welcome to deedee's world  

Category:Movies
Genre: Documentary

Sebenernya gue males nulis review secara serius, karena it’s easier for me to write a simple ‘day to day’ story or activity rather than a topic that needs me to think a bit “hard” hehe.

Okay, I wrote this for Mpek2 bersaudara (please deh guys, id kok ya MPsneak, ketebak banget deh ah), yang pengen tau pendapat gue tentang dua buah karya anak bangsa yang udah kita tonton, yaitu “Thank You & Good Night Mother” dan “Berbagi Suami”

For reference, gue beberapa kali nonton film screening karena dulu gue kenal sama Reka, sutradara nya sinetron Bajaj Bajuri dan banyak sinteron drama lainnya yang pernah memenangkan SCTV award dengan film independent nya. Dia sering ngundang gue dan temen2 untuk nonton hasil karya nya. Tapi kayaknya nggak fair ngebandingin karya Reka yang lulusan IKJ yang notabene nya udah berpengalaman banget untuk membuat film independent, lagiupla gue disini bukan mau ngebahas tentang filmnya Reka, tapi tentang filmnya Ian.

Mari kita liat hasil review yang pertama, film screening “Thank You & Good Night Mother” yang gue tonton sama temen2 di Goethe Institute, a while ago.

Film screening ini adalah film perdana karya Ivan Handoyo. Honestly speeking, to me personally, filmnya biasa aja, menceritakan tentang kehidupan para peselancar di pulau Bandulu dan Carita – Banten yang (ternyata) merupakan salah satu daerah surfing yang baru aja gue ketahui setelah nonton filmnya. Gue kira surfing cuma ngetop di Bali dan Pelabuhan Ratu doang.

Sutradara nya mencoba mengajak penonton untuk “get the feeling”, terjun dan berasa berada didalemnya, ini bisa diliat dari cara pengambilan gambar laut & ombak2 yang menggulung yang disorot dari atas, trus kebawah dan kedalam laut yang membuat kita seakan2 merasakan deburan ombak2 itu menyentuh kulit kita. It worked for me. I did feel the sensation, but then again, I didn’t enjoy the story very much karena setting ceritanya yg selalu loncat2 dari satu adegan ke adegan lainnya yang kadang2 nggak nyambung membuat gue berpikir, mungkin emang style nya dia seperti ini. Lalu Ivan juga menyorot the excitement para pecinta peselancar tersebut yang ditangkap dari ekspresi muka2 mereka yang polos.

Then again, setelah gue browsing2 lebih jauh tentang synopsis ceritanya di websitenya http://www.thankyouandgoodnightmother.com, gue jadi lebih ngerti kenapa dia bikin cerita seperti ini. Pada dasarnya, Ian hanya ingin mengekspresikan kecintaan para peselancar kedalam bentuk media lain, yaitu media film, nothing else, nothing more. Sayang sekali.

To me, Thank You and good night mother could have been better, mengingat cerita yang ingin diangkat adalah cerita yang menggabungkan antara pemandangan, hobby dan kehidupan sehari2 para peselancar.

Sebagai seorang photographer, Ian mencoba mengambil angle gambar dari kaca mata seorang photographer, dan menurut gue ini salah banget. Pemandangan nya emang bagus dan natural, tapi yang dia lupa, yang nonton dia blom tentu pecinta photography, akan tetapi bisa jadi adalah orang2 pecinta film2 dokumenter, film2 sejenis atau simply hanya para penonton film terkini yang biasa nonton film-film standard 21. Jadi, ending2nya, tetep aja penonton akan menuntut jalan ceritanya, apalagi kalo mereka sebelum nonton filmnya nggak browsing dulu ke website yang khusus dibikin untuk supporting film ini.

Mungkin akan lebih menarik lagi apabila sutradaranya menjadikan film ini menjadi sebuah rangkaian cerita sederhana yang berkesinambungan yang ada “isi” nya, misalnya kombinasi mengenai bagaimana caranya berselancar buat beginner dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar hingga akhirnya bisa berselancar, termasuk cara ngebikin papan selancarnya, dicampur dengan kisah2 ringan seputar kehidupan di Banten. Jadi ceritanya nggak monoton cuma kesan2 atau pengalaman2 orang2 yang tergila2 pada selancar aja.

Gue coba me recall memory gue waktu nonton kemaren, menganalisa dan mencoba mengerti waktu Ian ngejelasin di website nya tentang “momen kekinian dalam ombak menyimpan kebahagian untuk masa depan dan masa lalu mereka”. Yang gue liat di film adalah masa sekarang dan masa depan, so dimana kah adegan yang mengacu ke masa lalu nya ? Hal ini berkaitan dengan judul film itu sendiri, “Thank You and Good Nite Mother” yang menurut gue adalah ucapan perpisahan yang diucapkan seseorang yang sekarat atau malah sudah tidak ada lagi. Mungkinkah gue missed the earlier scene ? mengingat emang gue masuk ke dalam ruangan pemutaran nya sedikit terlambat dari jadwal ?

Messages yang hendak disampaikan seperti aim & goalnya Ian di film ini sudah hampir kena, yaitu pengalaman, kecintaan dan kehidupan sehari2 para surfer mengenai kecintaan mereka terhadap olah raga selancar yang membuat mereka kadang2 lupa diri dan ingin melakukan apa saja demi bisa berselancar. Cuma karena potongan2 yang beralih2 dari satu scene ke scene yang lain secara terputus, juga karena pemainnya adalah para penduduk lokal yang “naif” yang diwawancara dan cerita mereka dijadikan rangkuman, membuat film yg awal nya menarik tapi pada pertengahan film ceritanya menjadi sedikit membosankan.

Untuk orang2 yang suka selancar atau at least pernah nyoba belajar surfing kayak gue, cerita film yg nggak terlalu kena dihati nggak menjadi masalah, karena keindahan lokasi syuting plus penampilan peselancar bermain air tersebut membuat gue seolah2 ingin kembali lagi kelaut dan menyatu dengan alam. Akan tetapi, bagi orang2 yang nggak ngerti atau nggak suka atau malah blom pernah mencoba berselancar, ceritanya jadi tidak begitu menarik, sehingga beberapa orang yang duduk di row didepan gue terlihat tertidur.

[ Satu point menarik yang gue suka adalah pada satu sessi nya dimana seorang peselancar menceritakan bahwa dia harus menjual satu kerbau demi membeli sebuah papan selancar – this, is somehow interesting and sound cute ]

Trus yang juga bikin agak mengecewakan, setelah film usai, Ian sebagai sutradara nggak minggling dengan penontonnya. Nggak tau apa karena pada saat itu dia terlalu sibuk, terlalu capek, nggak ada waktu atau emang males ketemu orang2. Seharusnya setelah selesai film dia bisa berbaur dengan penonton dan menanyakan pendapat orang2 yang telah menonton karya nya, sehingga dia akan mendapat berbagai masukan dari berbagai macam orang dengan berbagai macam back ground mengenai hasil jerih payah karyanya, baik yang positif maupun yang negatif. Dan alangkah menyenangkan nya kalo kita bisa diskusi dan membahas tentang film dokumenter dengan sutradara langsung, sehingga bisa terjadi “bound” yang lebih akrab dan bisa memancing hastrat orang untuk menonton karya dia yang berikutnya (bila ada). Untungnya kita masih ada kesempatan photo bareng dia dan para surfer pemain filmnya, sehingga sedikit mengobati kekecewaan kami yang ingin membahas film dengan sutradaranya.

Nevertheless, don’t mind what I think, karena gue liat kemaren banyak juga orang yang menikmati film yang mereka anggap sangat bagus tersebut. Terlepas dari pujian & kritik yang masuk, gue salut bahwa seorang IAN bisa membuat film yang notabene nya pasti telah membuang banyak waktu, tenaga, uang & pikiran dan dia berhasil mengumpulkan orang2 untuk menonton karya nya and what more, bisa memacu dia untuk membuat lebih banyak karya lagi, nggak kayak gue yang cuma bisa kritik and komentar di blog doang. Bravo Ian !!!

To be continued…review on “Berbagi Suami”, itu juga kalo gue nggak males nulisnya yah…





dezig wrote on Apr 11, '06
ReviewReviewReview
To be continued…review on “Berbagi Suami”, itu juga kalo gue nggak males nulisnya yah…
jgn males dong.. kan gue pengen tau...
kalo males nulis, review sm gue aja gimana?! ;;)
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.