Guys,
bagi yang udah nungguin catatan perjalanan acara Plesiran Tempo Doeloe Sahabat Museum ke Ambon Banda Neira 16-22 November 2007 (yang ditulis oleh bokap gue loohh, cieeehh), silahkan menikmati, kali2 aja suatu hari nanti kalian akan berkunjung kesana, so at least udah tau sedikit banyak nya mengenai Ambon - banda Neira dari catatan ini. Enjoy...
PENGANTAR
Suatu hari dibulan Maret 2006 tatkala itu kami para Batmus yang berjumlah 90orang tengah pengadakan PTD ke Makassar dan Tana Toraja. Beberapa pentolan Batmus mengadakan diskusi yang pada waktu itu kami anggap sebagai bahan obrolan ringan dan nyaris tidak serius. Adep sebagai komandan Batmus melempar ide untuk mengadakan PTD yang waktu itu dianggap impossible, yaitu mengadakan PTD ke beberapa kawasan yang mempunyai potensi sejarah di daerah remote, Indonesia Timur antara lain ke Ambon/Banda Neira, Ternate/Tidore/ Morotai, bahkan Papua. Kami melamunkan sebagai PTD impian karena kami belum mempunyai data-data yang lengkap tentang tempat-tempat bersejarah yang menarik, membayangkan kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi seperti moda transportasi yang akan dipakai, baik darat, laut dan udara, juga akomodasi hotel, makanan serta berbagai
kendala teknis lainnya..
Adep berpikir PTD impian ini harus diwujudkan menjadi kenyataan. Diputuskanlah Adep bersama dengan beberapa anggota Batmus lainnya Irma, Wahyudi, Ella melakukan survey pendahuluan ke Ambon dan Banda Neira sealama 1 minggu di penghujung bulan Desember 2006. Hasilnya tidak tanggung-tanggung. Mereka membawa banyak oleh-oleh berupa foto-foto, video shooting, brosur-brosur, peta-peta serta beberapa informasi dari tangan pertama para nara sumber di Ambon dan Bandaneira.
Mewujudkan impian tersebut maka dimulailah perjalanan panjang untuk mempersiapkan PTD yang kami anggap penuh tantangan ini. Panitia pra acara yang terdiri dari Saya, Ibu Wisda dan Adep sibuk menjajaki akomodasi mulai dari meneliti maskapai dan jadwal penerbangan ke Ambon dan jadwal kapal Pelni dari Ambon ke Banda Neira pp, tiket pesawat, tiket Pelni, akomodasi hotel, transpot darat, restoran. Kami dalam kurun waktu hampir 6 bulan bolak balik ke kantor Lion Air di Jl. Sangaji, kantor pusat Pelni di Jalan Gajah Mada serta kantor perwakilan Pelni di Kemayoran. Demikian pula kami terus berkomunikasi dengan Pak Des Alwi, Mbak Tania, Dede di Banda, Mbak Alida Bahaweres, Ibu Ima dari Dinas Pariwisata Propinsi Maluku. Panitia benar-benar mendapat bantuan dan dukungan yang sangat berharga dari beliau tersebut.
AMBON BANDA NEIRA – Day 1
Jum'at 16 November 2007
Di markas Batmus didaerah Lebak Bulus panitia sibuk melakukan persiapan akhir. 60 orang Batmus yang ikut sebagai peserta. Tiket pesawat Lion Air, Tiket Pelni sudah kami kantongi, nametag dan spanduk telah disiapkan, hotel di Ambon dan Banda Neira sudah dibooking jauh hari sebelumnya. Malamnya Ninta salah satu panitialainnya datang dan menginap di markas dan ikut sibuk membantu persiapan akhir. Jam 03.00 subuh teng panitia sudah bergerak ke Airport Sukarno-Hatta. Di Airport sudah menunggu beberapa peserta antara lain mbak Tiwi, Galuh, Ibu Regia dan Myrna. Kemudian muncul serombongan peserta secara bersamaan yang merupakan peserta PTD luar kota pertama kali. Ada mbak Anna, Nadia, Yosi,
Novi, Vita, Ani dan Desi. Kemudian muncul mbak Ade Yulida, mbak Prim, ibu Djuliah serta mbak Sri, Indie dan ibu Nuraini, Ida, Iye, Evi, Nia, Nadrah, ibu Irma Tobing, Tina, Shinta, Dini Cepu, Diana, Endah, Elena dan Maria yang kesemuanya merupakan pengikut setia PTD sebelumnya. Seterusnya beberapa peserta lainnya muncul antara lain ibu Tungki Rusmin Nuryadin, ibu Rose Lintong, ibu Soeharti Susilo, ibu Mariah Woworuntu serta ibu Soerini Soedjarwo (semua istri mantan menteri dan pejabat di masa kejayaan soeharto), nah yang ini dikawal oleh bung Sandec Sahetapy, nyong Ambon manise dengan postur tubuhnya yang besar dan sangat mirip dengan Shaquille O'Neal dari NBA. Berkulit hitam, tinggi, rambut cepak, pakai tatoo dilengan, kalung besar dan anting. Kesan pertamanya seram banget. Belakangan diketahui Sandec ini berhati lembut dan banyak guyon. Muncul kemudian mas Gunawan, mbak Ingky, mbak Indra, mbak Anny, mas Wisjnu, mbak Meta, mas Erie Supit, Wiwit, Yunita Wulan dan mbak Ria Basuki, yang terakhir ini bawaannya rame. Menyusul yang datang belakangan ibu Grace, juga mbak Prima dan mas Adel Setiawan yang keduanya kru ANTV, kemudian ada Ivan Mangunsong, Moh. Afdol, mas Yudhi si guru Yoga. Terakhir yang muncul adalah Moh Reza alias Rere dari majalah Tempo. Di Ambon pada waktu yang hampir bersamaan bergabung mas Sjamsu Rahardja dan si bule Betsy yang berangkat dari Jakarta dengan
pesawat Batavia.
Pesawat Lion Air Buing 737 seri 400 yang kami tumpangi berangkat pukul 05.45 pagi, 15 menit agak molor dari jadwal. Penerbangan selama 3 jam dan 15 menit dari Jakarta menuju Ambon non-stop terasa sangat nyaman, tidak ada goncangan yang berarti. Terima kasih Lion Air. Para peserta duduk dengan tertib dan selama penerbangan ini tidak ada keberisikan diantara mereka. Mungkin karena sebagian besar dari peserta belum saling kenal atau sudah dibekali dengan minum jamu jaga sikap yang dibagikan oleh mbak Tiwi sebelum berangkat. Pukul 11.00 Wib pesawat mendarat dengan mulus di airport Pattimura yang dulunya bernama LAHA. Di airport sudah menunggu ibu Ima dan Jenni Da Costa yang centil dari Dinas Pariwisata dengan 3 bus (2 untuk penumpang, 1 untuk koper) dan 1 Xenia. Perjalanan ke Ambon dari airport ditempuh lebih kurang 45 menit menyusuri teluk Ambon yang amboi cantiknya dan sangat mempesona. Langsung makan siang di New Ratu Gurih. Selesai makan siang kami tidak langsung ke hotel akan tetapi langsung tancap ke
Museum Siwalima.
Museum Siwalima
Museum ini terletak di Jalan Dr. Malaiholo, taman Makmur daerah pantai Ambon. Memasuki komplek Museum dari arah selatan rombongan dihadang oleh tumbangnya pohon besar yang menutupi seluruh badan jalan. "Fear Factor" pertama yang kami hadapi. Pohon besar dengan dahan dan ranting-rantingnya menghalangi kami. Namun dengan menunduk, melompati dan bahkan dengan saling pegang para Batmuser berhasil juga sampai di depan museum. Namun sayangnya museum yang kami kunjungi dalam keadaan terkunci tanpa ada seorangpun petugasnya. Jenny sang pemandu mengarahkam kami untuk berbalik arah ke sisi lain untuk dapat masuk ke museum. Untunglah bapak-bapak dari Museum Siwalima masih menunggu kami. Museum ini sarat dengan koleksi budaya Maluku yang mengagumkan. Kami diajak melihat-lihat benda-benda peninggalan sejarah, rumah adat dan pakaian adat, koleksi kerajinan serta ragam kain yang berasal tidak hanya dari kapas tetapi juga dari serat sagu, kulit pohon melinjo, kulit pohon cidaku dan kulit pohon merong. Dapat disaksikan pula alat penyulingan tradisional untuk membuat minyak kayu putih. Dari museum ini kami menikmati panorama yang sangat indah sekitar kota Ambon. Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri pantai Ambon dan berhenti sebentar di pantai Hollywood (yes, di ambo nada pantai Hollywood nya). Puas berfoto ria plesiran dilanjutkan ke Pintu Kota.
Pintu Kota
Pintu kota sebenarnya merupakan suatu karang dipantai yang membentuk gapura diatas permukaan air. Terletak didesa Airlow dan desa Sri, pada waktu air pasang nyaris gapura ini tertutup air dan kemudian akan terbuka kembali bila pasang surut. Jangan mengharapkan dibalik pintu kota akan menemui kota Ambon akan tetapi hanya laut lepas. Dengan menuruni tangga para Batmuser sampai dipantai.
Sebagian Batmuser, terutama para banci foto Ninta, Evi, Prima, Adel,
Mirna, Endah, Indie , Rere dan lainnya langsung mendekat ke pintu kota dan mereka umumnya berhasil mengabadikan pemandangan pintu kota yang disore hari tersebut sangat mempesona dengan warna coklat kemerahan.
Sekitar magrib kami sampai di hotel Ambon Manise, disambut dengan welcome drink, suasana diantara peserta mulai sedikit mencair. Istirahat sebentar, mandi, sholat, tepat pukul 19.30 kami menuju restoran Semarang untuk menikmati makan malam dengan menu sate dan soto ayam yang nyam-nyam. Kembali ke hotel langsung semua peserta pada tepar, maklum berangkat dari Jakarta sejak pukul 03.00 subuh. Pintong (pindah tongkrongan sebagai menu wajib Batmus bila PTD ke daerah) yang tadinya dirancang untuk mencari pisang goreng yang terkenal itu terpaksa batal.
AMBON BANDA NEIRA – Day 2
Sabtu 17 November 2007
Sarapan pagi di resto Ambon Manise, semua peserta sudah rapi jali, dengan busana santai, dilengkapi dengan peralatan perang mereka (Camera, tripod dsb). Bus sudah menunggu kami dan tepat pukul 08.00 rombongan mulai bergerak. Pertama kali kami menuju Commenwealth War Cemetery.
Commenwealth War Cemetery
Lokasi ini merupakan komplek pemakaman lebih dari 2000 ex tentara Sekutu berkebangsaan Australia yang gugur di Ambon dan Maluku dalam pertempuran dengan balatentara Jepang pada waktu PD II yang lalu. Komplek pemakaman ini ditata sangat rapi, bersih, dibawah rindangnya pepohonan yang sangat besar dan tinggi. Dibangun dan didanai oleh pemerintah Australia untuk menghormati para
pahlawannya, terletak di daerah Tantui dan sangat dipelihara dengan baik. Tidak hanya serdadu Australia yang dimakamkan di tempat ini tapi merupakan gabungan pemakaman tentara Sekutu, karena disamping tentara Australia, juga ada dari Inggris, India, Canada, Belanda, Selandia Baru. Penataan makam sangat rapi, dengan pengelompokkan berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing tentara. Ada yang Kristen, Muslim dan Hindu. Ini terbaca dari batu nisan tiap makam, Misalnya terbaca kata Muhammad dengan huruf Arab. Persis ditengah komplek pemakaman terdapat monumen dan tugu salib yang dikanan kirinya merupakan area pemakaman tentara Inggeris dan Sekutu.
Puas berfoto kami mengalami "fear factor" kedua. Selagi para peserta asyik berpose dalam acara foto bersama dibawah pohon beringin besar yang sejuk, tiba-tiba datang angin yang sebenarnya tidak terlalu kencang. Namun cukup bagi para ulat bulu kecil-kecil untuk terjun payung yang menimpa sebagian dari kami. Dasar ibu-ibu dan para batmuswati, peristiwa ini sangat menggegerkan. Adep, Saya kebagian mendarat di tengkuk. Yang paling parah ibu Tungki yang kegatalan seluruh tubuh sehingga Ibu Rose dan Ninta bergerilya pada esok paginya mencari Johnson Baby Powder untuk menbantu mengurangi rasa gatal ibu Tungki. Melihat banyak juga para batmuser lain yang kebagian fear factor ini, Tiwi segera mengeluarkan cream pencegah gatal yang kebetulan telah dipersiapkan sejak dari Jakarta besertra obat-obtan lainnya. Terima kasih mbak Tiwi.
Kami mendapatkan tambahan dua mobil Kijang yang disumbangkan oleh rekannya Sandec di Ambon sehingga para Oma (demikian kami memanggil para peserta yang sudah berumur diatas 70 an) dipindahkan ke mobil Kijang tersebut dan membuat mereka agak lebih nyaman. Tujuan kami selanjutnya adalah Patung Christina Martha Tiahahu
Patung Christina Martha Tiahahu
Patung ini berdiri persis didepan rumah Wakil Gubernur Maluku. Lokasinya di Karang Panjang . Patung ini merupakan perwujudan seorang gadis yang dikenal sebagai Mutiara dari Nusalaut. Pada saat kami berkunjung, sedang ada renovasi untuk lebih mempercatik lingkungan sekitarnya. Terletak di ketinggian, pemandangan kota Ambon dibawahnya sangat indah dengan teluk Ambon yang juga mempesona. Menurut catatan sejarah, Christina ikut berjuang sejak masa remajanya bersama sang ayah Kapitan Paulus Tiahahu menentang penjajahan Belanda. Berjuang dalam setiap pertempuran melawan Belanda dengan ikat kepala merah di pulau Nusalaut dan pulau Saparua. Dalam suatu pertempuran sengit di Saparua, Belanda berhasil menangkap sang ayah Kapitan Paulus dan dihukum gantung. Christina tak ayal ditangkap pula dan diasingkan ke pulau Jawa dimana beliau meninggal pada usia yang sangat muda (17 tahun).
Dari lokasi patung Christina rombongan sedianya akan menmgunjungi benteng Victoria yang letaknya persis ditengah kota Ambon. Namun kami tidak dapat masuk karena tidak mendapatkan izin dari Kodam Pattimura yang menempati benteng tersebut sebagai markas Kodam. Kami meneruskan perjalanan ke Tugu Pattimura.
Patung Pattimura
Tugu Pattimura, terletak disudut lapangan Merdeka didepan kantor Gubernur Maluku. Kapten Pattimura dengan nama asli Thomas Matulessy adalah seorang putera dari desa Haria di pulau Saparua yang memberontak melawan Belanda pada tahun 1817. Tugu ini dibangun ditempat dimana ia dulunya dieksekusi. Patung Pattimura saat Batmus mengunjunginya juga sedang dalam renovasi sehingga kami hanya menikmati dari luar pagarnya saja. Sayang sekali. Sebagai seorang pahlawan, Pattimura memiliki sifat kesatria. Pattimura pula yang kemudian mengkoordinir raja-raja dan Patih dalam kegiatan memimpin masyarakat, menyediakan pendidikan untuk rakyat, dan tak lupa membangun benteng-benteng pertahanan untuk melawan Belanda. Dia juga menggalang kerja sama dengan banyak kerajaan disekitar Maluku termasuk kerajaan Ternate, Tidore, dan raja-raja Bali serta beberapa kerajaan di Jawa. Sempat beberapa kali mengalami kemenangan waktu bertempur melawan Belanda sehingga Belanda merobah taktik perang dengan taktik adu domba, tipu muslihat sehingga akhirnya Pattimura ditangkap dan digantung. Didekat lokasi patung Pattimura ini terletak benteng Victoria yang mempunyai nilai sejarah penting. Hanya sayang kami tidak dapat izin untuk melihat dari dekat benteng tersebut.
Setelah makan siang di restoran Dedes, rombongan kembali ke hotel sekitar pukul 13.30 WIT untuk berkemas menuju pelabuhan Yos Sudarso. Sebelumnya saya, Bu Wisda dan bu Ima menyelesaikan reconfirmasi tiket pulang dan sekalian city check in ke kantor perwakilan Lion Air. Menurut jadwal semula kapal Pelni Ciremai akan sampai dipebuhan Ambon pukul 14.00 dan akan berlayar ke Banda pukul
16.00. Namun berita yang kami terima dari administratur pelabuhan, kapal tersebut baru akan merapat pukul 20.00 dan berlayar lagi pukul 22.00.
Kapal Pelni Ciremai
Pukul 14.30 disore hari Sabtu 17 Nov 2007 rombongan check out dari hotel Ambon Manise. Kami memutuskan langsung saja ke pelabuhan Yos Sudarso yang jaraknya hanya sekitar 15 menit perjalanan dengan bus dari hotel. Kami dapati pintu masuk kelas 1 di terminal pelabuhan masih terkunci, mungkin karena kapal masih lama berlabuhnya, kami semua hanya bergerombol di depan pintu masuk terminal tersebut. Beberapa anggota Batmus dibawah koordinasi bung Sandec yang tentu saja para Oma, berinisiatif untuk berputar-putar ke beberapa toko souvenir. Kesempatan ini pula yang digunakan oleh beberapa anggota Batmus lainnya dibawah koordinasi Mas Gunawan yang jumlahnya memenuhi 1 bus yang masih setia menunggu kami. Dirombongan ini terlihat Shinta, Ingky, Ria, Ibu Anne, Ibu Irma, Afdol, Rere, mas Erie, mas Wisjnu, Anny, Iye, mbak Indra dan siapa lagi ya. Pokoknya penuh 1 bus. Setelah dapat izin dari bu Wisda dan Ninta dengan janji akankembali pukul 17.00, mereka tancap gas meninggalkan pelabuhan. Ternyata kemudian diketahui mereka dengan 2 rombongan tadi tidak hanya mutar-mutar cari belanjaan terutama mutiara dan pernik-pernik oleh-oleh Ambon, mereka nekat ke pantai Natsepa menikmati lezatnya rujak dan pisang goreng pantai Natsepa yang terkenal tersebut. Dasar tukang makan. Nanti sampai Jakarta beratnya nambah 3 kilo lho. Sekitar pukul 17.00 pintu terminal dibuka, ruangannya cukup luas dengan Ac yang lumayan dingin, para anggota Batmus yang tersisa cukup duduk-duduk, ngobrol, foto-foto. Terlihat Tiwi dipijat kepalanya oleh Nadrah dan diplototin oleh
Galuh.
Seorang berpakaian preman, masih muda dan mengaku petugas Intel mencurigai kami. Pasalnya penampilan Batmus terasa lain, rapi, necis, norak, educated dan semua menenteng camera. Beliau bertanya siapa pimpinan rombongan. Setelah menunjuk ibu Wisda sang intel menanyakan siapa kami, tujuan, dan pertanyaan standar lainnya. Jadilah bu Wisda ngoceh bahwa kami ini adalah komunitas anak muda pencinta sejarah yang bermaksud akan menikmati perjalanan ke Banda
Neira dst,dst. Ternyata kawan kita ini berasal dari Batak dengan marga Sembiring. Akhirnya dikenalin dengan Ninta yang Sebayang. Akrablah mereka, ngobrol ngalor ngidul. Adegan berakhir damai. Penantian yang sangat lama dan membosankan. Ani dan Yosi masih sibuk foto-foto. Kami pasrah, mau apa lagi.
Dari kejauhan diteluk Ambon sekitar pukul 18.00 kapal Ciremai yang kami tunggu tunggu muncul. Suasana pelabuhan bak pasar malam. Yang datang, yang pergi, para penjemput dan pengantar, para pedagang dadakan berbaur menjadi satu dengan hiruk pikuk dan lalu lalangnya para porter yang mengangkut barang para penumpang. Kapal ini berukuran besar, spesial untuk angkutan penumpang dengan kapasitas angkut lebih dari 2000 penumpang., Berlayar dari Jakarta dengan rute Jakarta-Surabaya- Makassar- Bau-Bau-Ambon- Banda-Tual-Sorong dan kembali dengan rute yang sama. Panitia telah mempersiapkan tiket kapal ini dari Jakarta jauh hari sebelumnya dengan perjuangan dan waktu yang panjang dan melelahkan. Bolak-balik ke perwakilan Pelni di daerah Kemayoran, ke kantor pusatnya di Jalan Gajah Mada. Ketemu para pimpinan Pelni, kami juga mempersiapkan surat permohonan untuk mendapat tiket kelas 1 dan tentu saja permintaan diskon untuk rombongan. Negosiasi berjalan alot. Hal ini disebabkan karena menurut pihak Pelni, kami seyogianya membeli tiket di Ambon. Kalau kami membeli di Jakarta berarti mengambil jatah penumpang dari Indonesia Timur. Pada akhirnya kami berhasil juga mendapatkan tiket kelas 1 sebanyak 10 kamar dengan isi 2 orang sekamar dan 10 tiket kelas 2 dengan isi 4 orang sekamar.
Pukul 22.00 tepat kapal mulai bergerak meninggalkan Ambon. Berlayar selama 7 jam, pukul 05.00 pagi di hari Minggu 18 Nop 2007, kapal merapat di dermaga Banda. Woow senangnya, kami sekarang sudah di Banda Neira. Impian kami jadi kenyataan. Di atas kapal para Batmus yang pada umumnya baru pertama kalinya seumur hidup naik kapal besar, langsung tidur dan sebagian lagi anggota yang muda-muda naik ke cafe, makan-minum sambil mendengarkan musik karaoke dengan lagu-lagu Maluku masa kini yang bernada riang dan gembira. Kami para penumpang kelas 1 dan kelas dua yang sedianya mendapat jatah makan malam ternyata tidak kebagian karena keterlambatan tibanya kapal di Ambon. Di café para Batmus menyantap menu khas. apalagi kalau bukan Mie Gelas, namun mereka sangat menikmati karena makan sambil berlayar.
AMBON BANDA NEIRA – Day 3
Minggu 18 November 2007
Pukul 05.00 pagi kapal merapat ke dermaga Banda. Hotel Maulana tempat kami menginap hanya berjarak 100 meter dari dermaga. Sebuah hotel yang mempesona karena berlokasi dibibir laut dan menghadap ke pulau gunung Api dengan teluk Banda yang sangat tenang. Kami disambut oleh Mas Dede dan pak Fauzan yang menyediakan sarapan nasi Kuning komplit ala Banda yang rasanya sungguh lezat dan gorengan singkong dan pisang yang anget. Hampir semua kamar hotel dipenuhi para Batmus. Hotel yang dimiliki Bapak Des Alwi, sesepuh masyarakat Banda dan merupakan anak angkat Bung Hatta dan Bung Sjahrir ini, banyak dikunjungi oleh pelancong dari Belanda, Amerika, Inggeris. Pernah diinapi oleh Putri Diana, Sarah Ferguson, Mick Jagger dan banyak selebriti dunia lainnya, kali ini diinapi oleh para selebriti dari Batmus.
Kepulauan Banda sebenarnya tidak asing lagi terutama bagi mereka yang memiliki hobi diving dan snorkling. Disamping taman laut yang sangat indah, Banda juga memiliki wisata darat yang tak kalah menakjubkan. terutama tempat-tempat sejarah. Berbagai bangunan tua peninggalan penjajahan Belanda dan Portugis masih terawat dengan baik.
Menjusuri jalanan di Banda Neira, seolah-olah kita kembali dibawa ke awal tahun 1900-an.. Jalanan di Banda relatif sempit dan sepi dari lalu lalang kendaraan roda 4. Sempitnya jalanan kota yang lebarnya hanya 4 meter ditambah teduhnya pepohonan besar di beberapa bagian jalan membuat kota kecil yang asri diawal abad XX masih terasa. Lokasi kunjungan kami dihari pertama di Banda adalah pulau Lonthoir.
Pulau Lonthoir
Dengan menggunakan kostum seragam yang dirancang dan dipersiapkan secara khusus oleh juragan Batmus, para peserta siap-siap mengadakan plesiran pertama. Kami menuju pulau Lonthoir. 3 buah boat terbuka sudah disiapkan oleh pihak hotel dengan kapasitas 20 orang setiap boatnya dan dipandu oleh apak Abdurahman Ali. Mirip manusia perahu Vietnam para Batmus dengan antusiasnya berlayar sekitar 45 menit ke pulau Lonthoir diselingi ombak laut yang sedikit tinggi sehingga para penumpang serasa dipermainkan ombak.
Udara pagi yang mulai panas tapi diiringi angin yang cukup kencang menerpa kami dan tidak membuat kami takut, malah sangat menikmati. Para Oma yang kami agak kuatirkan karena berusia cukup lanjut, selama pelayaran yang spektakuler ini juga sangat menikmatinya. Ini terlihat dari semangat dan wajah-wajah ceriah mereka.
Merapat di dermaga kecil pulau Lonthoir yang juga biasa disebut pulau Banda Besar kami mengalami "Fear Factor" ke 3. Dermaga yang agak tinggi dari boat kami yang merapat memerlukan perjuangan untuk dapat naik ke darmaga, dimana dua orang peserta yang sudah naik terlebih dahulu menjulurkan tangan untuk menarik tangan peserta yang akan naik. Kalau terpeleset bisa jatuh ke laut. Pulau Lonthoir ini adalah pulau yang dipenuhi oleh tumbuhan pohon pala. Penduduknya sangat ramah. Rombongan mendapat tantangan pertama dengan menaiki tangga sebanyak 360 anak tangga yang bersih dan rapih menuju sebuah benteng kuno yaitu benteng Hollandia yang dibangun pada tahun 1724. Benteng ini menghadap ketempat kediaman Gubernur Jenderal VOC di Neira. Dari lokasi benteng ini dapat disaksikan pemandangan yang indah ke selat Jonnegat dan benteng Belgica yang terletak di ketinggian dibukit Tabaleku di pulau Neira.
Tidak jauh dari benteng Hollandia rombongan Batmus mengunjungi satu lokasi kuburan kuno yang masih terawat baik yaitu kuburan nona Lantzius. Nona Lantzius adalah anak dari perkenier yang bernama Lantzius, dilahirkan di Neira pada tanggal 26 April 1847. Dari prasasti disamping kuburnya tertulis dengan bahasa Belanda yang terjemahannya adalah bahwa nona tsb dilahirkan 26 April 1847 dan meninggal 29 Juni 1887 di Gravenhage Belanda. Kuburannya di Belanda dibongkar kembali dan dibawa ke Lonthoir dimana dia dilahirkan dan dibesarkan.
Rombongan Batmus kemudian mengunjungi Perigi Keramat. Perigi ini dianggap keramat oleh penduduk kepulauan Banda. Terletak diatas bukit kira-kira 90 meter diatas permukaan laut dan kedalaman periginya 7 meter. Setelah menuruni setengah jumlah anak tangga dari benteng Hollandia, belok ke kiri rombongan sampai diperigi keramat ini. Uniknya perigi yang berumur ratusan tahun ini mengeluarkan mata air bersih yang bisa langsung diminum tanpa dimasak. Pada waktu-waktu tertentu diadakan upacara adat untuk mencuci perigi ini.
Terakhir perigi dicuci pada tahun 1989. Upacara cuci perigi ini adalah untuk memperingati kematian 33 orang imam. Konon pada suatu hari penduduk desa Lonthoir mengadakan pertemuan dengan orang Belanda sambil bercanda. Penduduk menyuguhi minuman arak sehingga orang-orang Belanda tersebut pada mabuk. Penduduk membawa Belanda tersebut keatas karang terjal dan melemparnya ke laut. Setelah Belanda mendengar berita tersebut, mereka menjadi marah dan menangkap 33 imam serta dibuang ke dalam perigi. Sejak itulah perigi tsb disebut perigi keramat. Selesai menjelajah pulau Lonthoir, kami kembali menaiki boat menuju pulau Sjahrir yang jaraknya kira-kira 30 menit berlayar dari pulau Lonthoir.
Pulau Sjahrir
Dipulau ini boat kami mendarat di satu lokasi yang dipilih untuk berenang, snorkling dan diving. Boat kami berhenti kira-kira 20 meter dari bibir pantai dan tidak dapat mendarat langsung di pantai karena banyaknya karang. Untuk menuju pantai seorang awak boat berinisiatif memanggil perahu nelayan yang sedang mencari ikan.
Perahu kecil tersebut merapat ke boat. Sebagian Batmuswan dan Batmuswati memilih berenang dan snorkeling. Waktu menunjukkan sudah pukul 2 siang ternyata perut sudah keroncongan, dengan berat hati para penikmat renang kembali menaiki boat dan berlayar kembali ke hotel. Dalam perjalanan kembali ke hotel ini boat kami tidak berlayar beriringan. Satu boat yang banyak ditumpangi para Oma berlayar menjauh dari 2 boat lainnya. Ternyata mereka menikmati peristiwa yang tidak dialami oleh 2 penumpang boat lainnya, yaitu mereka diiringi oleh sekelompak lumba-luma yang lucu dan saling berlompatan ke udara. Sungguh pengalaman yang sangat menakjubkan.
Kembali ke hotel dari pulau Lonthoir dan pulau Sjahrir, makan siang sudah tersedia. Wuih makanan serba ikan. Ada yang dibakar, di goreng, disop dan ditumis, disertai oseng-oseng bunga pepaya dan sayur daun singkong khas Banda. Sungguh lezat, apalagi para Batmus lagi lapar-laparnya, rame-rame, maklum sudah pukul 3 siang.
Istirahat, sholat dan menjelang pukul 4 sore, para Batmus sudah siap-
siap lagi untuk menjelajahi lokasi yang kali ini berada di pulau
Banda Neira.
Pulau Banda Neira
Sore itu sangat cerah. Lokasi yang dikunjungi tidak begitu jauh dari hotel. Banyak peninggalan- peninggalan sejarah yang sangat asyik dikunjungi. Sebuah Jip Phanter tahun 90-an milik hotel digunakan oleh para oma dan Batmus yang lain pada jalan kaki. Lokasi-lokasi ini antara satu dan yang lainnya tidak begitu jauh. Hanya berjarak antara 10 sampai 200 meter. Banyak terdapat rumah peninggalan para pejuang kemerdekaan yang diasingkan Belanda ke Banda Neira antara lain rumah Bung Sjahrir, Bung Hatta, Dr. Cipto Mangunkusumo, Mr Iwa Kusumasumantri. Pertama kali kami kunjungi mesjid tua, kemudian rumah Captain Cole dan didepannya rumah Sutan Sjahrir.
Di rumah Sjahrir banyak di pajang foto-foto tua menggambarkan perjalanan perjuangan Sutan Sjahrir menjelang dan sesudah zaman kemerdekaan. Terlihat gramofon kuno, perabotan rumah tangga, peralatan kerja yang masih terawat dengan baik. Tidak jauh dari rumah Sjahrir kami melewati benteng Nassau yang menjadi saksi bisu pembantaian 44 orang kaya Banda pada tahun 1621 oleh JP Coen.
Berikutnya dikunjungi Istana Mini yang mirip dengan istana Presiden di Jakarta dimana pada abat ke 18 dijadikan tempat tinggal dan kantor gubernur VOC. Gedung ini masih megah berdiri, akan tetapi sekarang dibiarkan kosong. Ada bekas lubang tembakan meriam didinding istana dengan radius dan kedalaman puluhan sentimeter yang dibiarkan apa adanya karena konon sudah berkali-kali dicoba ditutup semen akan tetapi lobang tembakan tsb tetap tidak bisa ditutupi.
Selanjutnya kami bergerak ke rumah Bung Hatta yang telah dipugar pada tahun 1981. Bung Hatta oleh Belanda dibuang ke Banda Neira pada tahun 1938–1942. Dirumah ini dipajang benda-benda yang pernah digunakan Bung Hatta seperti pakaian, kopiah, kacamata, mesin ketik kuno hingga perlengkapan rumah tangga seperti kursi tamu, lemari pakaian dan tempat tidur. Foto-foto Bung Hatta dan keluarga juga terpampang rapi disetiap ruangan. Pada bagian belakang rumah terdapat bangku-bangku sekolah yang digunakan Bung Hatta untuk mengajari anak-anak Banda dalam hal tulis menulis, membaca, aritmatika dan bahasa Inggris. Didekat lokasi bangku sekolah terdapat sebuah gentong besar yang digunakan Bung Hatta untuk menampung air hujan sebagai sumber air minum.
Bangunan bersejarah lainnya yang dikunjungi Batmus di Banda Neira adalah Benteng Belgica. Benteng ini berbentuk segi lima. Sering disebut benteng Pentagon, dibangun diperbukitan disebelah barat daya pulau Neira. Pada setiap sisi benteng terdapat sebuah menara. Untuk menuju puncak menara tersedia tangga dengan posisi nyaris tegak dan lubang keluar yang sempit. Para Batmus sempat ngos-ngosan mencapai lantai atas benteng karena sebelum masuk benteng kami sudah menaiki anak tangga yang cukup banyak. Dari puncak menara ini para Batmuser sibuk mengambil foto-foto, dengan obyek panorama sebagian daerahkepulauan Banda, mulai dari birunya perairan teluk Banda, puncak gunung api yang menjulang, sampai rimbunnya pohon pala dipulau Banda Besar. Yang tak kalah menariknya adalah arahan camera para Batmus ke arah pulau gunung api untuk merekam Sunset. Sangat indah dan sungguh menakjubkan
Benteng Belgica merupakan benteng peninggalan Portugis yang dibangun tahun 1602-1611. Dibagian tengah benteng terdapat sebuah ruang terbuka luas untuk para tahanan. Ditengah ruang terbuka tsb terdapat dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan benteng Nassau yang berada ditepi pantai. Hari semakin sore kami kembali ke hotel dengan terlebih dahulu mampir ke tempat penangkaran ikan Hiu di kolam di bibir pantai tak jauh dari Laguna Inn atau kira-kira 150 meter dari hotel Maulana. Kolam ini berukuran 20x20 m dan kami melihat 4 ekor hiu berukuran panjang sekitar 2 meter dan juga ikan kerapu yang cantik.
Kembali ke hotel, sehabis sholat magrib para Batmus duduk santai sambil ngobrolin pengalaman masing-masing dihari pertama di Banda Neira di pelataran hotel yang disulap menjadi café sambil menikmati kopi, teh dan makanan kecil. Suatu kejutan diciptakan oleh beberapa peserta antara lain Sandec dan Ria. Sandec mendekati Rere yang sedang asyik baca buku dan mengenakan topi kesayangannya. Sandec meminjam topinya si Rere dan mencoba memakainya. Pada waktu yang bersamaan … plok, plok, plok. Tiga butir telur ayam mentah mendarat di kepalanya Rere. Belum sempat Rere bereaksi dan dengan berlepotan telor, semua anggota Batmus berdiri dan menyanyikan Happy Birthday untuk Rere. Ternyata Rere hari itu ulang tahun yang ke 27. Saya atas nama sesepuh Batmus memberikan sedikit kata sambutan. Selamat ya Re dan kami berbaris untuk mengucapkan selamat ulang tahun serta bersalaman dengan Rere, tidak ketinggalan pihak hotel juga menyediakan kue ulang tahun untuk Rere. Tidak jadi marah, malah sangat haru atas surprise yang dialami Rere.
Makan malam dengan menu spesial Banda, ikan lagi, ikan lagi. Tapi kami tidak kapok karena lezat. Ngopi, ngebir, guyon, canda, karaoke dan keakraban yang telah mengental diantara Batmuser, terjalin dengan cepat. Kami semuanya sepertinya sudah kenal lama sekali. Itulah Sahabat Museum.
Diiringi organ tunggal, Rere yang kemudian sudah rapi kembali, ikut menyumbang lagu disusul oleh Tina yang menyumbangkan sebuah lagu. Demikian pula sebuah lagu disumbang oleh Oma Soeharti dengan lagu yang sangat beken pada masa tempo doeloe, "Potong Bebek Angsa". Sunggguh meriah dan kami semua ikut
menyanyi.
AMBON BANDA NEIRA – Day 4
Senin19 November 2007
Bangun pukul 05.00 subuh beberapa Batmus melakukan senam Yoga di pelataran dermaga pelabuhan. Ada Betsy, Nia, Yosi, Novi, Ria, Nadia, Saya, Ninta, ibu Nur. Instrukturnya siapa lagi kalau bukan mas Yudhi si guru Yoga. Semua peserta yang ikut senam Yoga ini adalah para pemula. Agak berat memang pada awalnya dan lama kelamaan menjadi lebih mengasyikkan. Kelak kemudian hari kami bersepakat untuk melanjutkan latihan Yoga ini secara rutin. Selesaisarapan, sekitar pukul 09.00 pagi hari itu para Batmus sudah bersiap melakukan tour hari ke 2. Kali ini kami berlayar ke pulau Ay.
Pulau Ay
Pulau Ay terletak sekitar 6 mil dari sebelah barat pulau Gunung Api atau kira-kira 60 menit berlayar dari hotel Maulana. Boat kami menepi didekat pantai pulau tsb karena air sedang pasang surut, kami tidak dapat turun di darmaga. Di Pulau Ay ini kami mengunjungi benteng Revenge yang dibangun pada tahun 1616. Selain
berfungsi sebagai benteng pertahanan, benteng ini juga berfungsi sebagai menara pengintai. Apabila ada kapal terlihat maka mereka akan menembak dengan meriam satu kali sebagai tanda. Pada sisi barat pulau terdapat bangunan Perk Welvaren yang menurut bu Rose berarti Welfare. Gerbangnya masih kokoh berdiri dan menurut penduduk disana pada masa lalu tempat ini berfungsi sebagai tempat pengumpul rempah-rempah terutama pala. Pulau ini termasuk pulau penghasil pala terbesar sesudah pulau Lonthoir. Batmus sempat mengitari perkebunan pala berusia muda, kira-kira berumur 10 tahun dan sudah mulai berbuah. Pemandu kami pak Abdulrahman juga mengajak kami melihat pohon pala tinggi besar yang berumur sekitar 200 tahun.
Istirahat sejenak rombongan yang semula berpencar di tiga jurusan di pulau Ay, menikmati minuman air kelapa muda, singkong dan pisang goreng di rumah salah seorang penduduk. Kami tidak membayar apa-apa atas suguhan penyejuk dahagaini. Kata pak Rahman ini adalah termasuk pelayanan hotel Maulana. Terima kasih pak Dede.
Kesempatan Batmus beristirahat dimanfaatkan oleh penduduk sekitarnya untuk menjual biji kenari, dan fuli (lapisan pengikat biji pala berwarna merah). Banyak peserta memborong kenari yang harganya Rp 40.000 perkilonya, dan fuli yang berharga Rp 50.000 perkilo sehingga penduduk kehabisan stok. Oh ya biji kenari ini adalah bahan campuran kue yang rasanya enak sekali dan fuli katanya digunakan untuk campuran sop.
Selanjutnya rombongan Batmus bergerak ke sisi lain dari Pulau Ay ini, dimana terdapat pantai yang indah berpasir putih. Saya yang pertama kali turun ke perahu yang dipegangi oleh tukang perahu. Kemudian ibu Wisda juga turun ke perahu. Akan tetapi karena tidak dapat menjaga keseimbangan, perahu menjadi terbalik dan saya dan bu Wisda alias istri saya yang juga mama nya adep sempat kecebur sampai batas leher. Untung masih sempat bergelantungan di boat dan di tolong naik kembali ke boat. Sudah kepalang basah walaupun berpakaian lengkap karena tidak sempat membawa pakaian renang, Bu Wisda yang pada masa remajanya pandai berenang, akhirnya ikut berenang dengan jilbab masih menempel di kepala.
Tidak semua Batmus terjun kelaut untuk berenang, yang lainnya sibuk foto-foto dari atas boat. Namun bagi Gunawan, Shinta, Myrna, Tiwi, Indra, Ingky, Oma Maria, Nadia, Anna, ibu Anne, Betsy, Ivan, Yosi, Ria, Meta, Rere dan banyak lagi, kesempatan ini tidak disia-siakan. Dengan air yang bersih, sejuk dan direkam pula oleh Bung Erie Supit mereka berenang hampir selama 1 jam.
Menjelang siang kami kembali ke boat dan berlayar pulang ke hotel. Terik matahari tanpa disertai angin seperti kemaren mulai membakar kulit. Lotion dan Sun bathing pun perlu berkali-kali sigosokin ke kulit agar tidak menjadi gosong.
Setelah makan siang dan sholat lohor kebanyakan Batmus hanya beristirahat di tembok tepi pantai didepan hotel. Hanya 1 boat yang masih nekat kembali mengelilingi pulau. Rencana mereka ke pulau Run. Namum batal dan hanya berkeliling dibeberapa pulau kecil.. Sore hari kami menyaksikan dua orang Batmus yaitu Betsy dan Ibu Anne yang telah siap dengan pakaian diving mereka, terjun kelaut dengan dipandu seorang Dive Master dari Hotel Maulana. Luar biasa mereka berada kira-kira 30 menit didasar laut Banda menikmati terumbu karang. Rere dan Mbak Anna mencoba belajar naik perahu dayung sendirian di teluk depan hotel.
Malam hari setelah makan malam acara diisi dengan tari-tarian khas Banda oleh serombongan penari-penari gadis remaja Banda yang diiringi oleh tetabuhan dan gamelan seadanya. Para Batmus sibuk merekam acara tarian tersebut dan Sandec sibuk mengedarkan saweran ke Batmus untuk disumbangkan pada penari. Acara dilanjutkan dengan menyanyi bersama dengan diiringi karaoke melantunkan lagu populer Ambon, Manise-Manise.
AMBON BANDA NEIRA – Day 5
Selasa 20 November 2007
Sesuai dengan itinerary yang telah diedarkan kesemua peserta, pada pukul 05.00 pagi sebanyak 20 anggota Batmus sudah bersiap-siap mendaki gunung Api dengan harapan akan menyaksikan dan mengabadikan sunrise.
Gunung Api
Gunung Api ini tingginya 666 meter dari permukaan laut terletak di pulau gunung Api yang berlokasi di seberang hotel Maulana tempat kami menginap, yang bayang-bayangnya seakan selalu menaungi pelabuhan Banda Neira. Gunung Api Banda merupakan jalur gunung api aktif yang pernah meletus di tahun 1614, 1720, 1810,
1891.
Letusan besar terakhir yang pernah terjadi adalah pada tanggal 8 Mei 1988. Batmus pada malam hari sebelumnya menonton film yang berdurasi 30 menit tentang letusan gunung tersebut. Sungguh sangat dahsyat dan mengerikan. Menghamburkan lava, batu pijar, awan panas, sehingga hampir seluruh penduduk Banda diungsikan ke Ambon. Pulau-pulau disekitar kepulauan Banda ditutupi abu vulkanis yang sangat tebal. Tidak ada kehidupan selama berminggu-minggu di kepulauan Banda.
Dengan di pandu oleh 2 orang guide dari hotel, Pak Rahman dan Edi, mereka yang ikut mendaki adalah: Nadrah, Myrna, Indie, Endah, bu Nur, bu Irma, Yosi, Rere, Sjamsu, Adep, Afdol, bu Grace, Shinta, Ivan, Evi, Novi, Ani, Tina, Nia, dan Wiwit, langsung menaiki boat menyeberang selama 5 menit dari hotel ke kaki gunung di pulau gunung Api. Jalur pendakian memang tidak bisa dibilang mudah tapi juga tidak terlalu berat. Mendaki sampai pos 1 beberapa Batmus menyerah. Indie sampai sepatunya robek, ada yang kakinya lecet menginjak karang yang tajam. Hanya 3 orang yang berhasil sampai ke puncak gunung yaitu, yang pertama: Sjamsu, lalu Afdol dan terakhir Adep. Dalam perjalanan turun gunung beberapa Batmus malah turun dengan plosotan secara bergantian. Ini karena licinnya medan. Hampir pukul 11.00 mereka sudah kembali dengan selamat di hotel dengan bercucuran keringat karena panasnya terik matahari. Kesan mereka yang ikut pendakian sangat senang dan happy. Kapan lagi mendaki gunung, di Banda lagi.
Sebagian Batmus yang tidak ikut mendaki memanfaatkan waktu untuk hunting foto sendiri. Ada yang ke airport Banda, (Prim, Ade, Ani dan yang lain), Ada yang menyusuri Gua Menangis (Ria, mas Wisjnu dan Meta). Dengan hebohnya Ria bercerita tentang gua menangis tersebut. Konon menurut cerita penduduk setempat, orang-orang Belanda mencari-cari penduduk yang dianggap memberontak pada Belanda. Didekat gua si Belanda mendengar tangisan bayi. Ternyata tangisan tersebut berasal dari gua tadi. Belanda memasuki gua dan terjadilah pembunuhan yang sadis atas penduduk Banda yang bersembunyi di gua tersebut. Sampai sekarang menurut penduduk masih sering kedengaran suara tangis bayi dari gua tersebut. Sebagian Batmus lainnya menyasar pasar kaget mencari oleh-oleh khas Banda seperi manisan pala, kue kenari, Cakalang bakar, selai pala dan lainnya. Pasar kaget di Banda terjadi pada waktu kapal Pelni merapat saja, berlokasi disekitar pelabuhan, sama halnya dengan pasar kaget yang terdapat di pelabuhan Yos Sudarso Ambon.
Makan siang kami yang terakhir masih disuguhi dengan menu ikan berukuran besar yang di goreng dan dipanggang dan aneka sayuran. Pukul 5 sorenya kapal Ciremai yang akan kami tumpangi sudah muncul kembali di pelabuhan Banda yang datang dari Tual. Kami bersiap-siap, berpamitan dengan Raymon sang putra dari Bapak Des Alwi, Mas Dede, pak Fauzan dan seluruh kru dari hotel Maulana . Juga tak lupa berpamitan dengan pak Abdulrahman dan para pemandu lainnya yang membantu kami selama di Banda. Takut tidak kebagian makan malam di kapal Ciremai seperti pelayaran kami dari Ambon ke Banda, pihak hotel membekali kami dengan nasi kotak untuk rombongan. Eh ternyata pada pukul 8 malam diumumkan waktu makan malam di cafenya kapal Ciremai. Jadilah kami makan 2 kali malam itu.
Terima kasih banyak teman-teman, semoga kami kembali lagi suatu saat nantinya. Perjalanan ke Ambon memakan waktu 7 jam, sama seperti kami dari Ambon ke Banda. Berangkat jam 7 malam, kami berlabuh di Ambon pada pukul 2 dini hari pada keesokan harinya, Di pelabuhan sudah menunggu Bu Ima dengan 3 bus yang membawa kami ke hotel Ambon Manise.
AMBON BANDA NEIRA – Day 6
Rabu 21 November 2007
Setelah 3 jam terlelap di hotel karena kelelahan, ternyata pagi harinya para Batmus sudah stand by lagi di loby hotel. Aneh memang, tidak ada yang sakit. ibu Djuliah dan oma Tungki serta oma Surini Sudjarwo yang kami tanyai tentang kesehatan mereka, mengaku fine-fine saja dan siap tour lagi di hari terakhir di kota Ambon.
Selesai sarapan pagi, para Batmus sudah siap untuk plesiran berikutnya. Ibu Ima dan Jenni pun sudah siap dengan bus yang akan kami gunakan mengunjungi obyek berikutnya. 2 bus yang membawa rombongan Batmus pada pukul 09.30 mulai bergerak. Kali ini tujuan Batmus adalah mengunjung mesjid tua Wapaue di Kaitetu. Saya, Bu Wisda dan Bu Ima memisahkan diri untuk mengurus city check-in serta mempersiapkan makan siang nasi kotak. Mesjid Tua Wapaue Kaitetu.
Hampir genap 6 abad masjid Wapaue berdiri di pulau Ambon. Pada waktu Batmus sampai di Kaitetu, masjid Wapaue masih berdiri kokoh. Berdinding pelepah sagu dan beratap rumbia masjid tersebut kelihatannya sangat terawat. Menurut imam masjid yang menceritakan riwayat masjid, dimana masjid bertarikh 1414 Masehi itu pertama kali didirikan dibukit Wawane. Masjid itu berukuran 10x10 meter persegi dengan belakangan ada penambahan serambi masjid berukuran 6,35x4,75 meter dan tempat wudu. Pada tahun 1614 masjid dipindahkan ke negeri Tahela untuk menghindari tekanan dari Belanda. Lokasi baru itu berada disekitar 6 km arah timur Wawane. Masjid ini didirikan disebuah dataran yang banyak ditumbuhi pohon mangga hutan atau mangga berabu (Wapaue) yang kemudian disebut sebagai Masjid Wapaue. Setelah perang Kapahaha (1634-1643) Belanda berhasil menguasai seluruh Tanah Hitu. Masyarakat yang tinggal digunung-gunung dipaksa turun ke pesisir untuk mempermudah pengawasan. Masjid Wapaue pun
kemudian dipindahkan ke lokasi sekarang (Kaitetu).
Masjid yang masih berdiri kokoh itu disangga tiang-tiang kayu yang tidak dipaku ke kerangka atap. Ikatan tiang dengan balok menggunakan pasak. Batmus melihat disudut timur dan barat atap terdapat ukiran kaligrafi berbunyi Allah-Muhammad. Dan didalam masjid masih tersimpan musyaf Al Quran yang ditulis pada tahun 1550.
Puas melihat-lihat masjid yang telah menjadi bangunan cagar budaya dan foto-foto di setiap sudut masjid, rombongan Batmus meluncur ke benteng Amsterdam di desa Hila.
Benteng Amsterdam
Benteng yang menghadap samudera dan dibangun pada tahun 1642 itu masih berdiri kokoh. Duhulu benteng ini berfungsi sebagai gudang senjata sekaligus sebagai tempat beristirahat para serdadu Belanda.
Pada awal tahun 1990-an benteng ini sempat dipugar dilengkapi dengan
lampu-lampu taman diwaktu malam serta kursi kayu sepanjang tembok benteng untuk menikmati panorama. Namun pada saat Batmus berkunjung keadaan benteng kelihatan kurang terawat, akan tetapi kemegahannya masih tersisa. Tidak lama di benteng ini dan jam telah menunjukkan pukul 13.00 Wit, dalam keadaan hujan yang mulai turun, bus kami mengarahkan plesiran ke pantai Natsepa.
Pantai Natsepa.
Hujan masih turun ketika Batmus memasuki areal pantai Natsepa. Segera rombongan Batmus menuju ke bangunan gedung serba guna milik Pemda untukmakan siang nasi kotak dengan air minum mineral. Pantai Natsepa merupakan tempat nongkrong paling top bagi masyarakat Ambon, terutama di hari Minggu dan hari-hari besar.
Batmuser tidak menyia-nyiakan mencicipi rujak Natsepa yang kesohor tersebut. Rujak Natsepa memang tak jauh beda dengan rujak pada umumnya yang berisi potongan mangga, ketimun, papaya, kedondong, belimbing dan nanas. Yang berbeda adalah bumbunya. Kalau rujak biasa bumbunya hanya ulekan gula merah, garam, air dan cabe, di Natsepa bumbu ini ditambahkan kacang tanah dan asam Jawa. Sedangkan airnya didapatkan dari potongan belimbing yang turut dihaluskan bersama bumbu lainnya. Selain rujak, di Natsepa bisa juga dinikmati sagu gula, dan pisang gorengnya yang memang luar biasa gurihnya, menggorengnya dengan menggunakan tungku kayu bakar. Istirahat sebentar atraksi yang ditunggu-tunggu sudah siap digelar atraksi Bambu Gila
Bambu Gila
Atraksi Bambu Gila merupakan suatu atraksi yang unik dan hampir unbelievable bila tidak menyaksikan langsung. Begitu Batmus mendekati pantai, gendang tifa sudah dimainkan sambil mempersiapkan acara. Tetabuhan tifa ini tak ayal menyebarkan kesan mistis. Permainan Bambu Gila ini dimainkan oleh 7 orang yang memakai celana merah, bertelanjang dada dan memakai ikat kepala yang juga merah serta tidak beralas kaki. Para pemain dituntut mempunyai stamina tangguh umtuk mengimbangi kekuatan mistis bambu tsb. Bilah bambu pun harus dipotong 7 ruas. Atraksi ini dimulai dengan pembacaan mantera oleh pawang dan kemudian pawang membakar kemenyan dicampur arang dan abu tungku didalam sebuah batok kelapa. Pawang selanjutnya meniup mantera dan asap kemenyan ke dalam selonsong bambu, sehingga bambu memiliki kekuatan. Terbukti saat membawa bambu tersebut, orang-orang bergerak mengikuti arah bambu yang telah memiliki kekuatan, sehingga reaksi dari bambu tersebut seperti bambu gila.
Saat bambu terisi kekuatan gaib, ia dapat bergerak sendiri. Terangkat tinggi, merendah ke pasir atau meluncur ke laut. Para pemain tak kuasa mengelak dan mengikuti gerakan bambu dengan sekuat tenaga. Menurut pawang, para pemain menyerahpun tidak mungkin karena lengan mereka seperti lengket pada bambu. Bambu baru berhenti saat batok kelapa dibanting dan ditelungkupkan di pasir oleh sang pawang Setelah permainan selesai sang pawang menawarkan Batmus untuk ikut mencoba bermain bambu gila tersebut. Mungkin karena sang pawang melihat keraguan kami atas atraksi tersebut, seakan-akan kami tidak percaya. Tantangan ini dismbut baik oleh Batmus. Rere, Afdol dan dua cewek Batmus yang centil yaitu Betsy dan Evi masuk ke arena setelah terlebih dahulu berganti pakaian dengan busana khusus bambu gila, celana pendek merah dan ikat kepala merah dan didampingi oleh 3 pemain lokal.
Ritual seperti tadi dimulai lagi oleh sang pawang. Selama beberapa menit pertama tak terjadi apa-apa. Hanya tifa yang ramai bersahutan, yang antara lain gongnya di mainkan oleh mas Gunawan. Namun tak lama, para pemain mulai bergerak, kedepan, kebelakang, dan sesekali terseok kekiri dan kekanan. Dan tiba-tiba
ke 7 pemain ini mulai tak terkontrol. Evi dan Betsy kelihatan sekali ngos-ngosan. Untunglah 15 menit kemudian sang pawang menghentikan atraksi tersebut dengan menelungkupkan batok kelapa ke pasir. Seru sekali. Aneh tapi nyata. Bambu benar-benar bergerak sendiri alias benar-benar gila. Hujan yang turun selama atraksi berlangsung tidak mengurangi keinginan kami menonton atraksi unik tersebut. Sebelum meninggalkan pantai Natsepa yang mempunyai kenangan tersendiri bagi kami, para Batmus tidak lupa mencicipi Es kelapa muda yang juga enak tenan.
Kembali ke hotel sudah menjelang sore dan beberapa anggota Batmus menyempatkan diri membeli oleh-oleh. Istirahat, mandi dan sholat dihotel sampai pukul 8 malam, kemudian para Batmus berangkat lagi untuk santap malam, lagi-lagi di Restoran Dedes. Kali ini atas permintaan Batmus menu yang dihidangkan adalah makanan khas Ambon. Terlihat sop ikan putih dan merah, ada papeda, makanan dari sagu yang bentuknya seperti lem yang merupakan makanan pokok penduduk Maluku, serta sayur-sayuran berkuah asam pedas. Cara menyantapnya juga unik. Dengan menggunakan gata-gata yakni sejenis garpu yang bercabang dua. Dua buah garpu ini diputar sedemikian rupa agar papeda melekat pada cabang-cabang garpu dan kemudian dihirup atau diceruput. Amboy asyiknya.
Diakhir acara makan malam diadakan Ice Breaking yang tertunda. Awalnya ice breaking akan dilakukan pada hari pertama di Ambon. Akan tetapi dengan padatnya acara terpaksa ditunda.
Perkenalan nama setiap peserta dengan menyebutkan profesi, berapa kali telah ikut PTD, dari siapa mendengar adanya PTD. Acara yang penuh keakraban, lucu-lucu informasi yang disampaikan setiap peserta, penuh tawa dan penuh cerita pengalaman selama 6 hari PTD di
Ambon dan Banda Neira ini.
AMBON BANDA NEIRA – Day 7
Kamis 22 November 2007
PENUTUP
Selesai sarapan, para Batmus sibuk mengemasi barang-barang bawaan mereka. Bu Ima ternyata tidak dapat datang melepas kami karena ada rapat pentingdikantornya. Diwakili oleh Jenny Da Costa tepat pukul 08.00 kami berpamitan dengan karyawan hotel Ambon Manise, naik bus dan berangkat langsung ke bandara Pattimura.
Udara yang cerah dan hati yang ceriah karena kami selama mengikuti PTD ini tidak menemui hambatan yang berarti, kami sampai di airport dan langsung memasuki waiting room setelah sebelumnya bagasi yang jumlahnya membengkak karena ditambah oleh-oleh selesai diurusin oleh seksi repot, Ninta. Di waiting room panitia membagikan angket untuk diisi peserta dengan maksud untuk mendapatkan feedback bagi perbaikan PTD mendatang.
Pesawat Lion Air berangkat tepat waktu. Seperti PTD sebelumnya, di pesawat terjadi kehebohan-kehebohan para peserta, jamu jaga sikap yang kembali dibagikan sudah tidak mempan meredam hebohnya Batmus, akan tetapi hal ini tidak mengganggu penumpang lainnya.
Blitz camera sering berkelebatan, beberapa Batmus mondar
mandir dan sebagian lagi tidur. Pesawat mendarat mulus di airport Sukarno-Hatta pada pukul 13.00 WIB. Kami telah kembali dengan selamat. Panitia Adep, Ninta, Bu Wisda dan Saya pribadi mengucapkan terima kasih pada peserta, kepada Ela, Irma dan mas bewoknya -Wahyudi, Oma Mariah Waworuntu, Mbak Tania Alwi, Pak Des Alwi, Mbak Alida Bahaweres, Ibu Ima Rahimah, Jenny Da Costa (Beyonce Ambon) dari Dinas Pariwisata Prop. Maluku, Mas Dede dan Fauzan beserta kru
dari hotel Maulana Banda Neira, para portir di kapal Pelni, staff Pelni di Kemayoran dan di Jl. Gajah Mada, ticketing Lion Air, juga kepada Bapak Stenley, Arthur, ibu Yaya, Iwan, Ferry beserta kru hotel Ambon Manise Ambon. dan kerbat-kerabat lain yang maaf jika terlewatkan namanya diucapkan disini, Mohon dimaafkan kalau ada kekurangan-kekurang an dan ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan peserta selama PTD yang penuh tantangan ini.
Beresin bagasi, kami berpamitan, bersalaman, dan cipika-cipiki sesama peserta.
…………………………. And see you in the next PTD ……………………………….
Jakarta, 10 Desember 2007
Laporan ini ditulis oleh Drs. Amran Rusid Mcom,
Ketua Yayasan Sahabat Museum
Referensi.
1. Des Alwi, "Sejarah Maluku" . Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon.
2. Majalah Tamasya, edisi Juli 2005.
3. Koran Kompas, April 2005
4. Brosur-brosur dari Dinas Pariwisata Maluku
__._,_.___