Liputan Plesiran Tempo Doeloe,
Semarang-Ambarawa 21-22-23 Mei 2005
Untuk yang belum tau, (penting emang untuk dikasih tau), gue baru aja nge-release liputan Plesiran Tempo Doeloe di milis nya Sahabat Museum, kumpulan pecinta sejarah, seni, budaya, heritage & bangunan2 tua, secara gue ini adalah moderator dan HuMas nya Sahabat Museum. Iseng aja gue posting disini, untuk menuh2in blog gue, hehehe
Liputan Plesiran Tempo Doeloe Semarang-Ambarawa 21-22-23 Mei 2005
By: Deedee Caniago, Sahabat Museum
It takes Only One Hour,
But the memory of your
railway mountain tour will last forever
Opening
Kegiatan Plesiran Tempo Doeloe (yang disingkat menjadi PTD) pada bulan Mei 2005 adalah PTD yang “paling” diantara semua PTD yang pernah kami adakan. Paling capek, paling ribet, paling seru, paling gila, paling menyenangkan, paling berkesan, dan ratusan paling paling lainnya karena pada bulan Mei ini kami mengadakan acara PTD tiga kali dalam satu bulan nya (baca : TIGA kali !!! pake tanda seru tiga), yaitu PTD Gambir – Ragusa pada tanggal 1 Mei 2005, PTD Istana Cipanas – Bogor pada tanggal 3 Mei 2005, dan PTD Semarang-Ambarawa pada tanggal 21-23 Mei 2005 yang baru saja kami laksanakan kemarin. Dikarenakan keterbatasan waktu, maka mohon maaf liputan PTD Gambir-Ragusa tidak kami turunkan, dan liputan PTD Istana sudah terwakilkan oleh liputan Meneer Berty di Suara Pembaruan, maka dengan senang hati saya persembahkan liputan Plesiran Tempo Doeloe Semarang-Ambarawa. Sit back, relax, and enjoy !!!
WARNING :
1.This special edition report’ size may excess more than 100KB, however has been approved by owner and chairman of Sahabat Museum
2.Jangan dibaca di kantor pada jam kantor karena liputan ini terdiri dari 20 halaman full page.
3.Mohon pengertiannya untuk tidak me reply atau me respond dengan obrolan2 atau kalimat2 yang OOT karena akan menyebabkan kembali ramai nya inbox yang menyebabkan junk mail bagi yang lain
Friday, 20 May 2005
the final preparation...
Jum’at malam (tenang, bukan Jum’at kliwon) , kami panitia dari Yayasan Sahabat Museum berkumpul di sekretariat SM untuk mengecek persiapan terakhir acara PTD Semarang-Ambarawa. Masing2 saya, Adep, Ibu Wisda dan Pak Amran memastikan bahwa kami sudah melakukan “check list things to do” kami dan menyelesaikan tugas2 kami sebelum keberangkatan.
Adep bertugas melakukan koordinasi terakhir dengan pihak Semarang (Agung, Pak Jongkie Tio), melakukan check akhir data2 peserta, mengirimkan itinerary dan final information ke peserta melalui email, serta check ulang bahwa semua izin izin untuk mengunjungi lokasi di Semarang telah di dapat.
Ibu Wisda dan Pak Amran sebagai bendahara & penanggung jawab Yayasan Sahabat Museum memonitor program, double check ticket KA, follow up ke asuransi keselamatan jiwa, menghitung budget extra dan budget tak terduga dan menyiapkan obat-obatan ringan P3K selama diperjalanan, juga memastikan agar semua stationaries termasuk kaos dan spanduk yang akan diperlukan selama acara sudah lengkap.
Sedangkan saya sendiri bertugas untuk menelpon dan mensosialisasikan ke seluruh peserta mengenai informasi yang Adep kirimkan ke peserta lewat email tersebut, mengingatkan peserta untuk melihat check list persiapan dan membawa barang-barang yang harus dibawa, juga mengingatkan peserta untuk membawa/mencatat semua nomer-nomer telepon penting yang bisa dihubungi baik di Jakarta maupun di Semarang, dan terakhir mengingatkan peserta agar tiba di Gambir on time jam 07.30 pagi. Selain itu saya juga melakukan konfirmasi akhir ke semua pihak, baik hotel, bus AC, restaurant2 tempat kami nanti akan bersantap sampai asuransi keselamatan peserta sudah terbayar semua. Oh ya, saya juga urus special request dari beberapa peserta untuk arrange penjemputan dari bandara dan pengantaran ke bandara bagi mereka yang naik pesawat terbang dan harus kembali ke Jakarta sebelum acara selesai dikarenakan tugas kantor yang tidak bisa ditinggalkan. 00.50 pagi..
Done. Everything is in order. Udah bisa tidur sekarang
Hari pertama,
Sabtu, 21 Mei 2005 the beginning...
Terbangun oleh suara alarm (yang sumpah kenceng banget bunyinya) pada pukul 04.30 subuh, saya sibuk mengecek barang2 yang akan dibawa untuk persiapan acara Plesiran Tempo Doeloe yang diadakan pada hari ini. Stationaries alias ATK (checked), megaphone (checked), name tag (ada sama Tiwi), spanduk (checked), kaos Spoor Djadoel (checked). Apalagi yah *mikir*. Hmmmm, mandi udah, gosok gigi udah, shalat subuh udah, dandan, pake lipstick and pake parfum andalan gue white musk nya bodyshop (bener, ini bukan iklan tapi emang wangi parfum ini TOB BGT looh). Ngaca bentar di kamar. Cantik (watch out baby, I’m narcist), hehehe. Kopor dan semua bawaan yang wajib dibawa untuk perjalanan luar kota kali ini sudah lengkap. Okeh semua nya udah beres. Lirik jam, 05.30 pagi, tinggal ngeberesin sarapan pagi untuk peserta, udah bisa brangkat ke Stasiun Gambir, tapi kok ada yang aneh ya ? Oh my God, gue baru sadar, TERNYATA ADEP BELOM BANGUN sodara2 !!! Buat yang belom tau, Adep and saya living together alias tinggal dalam satu rumah yang sama karena kami berdua memang kakak adik :-) Akhirnya kami semua gonjang ganjing bangunin Adep yang masih terlelap. Lalu kamipun bagi tugas. Saya memasukkan arem2 & risoles hangat ke dalam plastik, (untuk sarapan buat para peserta kali ini udah dipesen di tempatnya bu Waluyo tetangga komplek yang tinggal di RT 002, eh tunggu dulu, penting yah dijelasin secara detail dimana bu Waluyo tinggal ?). Anyhow, ketika waktu menunjukkan pukul 06.30, kami semua sudah siap dan meluncur ke stasiun Gambir tempat starting point acara PTD Semarang-Ambarawa.
...and the train goes...
Kereta Api menuju Semarang dijadwalkan berangkat pada pukul 09.00 pagi dan peserta diminta untuk berkumpul di Stasiun Kereta Api Gambir pada pukul 07.30 WIB - on time - untuk mendapatkan sekilas briefing mengenai rencana perjalanan ke semarang yang akan memakan waktu kurang lebih 6 jam ini. Setibanya kami di Gambir, maka mulailah kami menggelar tikar untuk meletakkan sarapan arem2 dan risoles dan menggelar spanduk PTD Semarang-Ambarwa disebuah spot di Gambir sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat sign kami. Ngak sia-sia membentang spanduk, karena gak lama kemudian kamipun mulai didatangi oleh para peserta yang rupanya sudah mencari-cari spanduk kami dari tadi.
Banyak peserta PTD kali ini adalah tampang2 “lama” alias peserta2 PTD setia kami yang sudah berkali2 mengikuti acara PTD dalam dan luar kota, sebagian lagi adalah peserta2 baru yang belum saling kenal, dan sebagian lain peserta adalah para anggota SM yang biasanya jadi volunteer, tapi kali ini memutuskan untuk menjadi peserta saja. Akan tetapi dasar anak2 SM, sekali volunteer, jiwa nya tetep aja volunteer. Biarpun katanya kali ini pengen jadi peserta doang, tapi mereka tetep aja gatel pengen bantu2. Ada yang bantuin megangin spanduk, ada yang bantuin ngabsen, ada yang bantuin ngebagiin name tag, ada yang bantuin ngebagiin sarapan, ada yang ngebantuin guntingin pita untuk di iket di tas2 bagasi, dan sebagainya. Dan semua nya itu tidak luput dari jepretan camera digital yang bersliweran tanpa hentinya dari satu moment ke moment lainnya, dasar banci tampil semuahnya! Masih pagi gitu loh!
Kemudian satu persatu peserta berkumpul hingga tepat pukul 08.15 pagi semua peserta (minus Ibu Woro yang belum datang karena goreng mpek2 dulu buat dimakan di kereta) tampak sudah berkumpul semua. Aura peserta wanita tampak sumringah bahagia karena ternyata pada PTD kali ini (AKHIRNYA) peserta cowoknya lumayan banyak. Ada Asmara (ini laki loh, bukan perempuan), ada Aryo, ada Pak Soewarno, ada mas Agni, ada Richard (suit suit), dan juga ada Victor (dengan camera nya yang segede gajah) yang semuanya terlihat cool and tenang (ceritanya ini kesan pertama pada awal acara-catet!). Pada pukul 08.30, saya dan Adep pun pun membuka acara. Dengan menyatukan seluruh peserta dalam bentuk lingkaran, dan dengan sedikit berteriak karena bersaing dengan suara petugas stasiun yang menggaung dengan megaphonenya, kami mengadakan briefing acara, dan membahas itinerary perjalanan hari per hari.
Pada pukul 08.45 kami berduyun-duyun naik ke lantai tiga dimana pada Spoor (peron) 1 kereta api yang menuju Semarang muncul dari kejauhan pada pukul 09.00 teng. Beberapa peserta tampak besorak sorai dan bertepuk tangan menyambut kedatangan kereta dan berebutan untuk naik dan meletakkan barang-barang bawaannya mereka (ternyata masih ada loh, peserta yang belum pernah naik kereta api). Panitia membooking satu buah gerbong yaitu gerbong 2 untuk seluruh peserta PTD, dan setibanya didalam kereta, peserta di absen kembali untuk make sure bahwa seluruh peserta PTD yang berjumlah 50 orang tidak ada yg ketinggalan. Pukul 09.40 kereta api mulai bergerak (telat banget, euy!), dan kamipun meluncur meninggalkan Jakarta. Seperti biasa, ketika awal perjalanan, peserta yang belum saling kenal saling berdiam diri dan tidak banyak cakap. Kami melewatkan jam2 yang berlalu dengan membaca novel, mendengarkan walkman, menonton film yang diputar di KA, dan setelah itu TIDUR ! Kemudian tidur sedikit di interrupt untuk makan siang, dan setelah itu kami kembali tidur.....
...and the journey begins..…
Lima belas menit menjelang pukul 16.00, peserta dibangunkan untuk siap-siap merapikan barang-barang bawaannya karena kereta sudah hampir mendekati Stasiun Tawang, Semarang. Setibanya di Semarang, kami disambut oleh panitia Sahabat Museum yang berdomilisi di Semarang, yaitu Agung, lalu ada juga Pak Amran dari Yayasan Sahabat Museum yang sudah tiba duluan karena terbang dengan pesawat, dan kami juga disambut oleh Bapak Jongkie Tio, legendaris Semaranger, pemilik restaurant Semarang & penulis buku Semarang tempo doeloe yang bertajuk: “Kota Semarang dalam Kenangan” Setelah peserta dibagi kedalam dua bus AC besar, peserta pun memindahkan barang-barang bawaannya dari kereta api ke bis.
Bis satu terdiri dari Adep (boss SM), Adel, Agung (panitia SM Semarang), Ami, Ani (temennya Galuh) and Galuh dari Erasmus Huis, Anne, Ibu Emmi dan Ibu Rose, Endang, Lena, Ikka (special request: huruf K nya ada dua) dan mamanya Ibu Lestari (yang ternyata penulis cerpen kondang V.Lestari yang membuat kami berharap akan dijadikan tokoh utama dalam novel terbarunya), Iye TPI, Maya jilbab funky, Ibu Nana dan Bapak Soewarno (yang gantiin anaknya, Evita), Nommy VietCong, Novi dan Vira, Rina (yang baru hamil, congrats yah Rin) dan Roni, Richard sang pengacara, Sita dan Diah (sista), Ninta & Tiwi (moderators & volunteer SM yang kali ini pengen jadi peserta doang), Ibu Woro, dan Pak Amran dari Yayasan Sahabat Museum.
Sedangkan bus dua berisi satu paket Ayu, Indie, Luci dan bing! (special request : huruf b nya kecil, pake tanda seru), Ela, Asmara (yang last minute dateng gantiin Arie dari Majalah Lisa), Alice dan Olive Carrefour, Yanthi dan Mama Aryati langganan PTD, Aryo dan Dwi (dari Sampoerna), Deedee sang primadona (saya! saya!), Ibu Djuliah, Sri dan Yuni (satu keluaga), Indri, Irma dan Wahyudi (cieeeh), Sari dan Linda, Mas Sidharta dari Sonora, Mbak Terry, Diana, Ika dan Victor photographer kita, dan Ibu Wisda dari Yayasan Sahabat Museum. Setelah peserta duduk manis didalam bis dan diabsen, maka bus mulai berjalan keliling Semarang melihat suasana siang hari kota Semarang menuju rute pertama kami, Gereja Blendug yang dipandu oleh Pak Jongkie Tio.
Gereja Blendug Diantara sekian banyak gedung tua di kawasan Kota Lama, salah satu yang masih terawat rapi adalah Gereja Blenduk. Gereja yang didirikan pada abad ke-17 tersebut, kini digunakan sebagai tempat ibadah jemaat Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) Immanuel. Gereja ini memiliki keunikan tersendiri di banding gereja-gereja tua lain di Semarang. Ini terlihat dari bangunannya yang memiliki ciri arsitektur Eropa klasik yang anggun dan aristokrat. Gereja ini pernah direnovasi sebanyak tiga kali yakni tahun 1753, kemudian 1894 dan terakhir pada 2003. Setiap waktu dilakukan renovasi, selalu ditulis di batu marmer yang dipasang di bawah altar gereja. ''Setiap kali renovasi dibutuhkan waktu satu tahun, namun secara umum tidak ada perubahan pada bentuk arsitektur bangunan,'' kata Frangky Pattynama SH, MM dari Komisi Pemeliharaan dan Pembangunan Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk memiliki denah octagonal atau denah segi delapan beraturan dengan ruang induk terletak di pusat (tengah) berbentuk kubah dan oleh masyarakat Semarang saat itu dinamakan Blenduk. Hingga sekarang masyarakat menyebut gereja yang nama aslinya belum diketahui pasti ini Gereja Blenduk. Kerangka kubah tersebut dibuat dari konstruksi besi dengan jari-jari berjumlah 32 buah, 8 buah berukuran besar serta 24 buah berukuran kecil. Kerangka konstruksi itu dilengkapi dengan sebuah gelang baja yang berfungsi sebagai titik sentral jari-jari besi tersebut. Ruang utama bangunan gereja terdiri dari ruang jemaat tempat melaksanakan kebaktian. Lantai Gereja Blenduk yang terbuat dari tegel tertata harmonis dengan kombinasi warna hitam, kuning dan putih.
Pada sisi utara, sebuah tangga melingkar tampak kokoh terbuat dari besi yang diukir. Tangga itu difungsikan sebagai tempat berjalan menuju musik gerejawi yang diletakkan pada balkon. Di tangga tersebut terdapat tulisan dalam bahasa Belanda yang berbunyi ''Plettriji den haag''. Menurut pengurus Gereja, tulisan tersebut adalah nama perusahaan yang memproduksi tangga itu, namun tidak tertulis jelas tahun pembuatannya. Diperkirakan sama umurnya dengan awal pembuatan gereja pada sekitar abad ke-17. Perlengkapan Perjamuan Kudus yang juga sudah sangat tua namun masih sangat bersih terbuat dari perunggu.
Perlengkapan itu meliputi dua buah piala yang mempunyai tutup dan pegangan, 2 buah gelas anggur dan enam piring besar. Mimbar (tempat penyampaian Firman Tuhan) Gereja memiliki keistimewaan konstruksi yang langka. Mimbar ini tidak ditempatkan di lantai seperti umumnya mimbar di gereja-gereja lain di Indonesia, akan tetapi disangga dengan tiang segi delapan dari kayu jati dan menempel pada dinding sebelah barat menghadap ke timur. Jika melihat mimbar Gereja Blenduk ini, bisa dipastikan bahan bakunya yang terbuat dari kayu jati bahan pilihan. Warnanya yang coklat tua menyatu dengan warna kursi yang ada di dalam ruangan tempat duduk jemaat. Sisi lain yang menunjukkan kekunoan gereja tersebut adalah sebuah Bibel (Alkitab) dalam Bahasa Belanda terletak di atas mimbar dalam usia 247 tahun atau diterbitkan pada tahun 1748. Bibel ini masih terawat rapi meski kertasnya sudah berwarna agak kecoklat-coklatan. Gereja selalu identik dengan musik dan nyanyian. Alunan suara musik gerejawi biasanya dimainkan secara perlahan setiap kali jemaat memasuki ruang kebaktian. Untuk itu, Gereja Blenduk memiliki orgel (musik gerejawi), yang ditempatkan di balkon sebelah utara. Perlengkapan musik tersebut dibuat oleh P Farwangler dan Hammer, dua warga Belanda pada saat awal gereja didirikan. Setelah puas mendengarkan penjelasan mengenai riwayat Gereja Blenduk dari pihak gereja, peserta dipersilahkan untuk berphoto-photo di sekitar gereja, dan setelah itu kamipun berkumpul kembali ke bis untuk menuju ke lokasi kunjungan berikutnya, Kelenteng Sam Poo Kong (early Semarang).
Kelenteng Sam Poo Kong (Revitalization)
Wilayah Sam Poo Kong seluruhnya kira2 3,2 ha (32,000 m2) yang dibagi menjadi dua dengan adanya sebuah selokan terbuka selebar 2m. Bagian pertama seluas 1,6 ha bersebelahan dengan perbukitan dan sejak semula telah difungsikan sebagai “keramat suci” untuk peribadahan dan pemujaan. Bagunan klenteng tersebut sedang dalam tahap renovasi besar2an, yang mempunyai master plan untuk revitalization ( ). Bagian barat dari “keramat suci” hanya digunakan untuk para peziarah (gua suci, tempat bersembahyang dan memuja, kantor pengelola dan toilet umum), sedangkan bagian timurnya merupakan daerah penyangga bagi pengunjung umum (yempat periingatan, museum, restaurant, pertunjukkan dan landscape). Pada pembagunan tahap pertama, gua suci yang baru nantinya akan lebih tinggi dan lebih luas serta berventilasi lebih baik untuk menampung lebih banyak peziarah.
Ruang pemujaan utama juga akan lebih tinggi dan luas dihias dengan relief dari batu alam yang menggambarkan sejarah Sam Poo Kong Taydjin saat tiba di Simongan sebagai latar belakang. Tidak diketahui kapan tepatnya bangunan renovasi ini akan selesai.
Disini kami menghabiskan waktu 45 menit memutari Klenteng, dan sebelum kembali ke bus, kami menyempatkan diri untuk berphoto di depan klenteng Sam Poo Kong tanpa spanduk! (spanduk nggak ketemu wi, next time kakak tiwi aja yah yang bawa, biar nggak ilang lagi, hehe). Karena hari sudah menunjukkan pukul 18:00 maka kami memutuskan sudah waktunya kami check in di penginapan kami, Hotel Grasia. Setibanya di lobby hotel, kami segera menuju kamar masing2 untuk istirahat sejenak, mandi & shalat karena pukul 19.30 nanti kami sudah harus siap di lobby untuk makan malam di restaurant-nya Pak Jongkie Tio, Restaurant Semarang.
Restaurant Semarang
Sayang sekali tidak ada cerita sejarah yang saya ketahui tentang Restaurant Semarang ini. Mungkin yang lain bisa membantu ?
Pukul 19.30 teng kami semua siap di lobby hotel, sudah terlihat segar setelah perjalanan dengan kereta api dan bis barusan, dan terlihat kelaparan (baca : sangat kelaparan). Kami pun segera naik ke bis dan meluncur ke TKP berikutnya, Restaurant Semarang. Tiba di Restaurant Semarang, kami langsung menuju area belakang kebun restaurant yang memang sudah di setting untuk kami, dan dikarenakan perut sudah lapar, kami mulai menyerbu makanan yang bermenu sop jagung kepiting, mie goreng, steak ayam & vegetable, nasi goreng semarang, dan tentu saja lumpia khas Restoran Semarang. Sambil makan, kami dihibur oleh penyanyi dan band beraliran keroncong yang bernuansa tempo doeloe. Tidak lama kemudian, Pak Amran bernyanyi ke depan panggung untuk menyumbangkan satu buah lagu keroncong ”Sungai Serayu” dan setelah itu Pak Jongkie Tio melemparkan dua buah kuis yang dimenangkan oleh Luci dan Ibu Nana yang juga di daulat untuk bernyanyi setelah mendapatkan hadiah door prize berupa buku dan buklet Semarang Tempo Doeloe dari Pak Jongkie.
Makan malam diakhiri dengan sajian Es Rujak Puspa (Rujak Puspa yah, bukan Sari Puspa kan bing!? Hehe) yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya sejak diawal acara. Tampilan rujak ini sodara-sodara, merupakan rujak “frozen” atau yang sudah dibekukan, yang dihidangkan dalam sebuah mangkuk es krim, dan pelan-pelan mencair secara alami lalu meleleh dimulut..dan rasanya wuuiih, gurih sekali sehingga banyak peserta (termasuk saya) merasa wajib untuk memesan banyak porsi untuk dibawa ke Jakarta. Peserta juga membeli bukunya Pak Jongkie yang disertai tanda tangan beliau, antriannya kayak di launching penerbitan buku baru, hehehe. Setelah makan malam selesai, kami semua pamit sama pak Jongkie untuk kembali ke hotel. Hotel Bellevue Sekembalinya kami ke hotel langsung tidur ??? tentu saja tidak! Dan seperti tradisi SM yang selalu mengadakan pintong basamo (pindah tongkrongan bersama2) disetiap acaranya, maka setelah kembali ke hotel, sebanyak sekitar 20an peserta berjalan ke Hotel Bellevue untuk say hello ke teman2 SM yang menyusul ke Semarang hanya untuk ikutan naik kereta api ke Ambarawa dan tinggal di hotel Bellevue, yaitu Munji, Adel dan Malihah.
Hotel Bellevue adalah hotel yang tahun lalu kami inapi. Akan tetapi, dikarenakan kapasitas hotel tidak mencukupi jumlah total peserta kami yang berjumlah 67 orang (tambahan dari peserta yang hanya ingin ikutan Ambarawa saja), maka tahun ini kami memutuskan untuk menginap di Hotel Grasia (hanya 2 kali nafas dari Hotel Bellevue). Setibanya di Hotel Bellevue pada pukul 22.00 malam, peserta yang menginap di Hotel Grasia dan baru pertama kali melihat Hotel Bellevue ini terbengong-bengong melihat gaya bangunan Eropa yang antik tersebut. Hotel yang dibangun pada tahun 1919 ini benar-benar sedap dipandang mata, dan beberapa dari peseta merasa sedikit “ser-seran” melihat tampilan hotel yang megah tapi unik itu. Peserta kemudian diajak berkeliling hotel oleh manager hotel dan terkagum-kagum karena melihat kamar yang mempunyai meja kerja dan juga kamar yang luasnya segede lapangan badminton. Setelah puas berkeliling, peserta PTD kemudian duduk2 di teras hotel untuk ngupi2 dan ngeteh2 sambil ngobrol2 santai hingga pukul 24.00. Kami melewati pergantian malam sambil berjalan kaki pulang kembali ke Hotel Grasia yang berjarak sekitar 200m2 dari Hotel Bellevue, dan kembali ke kamar masing2 untuk berisitirahat.
One day passed, two more to go...
Hari kedua,
Minggu, 22 Mei 2005
Museum Perkeretaapian Ambarawa
Pagi hari saya bangun pada pukul 06.00 pagi. Bersama Agung, saya door to door membagikan kaos “spoor djadoel” kepada peserta PTD, agar dipakai oleh seluruh peserta PTD pada acara hari ini. Tak lama kemudian datang mbak Ninik dan Mas Agni (yang tangannya masih terbalut gips karena kecelakaan mobil tapi masih bela2in ikutan acara PTD spoor djadoel ini) datang dan bergabung di hotel.
Setelah sarapan pagi di restaurant hotel, pada pukul 07.30 WIB para peserta yang memakai kaos yang “sedikit ketat dan seksi” tersebut naik ke bus masing2 dan mulailah kami berangkat menuju museum dan stasiun kereta api djadoel Ambarawa. Perjalanan menuju kesana memakan waktu kurang lebih satu jam, dan kami menghabiskan waktu di bis dengan bernyanyi2 karaoke yang mike-nya dikuasai oleh Asmara & Victor dengan nada2 sumbang mereka mengajak peserta yang duduk di belakang di bus dua ini (Linda, Sari, Ika, Diana dan Aryo) untuk ikut bernyanyi2. Kami tiba di lokasi sekitar pukul 08.45 pagi, dan kamipun langsung berkeliling mengitari museum yang mempunyai beberapa koleksi lokomotif djadoel (djaman doeloe).
Sebagai latar belakang, sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai oleh N.V NISM. Di jawa tengah pada tangal 7 Juni 1864, perusahaan ini membangun jalur rel dari Semarang-Surakarta-Jogja. Dua puluh satu perusahaan KA lainnya menyusul kemudian, satu dari pemerintah (Staatsspoorwegen/SS) dan tujuh belas lainnya dari perusahaan swasta. Perusahaan2 tersebut mempunyai manajemen dan peralatan yang berbeda. Loko uap misalnya, sampai akhir perang dunia II tercata memiliki 982 loko yang terdiri dari 69 jenis. Sejak tahun 1950, DKA (Dinas Kereta Api) mulai memodernisasi loko uapnya dengan toko diesel yang modern dan efisien. Memasuki tahun 1970, loko uap dikenal sebagai barang antik setelah tidak diproduksi lagi oleh perusahaan lokomotif Eropa.
Gubernur Jateng bekerjasama dengan Kepala PJKA (perusahaan Jawatan Kereta Api) di Jateng mulai mengumpulkan loko uap dan menempatkannya di stasiun Ambarawa. Pada akhir 1976, sebanyak dua puluh satu loko uap menjadi koleksi stsiun ini dan satu loko yang oaling bersejarah ditempatkan di Munumen Palagan Ambarawa. Stasiun Ambarwa dirsmikan sebagai Museum Kereta Api pada tanggal 21 April 1978. Ambarawa dipilih sebagai lokasi Museum Kereta Api karena mempunyai latar belakang sejarah yang kuat.
Ambarawa pernah digunakan sebagai pusat militer oleh pemerintah kolonial belanda dengan benteng pertahanan nya yang kuat, Willem I. Enuff about the history side, back to the real life. Intinya, setibanya kami disana, mulailah persenjataan berbahaya kami yang berupa puluhan digital camera dan video camera berseliweran menangkap momentum2 yang sangat menarik ini. Peserta berlomba2 berpose di dengan berbagai gaya dengan diselingi gelak tawa kami yang dengan norak dan bangganya berpose di lokomotif kuno yang jalannya masih menggunakan kayu bakar ini. Baru sekali ini saya melihat photographer yang satu tangannya mengambil gambar dengan kamera besarnya, sementara satu tangan yang lainnya masih pake gips dan berusaha agar tidak kena senggol karena masih patah boow, hehe *lirik mas Agni*
Kereta Api Lokomotif Ambarawa
It takes Only One Hour,
But the memory of your
railway mountain tour will last forever
*seperti yang tertulis di gerbong kereta api djadoel ambarawa*
Pukul 09.15 kereta loko djadoel yang sudah mulai loaded dengan bahan bakar kayu ini mulai dipanaskan. Kereta api yang akan kami naiki ini terdiri dari satu lokomotif dan hanya dua gerbong dengan kapasitas 80 orang. Gerbongnya terbuka dengan jendela yang tidak ada kacanya sehingga angin sepoi2 masuk dengan segarnya. Lalu 15 menit kemudian, masinis meniupkan peluit dengan kerasnya. Pada moment tersebut, tiada suara yang lebih indah dari suara peluit masinis yang memberi kode bahwa kereta api lokomotif ini siap diberangkatkan, dan peserta pun berebutan menaiki kereta api lokomotif djadoel ini. Dua gerbong yang kami sudah booking tersebut segera sesak oleh peserta yang lari2 kesana kemari mengagumi keindahan dan ke kuno-an barang langka ini. Peserta duduk dengan manisnya? you wish man! After all, we’re talking about peserta PTD, yang kelakuannya sudah pastinya berisik, tidak bisa diam, bergerak kesana kemari dengan hebohnya sambil bersenda gurau saling mengganggu. Kami belari2 dan berteriak2 dengan riang gembira bak anak kecil yang baru saja dikasih mainan baru.
Selama diperjalanan menuju ke atas yang memakan waktu kurang lebih satu jam, kami kembali berphoto2 dengan ratusan gaya. Seorang peserta bernama Maya malahan dengan cerdiknya ngacir duluan dan tidak naik ke gerbong seperti kami, melainkan naik ke lokomotifnya dan bercakap2 dengan masinis di loko yang panas. Berikut adalah liputan pandangan mata dari rekan peserta PTD, Maya mengenai cara kerja lokomotif uap...( ini resume hasil interview dan pandangan mata ketika Maya berada di loko selama 30 menit). thanks ya maya udah sharing di milis (red).
Lokomotif uap ini bekerja dengan mengandalkan tekanan uap air yang didihkan dari ketel, uap ini baru dapat digunakan uantuk mendorong kereta ketika mencapai tekanan 9 ...(maya lupa satuannya). Sedangkan jumlah liter air yang didihkan untuk menggerakkan kereta sepanjang 10 km adalah ...PR ya.....Mengenai keamanan lokomotif ini dijamin sangat safety karena ketel tidak mungkin meledak oleh tekanan uap air. hal ini disebabkan oleh alat penjaga tekanan yang bentuknya seperti pegas. (tapi ngga aman buat masinis karena waktu memasukkan kayu tangannya suka menyenggol ketel dan melepuh). Untuk bahan yang digunakan untuk mendidihkan air adalah kayu jati (tapi kalo menurut masinisnya kadang-kadang tergantung adanya kayu pokoknya asal kering aja). Kayu itu panjang 50 cm dan diameter 10 cm ukuran ini dimaksudkan agar kayu tsb mudah dimasukkan kedalam oven. Untuk horse power kereta kemarin maya ngga nanya tapi mungkin dapat dilihat dari buku tentang kereta api yang dibeli disana. Nah itu tadi sedikit cerita mengenai lokomotif uap ya... Akan tetapi, duduk di dalam atau di dekat loko memang sangat tidak direkomendasikan. Kenapa? Karena kita bisa terkena percikan bara kecil yang beberapa kali beterbangan di sekitar loko, yang salah satunya sempat mengenai teman kita Adep yang sedikit terluka leher bagian belakangnya. So kids, don’t try this!
Ditengah perjalanan menuju dataran tinggi yang melewati sawah nan hijau, kereta api pun berhenti cukup lama untuk mengisi persediaan air. Moment ini tidak di sia2kan oleh peserta yang kemudian ambil photo di kereta dengan gaya yang mulai aneh2. Peserta di photo dengan wajah diluar jendela, photo tampak depan (muka), lalu tampak dari belakang (di photo –maaf -pantatnya aja), sampai di photo di jendela hanya terlihat kakinya doang. Kemudian peserta turun dan berpose seolah2 mendorong kereta api yang lagi mogok, trus berpose ala “pacar ketinggalan kereta”, sampai akhirnya masinis meniupkan peluit kembali pertanda kereta sudah siap melanjutkan perjalanan. Setibanya kami di ujung stasiun, maka kami turun dari kereta untuk menunggu kereta lain tiba sehingga kereta kami tidak bertabrakan dengan kereta kedua tersebut. Sambil menunggu, kami makan es krim walls yang jualan disana dan photo2 di depan kereta api menggunakan spanduk PTD Semarang-Ambarawa. Tak lama kemudian kereta api kedua sudah tiba, sehingga giliran kereta api kami turun kembali ke Stasiun Ambarawa dan menuju Museum Kereta Api Ambarawa selama setengah jam. Perjalanan lebih cepat karena kali ini rutenya menuruni bukit sehingga kereta meluncur dengan cepat.
Setibanya di museum, kami disuguhi makanan setempat yang berupa ikan bakar, ayam goreng, wader goreng, sayur asam, pecel, teracam, brongkos, tahu, tempe, kredok, kerupuk, sambel terasi, lalap, yang kesemuanya enak dan segar, sampe nasi2nya pun terasa gurih di lidah. Selain makanannya enak, kamipun sudah sangat lapar, sehingga makan siang tersebut ludes dalam waktu sekejab (buat Aryo yang nambah sampe berkali2 dan sudah memberikan liputan tob PTD kali ini di milis jalansutra, for your information, cateringnya adalah paket museum. Jadi kalo booking kereta api djadoel ambarawa, sekalian sama paket makan siangnya yah). Biar kekenyangan, kami masih sempat berputar di museum untuk membeli buku sejarah kereta api ambarawa, juga souvenier2 berupa kaos ambarawa, pajangan2 dan mainan sebagai oleh2. Selesai makan dan shalat dzuhur, pada pukul 13.00 siang kami melanjutkan perjalanan ke Museum Palagan Ambarawa.
Museum Palagan Ambarawa.
Monumen Palagan Ambarawa ini didirikan pada tahun 1973 oleh Deputi KASAD Letjend Sayidiman dan diresmikan oleh Bapak President Suharto pada tanggal 15 Desember 1974. Bagunan ini terdiri dari beberapa bangunan relief2 dan satu bangunan museum. Relief2 yang terdapat didalamnya adalah Proklamasi Kemerdekaan RI, Indonesia bangkit Kembali, perebutan senjata dari tangan jepang, pasukan Inggris mendarat di Semarang pada tahun 1945 (yang dipimpin oleh Jend. Bethel), Jend. Sudirman menentukan siasat supit udang, partisipasi masyarakat kepada BKR (dapur umum), dan relief terakhir adalah pasukan Inggris meninggalkan Ambarawa pada tanggal 15 Desember yang sekarang dijadikan hari pasukan Infanteri. Sedangkan di museumnya sendiri dinamakan museum Isdiman untuk mengabadikan nama pahlawan Isdiman yang gugur di medan perang ambarawa pada tanggal 26 November 1945.
Museum tersebut berbentuk rumah joglo dan digunakan untuk menyimpan koleksi senjata dan pakaian yang dipergunakan pada [pertempuran di palagan Ambarawa yang merupakan hasil rampasan pasukan Jepang. Didalam museum juga terdapat gambar2 mengenai perang Ambarawa, dan gambar2 pejuang kita dan peran masyarakat tempo doeloe yang membantu prajurit2 kita dalam kancah peperangan. Ada bagian dimana menurut cerita teman2 peserta ada Pak Samudji (yang in charge di museum tersebut) bercerita di dalam ruangan dengan semangat yang berapi-api, akan tetapi saya melewati bagian ini karena kapala saya pening dan sayapun kembali ke bus menunggu di dalam bis Setelah puas berkeliling selama kurang lebih 45 menit jam, maka kamipun meluncur balik ke arah kota semarang dan menuju Gedung bersejarah lainnya, Lawang sewu.
Lawang Sewu
Sejak jaman pemerintahan penjajah Belanda Semarang sebagai kota besar salah satu buktinya sebuah perusahaan kereta api (trem) milik Belanda menempatkan kantor pusatnya. Kantor pusat Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij atau dikenal NIS ini menempati sebuah gedung megah bergaya art deco yang bercirikan ekslusif dan berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa. Bangunan ini salah satu karya dua arsitek Belanda ternama saat itu, yaitu: Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag. Gedung ini oleh warga Semarang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Lawang Sewu.
Mengapa bangunan tua tersebut oleh masyarakat Semarang dikenal dengan julukan Lawang Sewu ? Karena ciri khas bangunan megah yang merupakan sebuah perkantoran ini memiliki pintu atau ‘lawang’ dalam bahasa Jawa, sedang ’sewu’ artinya seribu sebagai arti kiasan dari banyak karena memang jumlah pintunya tidak atau seribu atau lebih. Atau arti dalam bahasa Indonesia adalah si “pintu seribu", kira-kira ingin menunjukan bahwa gedung kantor pusat kereta api Belanda ini punya pintu banyak sekali.
Tidaklah sulit untuk mencapai lokasi gedung tua ini karena letaknya berdekatan dengan monumen Tugu Muda dan sebagai salah satu sudut kota Semarang. Bangunan monumental dan indah ini di desain mengikuti kaidah arsitektur morfologi bangunan sudut yaitu dengan menara kembar model gotik di sisi kanan dan kiri pintu gerbang utama ini dan bangunan gedung memanjang ke belakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Gedung kuno ini menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 1903, dan selesai atau diresmikan penggunaannya pada tanggal 1 Juli 1907.
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa pertempuran lima hari di Semarang, di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan kompetai dan Kido Buati Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Sehari sebelumnya, pawang Lawang Sewu sudah “mengamankan” tempat sehingga hal2 yang tidak diinginkan bisa dihindari, sehingga pada hari “H” nya saya pribadi merasa aman dan tenang untuk memasuki gedung yang konon angker tersebut . Tiba di Lawang Sewu pada sekitar pukul 14.30, Bapak Sunarto yang menjadi pemandu kami di lawang sewu langsung mengajak kami berkeliling bangunan.
Tour dimulai dari pintu utama bawah, dimana kami disambut oleh kumpulan debu yang amat sangat tebal, suasana tampak hening dan mencekam. Memasuki gedung mata harus dibiasakan dalam gelap, tapi segera setelah terbiasa langsung kami disambut pemandangan indah - dinding di puncak anak tangga utama dihiasi kaca patri yang berpola warna-warni indah. Memasuki salah satu sayap gedung nafas menjadi sesak karena debu, dan hati menjadi tersayat melihat kondisi bagian dalam gedung indah ini. Dinding dan tiang-tiangnya masih kokoh, tapi kayu-kayu jendela dan pintu sebagian mulai lapuk.
Di sana-sini tampak ruangan sempit berbau tahi kelelawar dan di lantai tampak genangan-genangan air bekas bocor. Sayang sekali. Padahal gedung ini begitu kokoh dan indah. Kalau kita keluar dan berdiri di salah satu balkonnya yang menghadap ke jalan raya, kita disuguhi pemandangan taman kota di tengah bundaran jalan. Setelah menelusuri bagian atas kami turun ke lantai dasar dan menghitung pintu-pintu yang berjajar di sayap gedung. Pintu-pintu itu berjajar-jajar serupa, sehingga rasanya kalau kita harus berkantor di sini pasti bakalan sering tersasar! Dari lantai dasar kami menuju ke ruangan bawah tanah yang digenangi air. Alangkah sayangnya, kayu-kayu lapuk di sana-sini, walaupun secara keseluruhan ruang bawah tanah ini tampak masih kokoh. Kemudian kami menaiki tangga menuju ke atas dan memulai penjelajahan kami dari satu ruangan ke ruangan lainnya.
Di gedung ini kami diperlihatkan beberapa spot menarik, yaitu tempat pembantaian tentara RI oleh tentara Jepang, tempat penyiksaan, ruang kerja hingga ruang dansa tempo doeloe. Beberapa peserta terlihat bersin-bersin karena debu, hangatnya ruangan dan juga kelembaban ruangan Semua peserta secara serentak mengeluarkan kamera mereka, untuk meng “capture” keindahan gedung bersejarah yang sudah mulai pudar ini. Pada akhir putaran, kami diajak untuk memasuki terowongan bawah tanah yang jaraknya kira-kira 500 meter dan tinggi sekitar 2 meter dan berbentuk huruf ‘u’ atau lebih tepatnya: turun ke bawah lurus, belok kanan, lurus, belok kanan lagi, lurus, di sebelah kiri ada bekas penjara-penjara yang sekarang sudah nyaris tak berbekas kecuali hanya ‘kamar-kamar’nya saja.
Lorong panjang bawah tanah tersebut tidak ada cahaya, amat sangat gelap karena tidak ada cahaya sehingga kami hanya mengandalkan lampu senter saja. Lorong tersebut juga lembab dan basah sebatas mata kaki sehingga kaki kami menjadi basah kuyup. Beberapa menit tanpa suara dan cahaya pun berlalu, dan kamipun melangkah menyelusuri terowongan hingga akhirnya terowongan tersebut berakhir di lobang keluar terowongan dan alangkah senangnya perasaan saya ketika akhirnya kembali melihat cahaya matahari. Biarpun kaki basah kuyup tapi hati puas karena rasa penasaran karena tahun lalu saya nggak berani masuk jadi terobati.
Berbeda dengan pengalaman tahun lalu, kunjungan ke Lawang sewu kali ini tidak semenakutkan tahun lalu. Apabila tahun lalu kami (saya pribadi) diliputi rasa takut, rasa yang tidak enak, rasa berada di dunia lain, bisa melihat dan merasakan atmosphere lain, kunjungan kali ini sama sekali tidak ada perasaan2 aneh tersebut. Semuanya aman2 saja, dan tak sedikitpun kami merasa takut untuk mengelilingi tempat tersebut. Para peserta yang sudah siap dengan camera digital dan video yang menggunakan “infra red” untuk menangkap “penampakan” yang tidak terlihat pada mata biasa agak kecewa karena tidak melihat sesuatu yang aneh dari gedung (mungkin karena long week end, penghuni dari “dunia lain” nya lagi pada liburan kali yeee, hehe).
Oh ya, di Lawang Sewu ini dua peserta kami Bu Woro dan Afung pamitan karena harus kembali ke Jakarta untuk tugas berikutnya. Penjelajahan Lawang Sewu diakhiri dengan photo bersama dan kembali ke bus untuk kembali ke hotel untuk beristirahat.
Setibanya di hotel pada pukul 16.30, sebagian peserta berisitirahat, sebagian lainnya kabur untuk muter2 Semarang naik taksi melihat2 dan jalan2 santai. Pukul 19.00 malam, kami kembali lagi ke lobby dan bersiap2 untuk santap malam di restaurant Pesta Keboen.
Pesta Keboen
Restaurant pesta Keboen merupakan salah satu restaurant baru yang ciamik di semarang. Arsitektur, suasana dan lezatnya makanan restoran yang terletak di jalan Veteran No. 29 Semarang itu memang menjual keunikan dari "masa lalu". Papan nama restoran ini ditulis dengan ejaan lama: Pesta Keboen. Tak hanya itu, semua hal di dalam restoran ini dari nama menu hingga papan pengumuman, ditulis dengan ejaan a la van Ophyusen.
Selain menyuguhkan makanan yang khas dan lezat, Pesta Keboen juga menyediakan tempat makan beratmosfir kuno yang nyaman, asri, dan romantis. Interior di dalam ruangan resto itu didonimasi oleh benda-benda antik, dari kursi anyaman rotan, replika sepeda ontel dari zaman kumpeni hingga radio Philips buatan tahun 1940-an ada di sini.
Kami tiba di restaurant ini pada pukul 19.30 malam. Seperti review diatas, makanan disini memang enak dan tempatnya cantik. Akan tetapi sayang seribu sayang, kami kecewa karena pesanan makanan kami untuk sejumlah 65 orang tidak mencukupi dan juga SERVICE dari restaurant yang mengecewakan. FYI, yang datang ke acara makan malam hanya 60 orang, akan tetapi entah kenapa makanannya tidak cukup dan yang lebih menyebalkan lagi, tujuh orang peserta tidak bisa makan karena makanannya habis, padahal total peserta yang datang ke restaurant hanya berjumlah (berapa yah) orang dikarenakan beberapa peserta tidak join untuk santap malam. Setelah complaint kepada manager yang ditanggapi dengan dingin2 saja maka kamipun meminta tambahan makanan dan akhirnya makanan pun ditambahkan oleh pegawai. Small thing, tapi mengganggu pikiran kami selaku pantia.
Diluar hal tersebut, apa yang terjadi disini sangat menyenangkan, karena setelah selesai makan malam, kami secara bergantian menyanyikan lagu2 tempo doeloe yang diiringi oleh music on the stagenya restaurant tersebut. Nyanyian dimulai oleh lembut suara Mbak Ninik dan Mas Agni yang duet menembangkan lagu2 cinta dengan suara mereka yang indah merdu mesra, dilanjutkan oleh nyanyian dari teman peserta Asmara yang suaranya bikin telinga perih karena nada dan iramanya kacau balau, akan tetapi untungnya karena Asmara amat sangat lucu, semua peserta tampak terbahak2 dan penuh suka cita bernyanyi bersama untuk ngebenerin lagu yang selalu keluar dari jalur tersebut. Kemudian nyanyian dilanjutkan oleh duet Adep dan Aryo yang tampak mesra berpelukan berdua, dan seterusnya mike berpindah ke tangan Deedee dengan suaranya yang serak2 hancur membawakan lagu dangdut duet dengan oleh Ninta, mengajak para peserta berjoget bersama, maka tak lama Kemudian Indie, Endang, Tiwi, Ayu yang tampak anteng pada saat jamuan makan, mendadak liar tak terkendali dan kemudian dengan ganasnya juga menyeret Richard, Munji, Alice, Anne dan teman2 lainnya untuk berkonvoi berteriak2 dan berjoget ala kereta api dan bergerak memutari restaurant sampai keluar2 segala! Oh my...beginilah „kelakuan” para peserta PTD yang katanya executive muda...ternyata begitu lepas tak terkontrol dan tak terkendali..ck ck ck. Begitu lagu selesai dan peserta mendaulat Richard dan Victor untuk bernyanyi, dengan jurus lompatan maut, secepat kilat mereka berdua lari kearah pintu agar terhindar dari paksaan peserta wanita yang mulai menggila. Akhirnya lagu penghabisan dibawakan oleh pak Amran yang menyanyikan lagu Teluk Bayur dan menutup acara makan malam tersebut pada pukul 22.00 malam.
Sekembalinya di hotel, sekitar 20 orang peserta PTD melanjutkan kegiatan pintong dengan naik taksi beramai2 ke daerah Simpang Lima yang merupakan daerah wajib kunjung di Semarang yang dipimpin oleh Ninta. Disana kami duduk lesehan di tiker sambil makan jagung bakar tiga rasa, makan soto, minum wedang jahe (yang nggak ada rasa) and ngupi2 selama kurang lebih satu jam. Suasana lebih terasa akrab dikarenakan kami duduk2 makannya didalam gelap dikarenakan mati lampu di daerah tersebut. Tak lupa kami photo2 di sekitar lokasi dan setelah selesai makan, kami pindah photo2 juga di lapangan tengah simpang lima yang pada pukul 12.00 malam sudah sunyi senyap dan sepi tanpa ada tanda2 keramaian seperti yang terlihat di lokasi yang sama di waktu pagi sampai sore hari tadi. Tak lupa spanduk digelar dan berbagai gaya dengan camera nikkon nya Victor dan Asmara. Nggak tau deh apa kita kemaren beneran di photo atau mereka pura2 motret kita aja, tapi denger bunyi „jengrek” dari kamera aja rasanya udah seneng banget :-)
Pulangnya karena taksi nggak kelihatan, akhirnya kami menyewa angkot, dengan membayar Rp 20,000 rupiah, kami diantar angkot ke hotel secara berkala (dua kloter). It was fun ! We had a great time laughing out loud..kami tiba di hotel sekitar pukul 00.30 malam dan langsung berisitirahat untuk menyambut hari terakhir di Semarang.
Hari ketiga,
Senin 23 Mei 2005
Kota Tua Semarang
Pagi hari kami berkumpul untuk sarapan, dan dengan berat hati salah satu peserta kami Ninta pamitan ke bandara untuk pulang ke Jakarta karena tugas kantor, dan kamipun bersiap2 naik ke bus untuk tour hari ketiga atau hari terakhir kami di Semarang pada pukul 08.00 pagi. Oh ya, satu peserta yang bernama Ela juga pulang duluan kemarin malam telp memberitahukan bahwa dia sudah tiba dengan selamat di Jakarta.
Perjalanan pertama kami di hari ketiga ini adalah menuju Kota Tua Semarang, yang memakan waktu sekitar dua jam. Kami memulai perjalanan dari titik nol semarang, melewati kantor pos, gedung PTP, daerah sabung ayam dan permukiman warga semarang kota lama, dan berakhir di Gereja Blendug. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke daerah Pecinan. Maaf nggak banyak yang saya bisa ceritakan disini karena asli gue sama sekali nggak ngedengerin ceritanya karena asik berphoto2 karena banyaknya lokasi yang menarik disini. Kemudian kami lanjut mengunjungi klenteng King Ho Ping/Tsi Lam Tsai.
Pecinan dan Kelenteng King Ho Ping/Tsi Lam Tsai
Bangunan klenteng ini dibagi menjadi 3 bagian, bangunan tengah, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Pada bangunan tengah terdapat 3 altar, altar tengah untuk Sin-Cie, para tokoh masyarakat yang bijaksana dan banyak berjasa kepada masyarakat, altar kanan dan kiri untuk anggota masyarakat yang dititipkan. Kemudian bangunan sayap kanan digunakan untuk Kong Koan, yaitu kantor perkumpulan orang-orang yang berkedudukan yang diangkat oleh pemerintah hindia belanda pada waktu itu dan digunakan mulai tahun 1837 s/d 1920.
Sebagian dari bangunan sayap kanan ini mulai 1 Juni 2004 dimanfaatkan untuk Balai Pengobatan Yayasan Tjie Lam Tjay. Sedangkan bagunan sayap kiri digunakan untuk kantor Tjie Lam Tjay, mulai digunakan pada tahum 10837 s/d 1920. Kemudian kantor ini dipindah kedalam klenteng Tay Kak Sie. Mulai 1 Junii 2004 sebagian dari bagunan sayap kiri ini dipakai untuk kantor pusat Yayasan Tjie Lam Tjay.
Gang Lombok
Selesai berkeliling klenteng yang dipandu oleh Bapak Jongkie Tio, peserta menyempatkan diri mampir ke Gang Lombok yang terletak disamping kelenteng untuk menyicipi lumpia goreng dan lumpia basah, juga es cau yang terkenal. Rasanya emang nendang banget ! saking nendangnya, peserta pun mulai kalap makan ditempat serta membungkus untuk dibawa sebagai oleh2, samapi2 kami terlambat setengah jam dari jadwal berikutnya dikarenakan antrian bungkusan lumpia peserta PTD begitu panjang. Kalo ngak inget pemberhentian berikutnya adalah Toko Oen untuk santapan siang, kami pasti tidak berhenti sampai disini. Tak lupa Mbak Ninik dan Mas Agni pamit karena harus ke airport mengejar pesawat siang mereka untuk kembali ke Jakarta. Kemudian Pak Jongkie juga pamit karena ada acara lain yang beliau harus hadiri.
Toko Oen
Cerita mengenai toko oen, salah satu restaurant tertua di semarang, bermula di tahun 1922 di jogjakarta dimana seotrang ibu rumah tangga bernama liem gien nio yang merupakan istri dari oen tjoen hok, seorang letnan chinese pada masa tersebut punya banyak waktu luang dan ingin mengerjakan sesuatu. Liem ini merupakan ahli masak yang handal dan mahir dalam memasak masakan belanda dan masakan china. Maka ia mulai membuat makanan2 tersebut dan menjualnya kepada komunitas chinese, belanda dan jawa di daerah tersebut. Restaurant yang namanya diambil dari nama suami liem tersebut lambat laun terkenal karena masakan nya yang enak, dan setelah tiga tahun berjaya di jogjakarta, akhirnya mereka pun membuat restaurant cabang semarang pada tanggal 16 lpril 1936 di daerah bodjong weg, yang sekarang lebih dikenal dengan jalan pemuda.
Cucu liem yang bernama yenny megaputri, yang merupakan lulusan dari jurusan arsitektur delft university & yang me manage toko oen mengatakan, bahwa restaurant tersebut yang mempunyai jendela tinggi dan atap melingkar dibangun seperti the jugendstijl (young style) yang pada saat itu sangat popular di Eropa pada akhir abad ke 19.
Yang membuat toko oen tersebut sangat special adalah bahwa toko tersebut tidak berubah sama sekali setelah melewati masa2 bertahun2, biarpun disekitar toko sudah mengalami perubahan dan modernisasi di zaman globalisasi, akan tetapi ia tetap mempertahakan ke asli-an bangunan tersebut. Interior didalam tak kalah indah dengan interior luarnya. Jendela nya berwarna wijau dan ubin di lantainya kotak2 kuno. Dua kipas angin raksasa di atap yang pada zaman dahulu nya digunakan orang2 sebelum ada AC. Ada piano tua yang mereka miliki dari tahun 1936 dan masih berfungsi dengan baik. ”I love old buildings so i will not make any change to this restaurant," kata Yenny, cucu yang merupakan generasi ketiga yang menjalankan took oen tersebut.
Menu Toko oen yang terkenal adalah menu steak, nasi goreng dan sate ayam, juga es krim nya yang sangat berbeda dengan es krim2 yang biasa di jual di tempat2 lain. Kue2 kering dan bakery belanda nya di display sedemikian rupa didalam toples2 menarik dan mengundang rasa ingin tahu untuk mencicipinya. Dan setelah mencicipi, baru kita tau betapa enaknya makanan2 yang disajikan disana.
Anyway, setelah selesai makan siang dengan menu2 andalan tadi yang ditutup dengan es krim, maka saya sebagai panitia PTD Semarang-Ambarwa mengadakan sedikit sesi review perjalanan yang dimulai pada hari pertama hingga hari ketiga, session by session. Disitu peserta berbagi cerita dan kesan2 selama perjalanan berlangsung dari hari ke hari yang diwakili oleh Ibu Rose dan Pak Soewarno. Kemudian acara siang itu ditutup dengan ucapan terima kasih panitia kepada pihak Yayasan SM dan juga kepada peserta atas kelancaran acara. Kemudian kami memberi waktu kepada peserta untuk membeli oleh2 di daerah Pandanaran. Oh ya, di toko oen ini pada akhir acara anak buah Pak Jongkie datang dengan membawa pesanan es rujak puspa untuk peserta yang telah dipesan sehari sebelumnya untuk dibawa ke Jakarta.
Belanja Oleh-Oleh di Jl. Pandanaran
Setelah semua peserta naik ke bis, maka bis pun meluncur ke arah Jl. Pandanaran. Setibanya rombongan disana, peserta di bebaskan untuk sesukanya berbelanja, diberi waktu selama satu jam dan sudah harus kembali ke bis pada pukul 15.00 karena kereta api yang akan membawa rombongan kembali ke Jakarta dijadwalkan berangkat pada pukul 16.00 sore. Dan berpencaranlah rombongan sesuai dengan tujuan belanjanya masing-masing. Ada yang belanja bandeng, moci, wingko babat, dan tentu saja lumpia untuk diberikan kepada keluarga dan sanak saudara juga teman-teman dan rekan-rekan kerja tercinta di Jakarta. Kemudian setelah seluruh peserta kembali kedalam bus, maka berangkatlah bus menuju stasiun Tawang
Stasiun Tawang
Setibanya di stasiun pada pukul 15.30, kami menunggu di ruang VIP yang ber AC. Kami duduk dengan segala macam barang2 kami plus oleh2 yang memenuhi ruangan yang tidak begitu besar tersebut. Pada pukul 15.45, kereta api datang, dan kamipun segera menaikkan barang2 kami ke gerbong enam yang sudah dibooking sebelumnya untuk seluruh peserta PTD Semarang-Ambarawa. Sepuluh menit wara wiri, akhirnya semua barang sudah rapi tertumpuk di kereta, da kami dilepas oleh Bapak Amran dan Ibu Wisda yang tinggal satu hari lagi di Semarang untuk istirahat dan naik pesawat terbang di hari berikutnya.
Closing
Perjalanan kereta kembali ke Jakarta ini seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya amat sangat berbeda dengan perjalanan kereta ke Semarang. Apabila perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Semarang rombongan pada saat berangkat terlihat sangat kalem, tenang dan diam (lebih tepatnya: jaim hehehe), akan tetapi sebaliknya, pada perjalanan pulang kali ini, sepanjang perjalanan ke Jakarta peserta rombongan saling ribut berceloteh, berteriak-teriak, bernyanyi-nyanyi, bersenda-gurau juga saling mencela, dan juga saling menceritakan pengalaman-pengalaman mereka selama di Semarang, pokoknya heboh deh! Untuk antisipasi situasi yang makin lama makin seru, para peserta pun diajurkan untuk meminum “jamu jaga sikap” agar bisa mengkontrol sikapnya selama di perjalanan, akan tetapi hal ini tidak digubris oleh rombongan, malahan volume keributan sudah mencapai level mencemaskan (duileee bahasanya…). Dengan pasrah panitia pun membiarkan peserta untuk menikmati perjalanan mereka dengan keriaan yang meningkat. Apa sih yang di ributin? ternyata dua meja dipakai untuk judi, eerr...main kartu (qiu qiu, remi, kocokan), dan yang kalah dapat hukuman aneh2, seperti nyanyi lagu2 SD, ngebangunin yang lagi tidur dan menerima segala resikonya, dll dsb.
Terus ditengah2 perjalanan, peserta saling mengganggu satu yang lainnya, dan mulai nggak ada kerjaan dan mulai ambil kamera (lagi) dan photo2 dengan berbagai tema...ada photo peserta memakai selimut hijau2 KA dan menutupi seluruh tubuhnya, ada photo dimana semua peserta tidak boleh tampak mukanya alias wajah terbungkus selimut, ada photo lagi ngamen dan makan dibawah lantai gerbong, waaa, pokoknya seru !!! It’s nice being stupid once in a while, seakan tidak ada beban...semua stress, pikiran tentang kerjaan, keluarga, pacar, atau masalah2 baik yang ringan maupun yang berat di jakarta seakan2 terlupakan sejenak dan kami kembali menjadi anak2 kecil yang penuh kegembiraan menikmati detik demi detik perjalanan kami. Feels good to let it all out as this kind of opportunity only come once in awhile at the right place, the right time with the right people.... and as soon as the event is over, I will be back to my daily routine as Secretary to General Manager in an established oil company, in my suit, laptop and all, with formal and proper attitude. So I was grateful for having such a joyable experience with these people!
Peserta juga dengan penuh semangatnya merencanakan reuni ex peserta PTD Semarang (alumni Semarang ?). Akhirnya muncul kesepakatan bahwa peserta ex PTD Semarang akan mengadakan gathering dan temu kangen kurang lebih satu bulan setelah ini. (heran, pisah aja belom kok udah ngerencanain reunian ? dasar peserta PTD !). Disini kami mnegingatkan teman2 agar sekembalinya ke Jakata nanti untuk mengcopy semua file gambar kedalam CD-Rom dan dikirim ke sekretariat SM atau kantor deedee untuk di compile gambarnya sehingga pada saat reuni, kumpulan photo2 pilihan tersebut sudah dapat dinikmati gambarnya. Tak terasa kereta api sudah hampir mencapai tempat pemberhentian Jatinegara. Pantia pun menyampaikan sepatah dua buah patah terakhir sebagai tanda perpisahan, dan beberapa peserta pamit untuk pulang. Lalu tak lama kemudian, kereta pun tiba di Stasiun Gambir - Jakarta.
Dengan berat hati dan penuh haru peserta pun saling berpamitan dan waktu pada saat itu menunjukkan pukul 22.00 malem. Tibalah kita di penghujung cerita dimana saya dan Adep juga dijemput oleh our brother. Di mobil saya bersyukur kepada Allah SWT karena diluar segala macam kekurangan disana sini acara lancar dilaksanakan tanpa kurang satu apapun, dan peserta tampak menikmati perjalanan ini (dan gossipnya ada yang cinlok yang blom bisa kami buktikan, hehe), dan saya harap mereka tidak kapok lagi untuk mengikuti dan berpartisipasi pada acara-acara kami yang berikutnya.
Atas nama seluruh panitia PTD Semarang, kami mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada semua pendukung acara, baik dari pihak Semarang (Mas Agung, Pak Jongkie Tio, Pak Sunarto, paranormal Lawang Sewu, juga kepada peserta rombongan yang telah menyemarakkan suasana sehinga PTD Semarang-Ambarawa jadi berkesan. Kami memohon maaf apabila ada salah-salah kata maupun perbuatan selama berlangsungnya acara.
Akhir kata, hope you had a great time in Semarang-Ambarwa and kami nantikan kehadiran teman-teman semua di PTD-PTD berikutnya ! With lots and lots of love, hugs and kisses !
Deedee
*liputan yang dikumpulkan dari berbagai sumber, antara lain dari liputan & catatan peserta PTD Semarang 2004, peserta PTD Semarang-Ambarawa 2005, buku2 & sinopsis sejarah di lokasi kunjungan, nara sumber, koran, data centre, blog & other online data yang diambil dari internet* Monday, 30 May 2005 in Sahabat Museum |