy...
Hari Pertama, Sabtu, 17 May 2008
Pada hari Jum’at malam, salah satu panitia PTD, Ninta nyamperin saya yang lagi nongkrong di PS karena Ninta akan bergabung menginap di markas Batmus di Lebak Bulus. Sesampai dimarkas sekitar jam 24.00 tengah malem, kami mulai mempersiapkan segala sesuatu, packing dan sebagainya. Yeap, karena udah terbiasa dengan last minute packing, sambil ngobrol2, tak terasa sudah jam 01.00 dinihari, saya dan Ninta pun berusaha untuk tidur, tapi mata ini enggan terpejam, karena alarm diprogram akan berdering jam 02.00 pagi, dan pada pukul 02.30 pagi kami sudah bersiap2 berangkat ke airport. Ternyata bukan kami berdua saja yang kesulitan tidur, teman2 peserta PTD kali ini pun nggak nyenyak tidurnya, takut telat tiba sampai di bandara :-)
Rombongan panitia yang berangkat ke bandara terbagi dalam 2 rombongan, rombongan pertama berisi Deedee, Ninta, Uda Indra & Mbak Anna yang kebetulan juga menginap dirumah, rombongan kedua berisi bapak Amran, ibu Wisda dan Adep yang dianter oleh adik saya Yudhi ke bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng.
Departure
Sekitar jam 03.15 rombongan pertama sudah tiba di airport, dan disitu sudah terlihat ibu Taty dan Oma Grace yang tiba terlebih dahulu. Tak lama kemudian, peserta satu persatu mulai berdatangan hingga pukul 04.00 pagi. Karena satu hari sebelumnya kami sudah melakukan city check-in untuk rombongan, sehingga peserta tidak perlu check-in lagi di counter pada hari H nya. Panitia hanya mengabsen peserta, membagikan name tag, bus list, room list dan itinerary perjalanan yang paling update. Jumlah bagasi pada saat berangkat adalah 49 kopor untuk total 61 orang peserta. Semua bagasi kami beri ikatan pita merah-kuning sebagai tanda pengenal, sehingga ketika tiba di bandara tujuan akan memudahkan kami untuk mengenali barang2 bawaan kami nantinya.
 Walaupun dua hari sebelumnya panitia sudah menelpon semua peserta untuk mengingatkan sudah berada di bandara pada pukul 03.00 – 04.00 pagi, akan tetapi pada pukul 04.30 waktunya penumpang pesawat mulai boarding, masih ada 4 peserta lagi yang belum muncul, Elena, Maria & Fien dan Dina. Dan ketika mereka datang, semuanya langsung kita suruh masuk dan kira2 10 menit pesawat akan berangkat, peserta terakhir yang bernama Dina pun muncul dan masuk ke pesawat. Dina tidak terlihat panik, karena menurut dia, sudah terbiasa ketinggalan pesawat, sehingga kalo trip PTD ini dia ketingalan juga, dia sudah pasrah aja, katanya. Ya olooooo, udah kebanyakan duit kali yah, sering ketinggalan pesawat tapi cuek beibeh. Pesawat Lion Air yang kami tumpangi merupakan armada terbaru dari Boeing yang dimiliki oleh maskapai Lion Air, yaitu Boeing 737 – 900 ER. Masih kinclong dan tempat duduknya masih bau baru gitu deh. Pantesan pada beberapa saat sebelum landing, pramugarinya mengingatkan semua penumpang untuk tidak mengambil life jacket, karena ketika di Bunaken nantinya, saya baru “ngeh” bahwa life jacket pesawat bisa digunakan untuk snorkeling-an, hehe, eh nggak deh.
Anyway, perjalanan dari Jakarta ke Manado memakan waktu 3 jam dan 10 menit saja. Pesawat yang take off pada pukul 05.00 pagi tiba di Manado pada pukul 08.10 WIB atau pada pulukl 09.10 waktu setempat. Ketika baru take off, sebenarnya mata sudah berat sekali ingin tidur, tapi saya nggak mau ketiduran, karena diluar pesawat, matahari baru saja muncul & bersinar kemerahan, suatu pemandangan alam yang sangat indah dan langka ini tentu saja tidak mau saya lewati. Dan ketika matahari sudah berangkat naik, barulah saya memejamkan mata & tidur.
Ketika pesawat hampir mendarat, saya terbangun dan melihat pemandangan pulau Sulawesi dari atas laut yang terlihat menakjubkan sekali. Saya juga melihat sebuah salib raksasa, yang ternyata adalah salah satu objek wisata yang akan kami kunjungi nanti, Bukit Kasih. Salib raksasa ini menguatkan bahwa orang Manado adalah pemeluk agam Kristen Katolik dan Protestan yang kuat dan taat, ini juga terlihat dari banyaknya gereja2 indah yang kami temui sepanjang perjalanan.
Landing Manado
Turun dari pesawat dan ngantri bagasi, semua koper2 kami dengan identitas pita merah-kuning tersebut kami pisahkan untuk kami hitung ulang. Banyak peserta atau batmusers yang ikut membantu menyusun barang untuk dihitung, dan ketika semua barang2 sudah komplit berjumlah sama dengan jumlah waktu keberangkatkan, peserta membawa barangnya masing2 dan semua naik masuk ke dalam dua bus yang terpisah. Bus pertama berisi peserta group 1, bus kedua berisi peserta grup 2 beserta barang2 bawaan. Pusing saya ngeliat koper2 peserta yang kesan nya kayak mau bepergian sebulan, banyak banget boooo. Pukul 10.30 pagi, rombongan pun berangkat menuju penginapan kami, hotel Santika Sea Side Resort.  Peserta kami ingatkan dan diberi waktu 1 jam untuk istirahat, dan kembali ke lobby untuk memulai kunjungan pertama menuju pusat wisata bahari, perairan Bunaken. Pukul 11.30, semua peserta PTD pun berkompul di lobby hotel dan kemudian bergerak menuju dermaga lokal yang berjarak sekitar 500 m dari lobby hotel dengan perlengkapan berenang masing2 (note : Hotel Santika mempunyai dermaga sendiri dan akses langsung ke pantai Bunaken). Peserta yang tidak ingin berenang dipersilahkan untuk naik ke boat pertama, dimana dibagian dasar boat tersebut terdapat kaca yang langsung bisa melihat terumbu karang dan ikan2 dibawahnya, sedangkan boat kedua berisikan peserta yang ingin snorkeling dan berenang. Di boat, peserta dibagikan makan siang, nasi kotak yang berupa nasi, ayam, daging & tahu juga minuman aqua.
Taman Nasional Bunaken Bunaken adalah sebuah pulau seluas 8,08 km² di Teluk Manado, yang terletak di utara pulau Sulawesi, Indonesia. Di sekitar pulau Bunaken terdapat taman laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Kelautan Manado Tua. Taman laut ini memiliki biodiversitas kelautan. salah satu yang tertinggi di dunia, dan merupakan salah satu lokasi terindah di dunia untuk kegiatan snorkeling & diving.
Ketika sampai ditujuan , kami semua turun di pantai Bunaken dan menyewa alat2 snorkeling yang terdiri dari fins, google & life jacket (kaki katak, selang menyelam & pelampung keselamatan). Karena lautnya terlihat amat sangat biru dan dalam, semua peserta yang akan berenang dan snorkeling memilih untuk menggunakan life jacket. Akan tetapi karena pelampung nya tidak cukup, sehingga peserta yang sudah bisa berenang kami anjurkan untuk meminjamkan life jacket nya kepada yang tidak bisa berenang (nah ini masukan untuk PTD kedepan yang ada program snorkelingnya, perlengkapan nya agar dipersiapkan oleh masing-masing peserta dari Jakarta), dan setelah semuanya siap, kita semua langsung menyebur kelaut untuk berenang dan snorkeling yang dipandu oleh pemandu snorkeling setempat. Sedangkan saya dan beberapa teman lainnya lebih memilih untuk snorkeling dipandu oleh teman2 sendiri, yang kami daulat untuk jadi guru snorkeling. Belakangan kita baru tau, teman2 peserta yang jadi pemandu snorkeling kita adalah Laksmi & Nanis, karena kalo dilaut, mukanya sama semua nya, hihi. Thanks yah Laksmi & Nanis, udah sabar memandu kita2 yang nggak bisa berenang tapi kebanyakan gaya ini :-P  Selama satu jam kami berenang & snorkeling-an, dan pada pukul 16.00 sore, semua peserta dipanggil untuk kembali ke pantai Bunaken bergabung dengan group yang sudah selesai melihat2 terumbu karang dan ikan warna warni dari atas boat. Saya yang emang sering trip ke pulau2 untuk snorkeling rasanya belum puas berenang2 dan melihat2 ikan di laut Bunaken yang cantik tersebut, apalagi buat teman2 peserta yang baru sekali itu melakukan kegiatan snorkeling. Mereka semua terpesona atas pemandangan laut yang cantik tersebut dimana berbagai jenis ikan ramai bersliweran didalam laut. Tapi apa daya kami semua sudah harus kembali ke hotel untuk bersiap2 keliling Manado dan makan malam.

Ketika sampai di hotel, hari sudah menjelang sore, sehingga kegiatan keliling tempat2 yang terdapat di itinerary hari pertama dialihkan ke hari ketiga, dan kami pun mandi, sholat dan siap-siap untuk makan malam di rumah makan Kharisma yang terletak di pinggir pantai pusat kota Manado. Ternyata jarak hotel ke pusat kota memakan waktu lebih dari 1 jam, sehingga rombongan baru tiba di restaurant pada pukul 07.30 malam. Menu makan malam kami adalah sea food, sayur kangkung dengan sambal khas Manado dan sop jagung, sehingga capek dan perut lapar terobati oleh hidangan yang nikmat. Selesai makan malam sekitar 1 jam kemudian, kami kembali ke hotel dan sampai di hotel pada sekitar pukul 22.00 malam dan karena sudah kelelahan dalam perjalanan yang dimulai dari subuh, semua peserta kembali ke kamar masing2 untuk berisitirahat to be continued to Day-2
............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. Plesiran Tempo Doeloe bersama Sahabat Museum 17-18-19 May 2008 jalan2, makan2, photo2, snorkling tinggal 4 hari lagi yang sudah daftar dan bayar sudah 60 orang peserta, sisa tinggal 1 bangku kosong yang masih mau ikutan, silahkan daftar ke adep@cbn.net.id Rp 3,8 juta, 3 hari, 2 malem.. for more detail, please see : http://deedeecaniago.multiply.com/calendar/item/10098/Plesiran_Tempo_Doeloe_Manado-Bunaken-Tondano-Tomohon_17-18-19_Mei_2008 cheers, deedee
| |
|