
eh salah, salah, maap, maap, that was Tamara Blezensky's line...
Seharusnya judulnya Danieeeellll I love youuuuu !!!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oh, did I ever tell you that I fall easily with man who plays guitar ? haha
Anyway, I was so excited to learn that Daniel Sahuleka, one of the very rare Indonesian International Singers came to Indonesia to perform a live in concert at Erasmus Huis, at the Netherlands Embassy. Bukan nya karena nontonnya gratissan (as I’d pay or the entrance ticket if I have to), tapi karena gue bisa liat dia dari deket banget.
Lain kalo di Java Jazz kemaren yg cuman bisa diliat dari jauh aja, di Erasmus kita bisa photo & ngobrol bareng dia bentar setelah show nya selesai. *Btw, Andreas, kita harus coba ilmu “menghilang” loe, as Andreas could get inside without an entrance ticket, haha!*
I had always loved Daniel since I was a kid. Not that I’m a fanatic fans of his, tapi karena selain lagu2nya yang indah, balada, melankolis & easy listening, emang dia itu punya kharisma yang bagi gue menebarkan hawa & atmosphere of love, peace & harmoni. Pokoknya, jiwa menjadi tenang aja, kalo dengerin lagu2nya. Mungkin kalo disini, dia itu Ebiet G Ade nya kita kali yaahh.
Di awal pembukaan pertunjukkan nya, Daniel muncul dengan rambut lion kingnya dia yang panjang terurai, trus pake kaos - you can see my ketek -, dan dia memakai celana jeans ketat yang – hmmm how do I put in words, so 70 ??? *lirik Arini*. (Oh I start to sound like those cool bitches, neng sarah, mbak diah & mpok jane at http://www.whodoyouthinkheare.blogspot.com/ who critize artists and their lame taste of fashion all the time). Dia juga pake sendal jepit santai. Pokoknya, gaya nya Daniel cuek & asik banget dah !
Aaaahh, just ignore the outfit part. Yang jelas, tadi malem Daniel menyanyikan lagu2 lama nya dia, juga memperkenalkan beberapa lagu2 baru (if I didn’t have you - was awesome), dan tentu saja, ditutup oleh lagu kebangsaan Daniel, “you make my world so colourfull” & “don’t sleep away”.
Actually I was waiting for him to perform “ will you still be there”. Tapi karena hampir semua lagu2nya bertema kan cinta, so lagu yang menginspirasikan orang untuk bunuh diri ini nggak dia nyanyiin :-)
Anyway, Daniel was energetic and full of life. Dengan suara yg khas dan permainan gitar yang Daniel bangeeettt, dia juga berkomunikasi dengan penonton dengan bahasa Indonesia yg belepotan, jadinya lucu!
Pokoknya, intinya Daniel was very entertaining, dan dia mendapatkan dua kali "standing applouse' dari kita2 semalem.
Pulangnya, ketemuan & ngumpul2 bentar sama temen2 alumni sastra Belanda Universitas Indonesia, sekalian reuni kecil2an. Ada Irfan, Eca, Gideon, Galuh, Iga Mawarni, etc. Trus juga ada anak2 batmus Irma, Wahyudi, Cindy, Ela & Arini. Oh whatta lovely night! I wouldn’t mind to see another concert of Daniel Sahuleka again !
  | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Chord's Movie
Judul : Spiderman 3 Pemain : Tobey Maguire, Kirsten Dunst, Thomas Haden Church, Topher Grace, James Franco Sutradara : Sam Raimi Produser : Stan Lee, Joseph M. Caracciolo Jr, Kevin Feige Genre : Action / drama / Science Fiction Produksi : Sony Pitcure
Spiderman Melawan Diri-nya Sendiri
Siapa yang kamu bayangkan atau kamu inginkan bisa menandingi pahlawan yang gemar melompat dan berayun ini? Kalau kamu inginkan musuh-musuh hebat, kamu bisa ter-puaskan di film ini. Dengan catatan, kamu memang sudah mengenal dan mengikuti kisah pahlawan laba-laba ini baik lewat komik maupun serial di TV. Dan, jika kamu pingin enak nonton 'Spiderman 3' ini, ada baiknya jika kamu sudah menyaksikan edisi pertama dan kedua. Karena, satu dengan lainnya, saling berhubungan.
Yang membuat fim ini menarik, kamu tidak hanya disuguhi special effect yang ok, pertempuran seru dengan beberapa musuh bebuyutan yang ganas, tapi film ini juga menampilkan sisi humanisme. Ternyata musuh terberat bagi Spiderman adalah melawan dirinya sendiri, termasuk bagaimana menyeimbangkan peranannya sebagai seorang Superhero dan sebagai Peter Parker (Tobey Maguire) kekasih Marry Jane alias MJ (Kristen Dunst). Kisah yang bisa membuat kamu terharu dibuatnya.
Kisahnya dimulai dengan pertempura Spiderman dengan Green Goblin Jr. Pada film edisi sebelumnya, Green Goblin yang bersenjatakan bom-bom tangan terbunuh lewat pertempuran yang seru. Kematian Green Goblin, tidak diterima oleh sang anak, Harry Osborn yang ternyata menyimpan dendam pada Spiderman. Harry Osborn yang menjadi Green Goblin Jr. (James Franco) yang sebenarnya sahabat Peter Parker semasa SMA, kemudian melanjutkan aksi sang ayah dan bersumpah untuk membunuh Spiderman yang dianggap menghilangkan nyawa bapaknya Green Goblin Sr.
Pertempuran antara Spiderman dan Green Goblin Jr. yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Peter Parker berhasil diakhiri, karena Green Goblin Jr. terbentur benda keras yang menyubabkan Harry Osborn kehilangan ingatan selama beberapa saat. Hubungan Peter Parker dan Harry Osborn-pun akhirnya baik kembali.
Sementara, seorang residivis yang berhasil lolos dari penjara terjun ke sebuah percobaan kimia, yang memberikan kekuatan khusus padanya. Muncul penjahat baru bernama Sandman (Thomas Haden Church) yang bisa mengendalikan pasir sesuai yang diingnkannya. Di sisi lain, hubungan Peter Parker dan MJ semakin memburuk, karena kesibukan Peter Parker sebagai superhero. Padahal MJ butuh perhatian khusus, karena karir-nya yang mulai berantakan. Hal ini menyebabkan hubungan mereka putus untuk smentara.
Ditengah keputus asaan-nya, termasuk sulitnya melawan Sandman yang ternyata dulunya adalah pembunuh paman Peter Parker, Spiderman terjangkit semacam parasit yang menempel di tubuhnya. Parasit yang berasal dari angkasa luar ini membuat kostum spiderman menjadi berwarna hitam. Dampaknya, Spiderman menjadi semakin kuat, agresif, tapi emosinya menjadi tidak terkontrol.
Dengan kostum baru ini Spiderman berhasil mengalahkan Sandman tanpa ampun, dan membuat cidera berat Green Goblin yang sadar kembali dari penyakit amnesia-nya. Pertempuran yang terkesan cukup sadis, yang tidak pernah dilakukan oleh Spiderman sebelumnya. Tidak hanya itu, Peter Parker malah sering bertindak konyol, norak dan ke PD-an. jauh dari karakter aslinya. Hal ini tentunya semakin memperburuk hubungannya dengan MJ. Sadar ada hal yang salah, walaupun sempat merasa nyaman, Spiderman melepaskan parasit yang menempel ditubuhnya tersebut.
Hal ini justru menimbulkan petaka baru, parasit yang terlepas ini malah menempel ke seorang fotografer ambisius Eddy Brok Jr. (Topher Grace), yang sangat membencinya. Fotografer ini kemudian ber-metamorphosis menjadi Venom, penjahat yang kejam, tapi memiliki karakter yang hampir sama dengan Spiderman. Venom akhirnya berhasil mengajak Sandman untuk bersama mengalahkan Spiderman, dengan cara menyandera MJ. Tentu saja Spiderman tidak bisa melawan keduanya sendirian. Sebagai seorang teman, Peter Parker mengajak sahabat yang membecinya Harry Osborn alias Green Goblin Jr. untuk bersama melawan keduanya. "MJ membutuhkan pertolongan kita. Di luar kostum ini, kita bertiga adalah sahabat.' ajak Peter Parker yang identitasnya sudah diketahui oleh Harry Osborn. Padahal bekas luka yang ditimbulkan pertempurannya dengan Spiderman sebelumnya masih membekas di wajah Harry.
Maukah Harry membantu Spiderman melawan kedua musuhnya yang terkenal ganas itu? Nggak asyik kalau diceritakan disini. Kamu harus menyaksikan film ini langsung. Seru habis, apalagi dengan special effect yang membuat kamu akan terkagum-kagum. Maklum film ini ditangani oleh Sam Raimi yang dulunya sukses dengan serial 'Hercules' yang pernah diputar di TV Indonesia beberapa tahun lalu. (Andr)
Note : Venom Penjahat No : 1
Venom boleh babak belur menghadapi Spiderman. Tapi masalah popularitas, tunggu dulu. Sebuah asosisasi komik di Amerika, pada akhir tahun 80-an mengadakan survey, untuk mencari siapakah tokoh komik yang paling popular dan digemari? Hal ini sebenarnya digunakan untuk menaikkan citra per-komikan di Amerika sana. Tapi saat survey selesai dilakukan, hasilnya cukup mengejutkan. Venom (yang saat itu baru muncul) menduduki urutan pertama sebagai tokoh komik paling popular, mengalahkan nama-nama superhero seperti Spiderman atau Batman, bahkan Superman berada di urutan yang cukup jauh dari posisi penjahat yang kekuatannya meng-kloning kemampuan Spiderman ini.
Banyak penerbitan komik seperti kebakaran jenggot melihat hasil survey ini. Tapi, memang inilah kenyataanya. Jika Superman punya Lex Luthor maka Spiderman memiliki supervallian paling ganas yaitu Venom, selain supervalian klasik Dr. Oct (di Spiderman 2). Venom diciptakan oleh David Michelinie dan Todd McFarlane pada generasi selanjutnya.
Awalnya tokoh ini diciptakan, untuk menambah semarak lawan Spiderman dari versi asli Stan Lee dan Steve Ditko dengan musuh bebuyutan Dr. Oct. Penjahat jenius dengan senjata lengan-lengan besi ditubuhnya. Di cerita-cerita Marvel Comics yang terbit hingga saat ini, Venom merupakan salah satu musuh yang paling ditakuti dan paling banyak muncul melawan si Spidey ini.(Andr)
'Andree S'troo' AudioPro Magazine Pulo Buaran III F5-6 BPSP Kawasan Industri Pulo Gadung, Jaktim 13930 Telp. 021 - 4619502 / 03 Fax. 46826450
________________________________________
 | Category: | Movies | | Genre: | Other |
Ragu2. Itu yg terpikir di otak gue sebelum nonton dua film ini, karena beberapa orang bilang, film2 ini biasa aja. Tapi karena gue pecinta film, apalagi film2 horor & kolosal, gue tetep aja nonton dan cuma satu kata buat film2 tersebut ; TERPESONA.
Ya, gue terpesona dan terkesan menonton nya, karena no matter what people say, bagi gue, film perang sejarah 300 & film drama horor Lewat Tengah Malam yg baru gue tonton ini keren mampuuuzzz !!!
Baik dari segi cerita, acting, ekspresi, kostum, background, lighting, warna, pengambilan gambar, sound effect, animation dan ending ceritanya, semuanya meet my expectation. Pokoknya keren mampuuuzzz !!!
RECOMMENDED !!!
| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Akhirnya jadi juga kita PinTong BatMus nonton Badai Pasti Berlalu di Senayan City Square (Sensi) jam 19.30 malem Jum’at. Kemaren…
Film ini merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel karya Marga T yang diterbitkan pada tahun 1974. Novel ini merupakan serialisasi dari cerita bersambung yang dimuat di harian KOMPAS dari 5 Juni 1972 hingga 2 September 1972. Cerita bersambung tersebut ternyata digemari pembaca dan juga menarik perhatian dunia sastra Indonesia, sehingga saking bagusnya, maka filmnya pun dibuat oleh Teguh Karya.
Endah yang kebagian tugas membelikan 33 tiket (jumlah anak2 yang nonton bareng) dateng duluan dan udah nongkrong di 21 menanti temen2 BatMus yang pake dress code baju PINK karena disesuaikan dengan tema valentine & disesuaikan dengan filmnya. So, sebelum nonton, kita makan dulu di foodcourt, dan sebelum masuk ke bioskop, gue dengan tololnya iseng2 mengecek siapa aja yg nggak pake PINK, dan beberapa temen yang nggak pake baju atasan dan bawahan pink menunjukkan aksesoris lain yang berwarna pink : Mayasari bawa selotip pink, Risca bawa manisan gulali rambut nenek berwarna pink, Dwi pake seragam batik pink (maksa) Arini pake underwear pink, dll dsb.
Dan ketika film akan mulai, semua temen2 masuk kedalam (ya iyalaaaah, masak masuk keluar) dan ternyata bioskop tersebut hanya terisi oleh kita2 aja sehingga kita bisa duduk dimana aja dan photo2 heboh sebelum dan sebelum film mulai.
Okeh, done with the intro, now the real thing.
Film Badai Pasti Berlalu itu enggak banget !!! (tanda serunya tiga saking jeleknya)
Sumpe lo, dari semua film Indonesia yang udah pernah gue tonton, film ini yang menurut gue pribadi scorenya menjadi PALING rendah, hanya karena pemain utama nya, Leo (Vino Sebastian) merusak segalanya. Untuk seorang pemain utama yang menjadi seorang mahasiswa kedokteran yang popular, dia itu nggak ada cakep2nya. Badannya yang terlalu sering dipertontonkan (yang sering di shoot lagi main surfing) juga enggak bagus, ceking nggak jelas gitu. Tambah lagi gayanya, actingnya, pose nya, senyumnya, ketawanya, semuanya terlalu dibuat2. Mungkin dia mencoba untuk menjiwai perannya sebagai seorang playboy dan di gilai perempuan, tapi sumpe deh, suara nya Vino yang menjadi Leo di film itu bikin polusi telinga…pecah, melengking, serek2 ancur.
Betapa mengecewakan, mengingat film aslinya merupakan film fenomena pada zamannya, dan dibintangi bintang film kawakan yang berakting bagus.
Nggak, gue nggak menuntut aktornya harus ganteng, tapi at least harus charming kali yaaaaa (jdi inget abang kodok, huahahahahahaha), dan nggak perlu selalu senyum terlalu lebar di hampir semua dialog (yg tidak memerlukan ekspresi senyum), sehingga kita nggak jadi ill-fill gitu nontonnya.
Enough about Vino (pheeww), let’s talk about others. Others are not as bad as Vino, tapi juga nggak bagus2 banget. Siska (Raihaanun – aduh nama loe susye deh ngeja dan nyebutnya) yang kalo di awal2 film bermain sangat kaku, ketika beradu akting dengan Helmy (Winky) lama kelamaan aktingnya mulei bagus. Dia kebantu sama aktingnya Winky yang natural (oh well, udah jam terbang kali yah, eh enggak juga deh, Wingky waktu pertama kali main film aktingnya udah bagus daripada mereka). Untung Raihaanun terbantu sama bodynya yang bagus dan seringnya dia memerkan keseksian tubuhnya dengan memakai rok2 mini dan baju yang toketnya kemana2, sehingga aktingnya yang kaku dan biasa aja bisa “dimaafkan” karena gue perhatikan beberapa orang lebih mikirin bodynya dia daripada aktingnya, huehehe.
Joni ? kakaknya sisca ? wuidiiiihh…semua temen2 ngebahas tentang si kakak yang terlalu sayang sama si adik sehingga kita sampe mikir, kok kakaknya jadi napsu gitu sama adiknya…bayangin nih yaaa…si kakak yang baru sebentar berpisah dengan adiknya dan menjenguk adeknya yg lagi patah hati di bali, begitu dateng langsung memeluk adiknya dengan digendong, diangkat, diputar2 layaknya pasangan orang pacaran atau suami istri kalo lagi kangen2an….blom lagi di episode laginya yang Joni bilang “kakak sayang kamu” sambil meluk mesra gitu…enggak banget deeehhh…aduuw, siapa sih nih sutradaranya ???
Davina? aktingnya lumayan, tapi itu juga mungkin karena dia nggak banyak dialognya, cuma sekedar muka cantik - body yahud (sempet memperlihatkan badan nya dia yang topless di ranjang) yang muncul sebagai wanita penggoda, jadinya nggak perlu terlalu dibahas. Indra Birowo juga nggak pantes maen serius (waktu di episode anaknya Siska meninggal), soalnya, kita biasa liat dia berakting asal2an kocak di serinya extravaganza dan terakhir di film d’ biji’s, sehingga ngeliat dia bawaan nya mau ketawa melulu, biarpun dia udah berusaha keras untuk menunjukkan ekspresi serius, *nggak ngaruh kali ndraaaaaaaaa…hihihi*
Dewi Irawan & Slamet Rahardjo yang bermain sebagai orang tua Siska & Joni bermain bagus, tapi yaitu tadi, mungkin karena jam terbang juga yah, nggak fair kayaknya kalo gue bandingkan dengan mereka2 yang newcomer di bidang perfilm-an.
And the nitemare continues, let’s talk about dialog. Dialognya basi.
Leo : siska, kamu merokok ? Sisca : Iya, kenapa ? Leo : Engak, keren aja. Siska : Diam, ngak ada komentar, hening… (Kemudian dialog beralih ke bahasan lain yang sama garingya)
*ayo menghela napas bersama*
Oh well, sebenernya masih banyak lagi kritikannya, tapi males ngebahas nya, soalnya ntar malah jadi males nonton film Indonesia lagi…kemaren aja kita bawaannya malah jadi saling mengganggu, and make fun of the movie…malah ada yg setengah tidur (lirik sapa yaaa..hihihi)
Untung aja setting pelem nya di Bali, dirumah orang kaya pula, sehingga kita bisa menikmati indahnya villa, design rumahnya dan pemandangan cantik selama filmnya diputar.
Sorry, but tthe film did not meet my expectation at all !!!
Jadiiiii, kembali ke laptop -> Pertanyaan nyaaa kalo filmnya jelek, salah siapa ? - salah sutradaranya ? - salah produsernya ? - salah orang yang casting pemain nya ? - salah pemain film nya ? - salah ujan yang bikin cuaca jadi tambah dingin diruang bioskop ? - salah anak2 BatMus yang nonton pake baju pink ? - salah gue yang nulis review nya ? - salah kalian yang baca ulasan gue yang nggak penting ini ??? - ataaaau, salahin kantor gue yang ngeliburin karyawan karena imlek, sehingga long week end ini kerjaan gue hanya pacaran, ngopi2, ngumpul2 sama anak2, jalan2, makan2, belanja2, nonton2, leyeh2, nge blog2, nge review2, dan sekarang lagi nungguin mbak sumi untuk dateng mijet ???
salah siapa, cobaaaaaaa ???
| Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Senopati |
Jam 08.30 siang… baru nyampe kantor neh eikeh, gara2 barusan nemenin uda Indra sama mbak Anna makan bubur ayam di Senopati dulu…
duh itu bubur ayam emang endang bambang tralala gerobaknya parkir di depan Klub Fitness Ade Rai yang sejajaran dengan Apotik Senopati… Coba deh, sekali nyoba, bisa ketagihan...
akhirnya, gue liat juga show nya Tukul Arwana yang Fenomena itu...!!! bener2 tayangan yang ANJRIT keren boowww...!!! Very entertaining show - in this so crazy life indeed...!!!
Empat Mata, 4 kali seminggu di Trans 7, jam 10.00 malem .. nonton deh !!! Dijamin nagih....!!!
*Kembali ke LapTop !!!*
(eh gue baru nyadar kenapa tanda serunya banyak bener yah boww ???)
 | Category: | Books | | Genre: | Entertainment | | Author: | Andrei Aksana |
Yeap, nama penulis novel hebat ini adalah ANDREI AKSANA. Tadinya gue iseng2 beli novelnya yang berjudul "One Night Stand" alias Cinta 24 jam" untuk gue baca2 selama di pesawat waktu mau ke Bali kemaren, barengan dengan beberapa novel & science fiction baru lain yang gue beli. Tapi karena nggak sabar, gue buka novelnya sebelum berangkat dan gue terpesona. Gue nggak pernah baca/denger tentang pengarang novel ini sebelumnya (hellooo, kemana aja gue selama ini?). Gue kira tadinya novel ini sejenis novel ringan roman picisan, but Oh My God, It was one the most beautiful story ever written !!! Gue rasa, dia juga merupakan satu2nya penulis novel yang menyertakan CD yang berisikan lagu2 balada, cinta & romantisme yang dinyanyikannya sendiri, dengan suaranya yang indah!
Trus halaman demi halaman gue baca, sampe nggak terasa gue menyelesaikan novel tersebut dalam waktu 2 jam nonstop, dan kesimpulannya, novel2nya Andrei Aksana are MUST-HAVE books !!!
Kenapa gue langsung jatuh cinta kepada pengarangnya yang ganteng, maskulin dan dandy (which I think is gay) tersebut ? Karena alur cerita novelnya begitu beda dengan penulis2 novel yang pernah gue baca selama ini, pengungkapan nya begitu jujur, berani & menantang arus, romatik, seru, unpredictable, and what important is, his story is so “today”, dengan bahasanya yang santai tapi “berkelas”, plus diselipi banyak puisi2 (baik yg ringan maupun yang berat) yang berhubungan dengan ceritanya, apalagi kalo bacanya sambil dengerin lagu2 dia dari CD yg dikasih tersebut, mantaaapp !!!
Dan gue jamin bahwa kalian2 yang baca cerita yang ini, terutama para wanita (atau bahkan gay) akan ikut merasakan apa yang tokoh utamanya rasakan. Kalian bisa ikutan merasakan bahagia, bingung, gelisah, deg2an, penasaran, ketakutan, marah, sedih sampe berlinang2 air mata ngebacanya, suweeeerrrrr deh. Dan yang gue suka, the story is not a happy ending. Bukaaann, bukannya gue suka sama bacaan yang balada2 begitu, tapi novel ini beda aja karena tadinya dari alur ceritanya gue mengharapkan happy ending dan ternyata akyu tertipu (hah! penipu kok ya bisa tertipu-hehe). This man kindda remind me of Sydney Sheldon yang selalu memberikan surprise dan ending yang berbeda2 di setiap cerita2nya. I wish I could write as great as he is, then more people would love my writing, then I could be a writer, perhaps a famous one too. Jadi ngetopnya nggak cuma di FS & MP doang...hihihi
Gue rasa kalo Andrey menerjemahkan semua novel2nya tersebut kedalam bahasa Inggris (as his English is excellent) dan melemparkan nya ke pasaran Internasional, bukunya akan menjadi best seller dunia. I can just feel it. He’s gonna be a BIG man someday, and somebody better tells him that.
Seperti apa sih novel2nya ? baca aja sendiri yah, nggak seru kalo gue ceritain disini :-)
Sementara kalian cari2 novelnya yang berjudul Cinta 24 jam, gue mau baca novel dia yang berikutnya “Lelaki Terindah”. Another one of the best, I bet...
Well Andrei Aksana, You got yourself a new fans, ME, Deedee Caniago !!! ------------------------------------------------------------------------------------------------- Sekilas tentang Andrei Aksana, the singing author.
Penulis, penyanyi, dan pencipta lagu ini menggebrak dunia perbukuan Indonesia dengan karya fenomenalnya, "Abadilah Cinta". Novel2 Andrei adalah pertama di dunia yang menerapkan konsep integrated : novel-soundtrack-videoklip, dan dinyanyikan sendiri oleh penulisnya, yang langsung dicetak ulang dalam 5 hari. Novel2 selanjutnyapun telah menjadi best-seller.
Andrei Aksana is the author of numerous bestsellers, including Abadilah Cinta, Lelaki Terindah, and Cinta 24 Jam. His masterpiece novel—Lelaki Terindah—has become one of the pioneer in Indonesia's gay literature.
Ia cucu pujangga Sanoesi Pane dan Armijn Pane. Kakek buyutnya, Sultan Pangurabaan Pane, penulis roman dan pendiri surat kabar Surya di Tapanuli, juga perintis musik musik tradisional uning2an. Putra kedua novelis Nina Pane dan Jopie Budiarto ini merupakan generasi Pane keempat yang melanjutkan darah seni sebagai penulis.
Kesibukannya sebagai marketing director perusahaan retail internasional yang sering melanglang buana, tidak membuatnya surut berkarya. Pria lajang ini menulis di berbagai penjuru dunia yang membangkitkan inspirasinya. Gaya bahasa romantis dan mengaduk emosi, menjadi kekuatan karyanya. Tak puas hanya disitu, ia pun bertekad untuk menggarap konflik psikologis dan sosial.
  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
So, pulang dari acara PTD (Plesiran Tempo Doeloe) nya BatMus (Sahabat Museum) kemaren, gue, ninta, vira & risca lanjut ke PIM untuk nonton film Maskot. Awalnya gue nggak terlalu ngeh ini film tentang apa, pokoknya gue asal ikutan ajah, tapi ternyata, film ini merupakan drama komedi yang awesome, film sederhana yang bisa bikin kita ketawa mulai dari awal sampe akhir film. Filmnya ringan, norak, kadang impossible, tapi kadang juga gambaran keseharian sehari2 kehidupan kita yang pesannya disampaikan melalui karakter2 pemainnya melalui ekpresi dan dialog2 nya.
Ceritanya yang disutradai oleh Robin Moran ini bermula dari tahun 1965, dan dibuka dengan scene peternak ayam yang lagi sress ketika ayam2nya pada mati serentak (nggak dibilangin sih, kenapa ayam2 tersebut pada mati), akan tetapi ternyata masih menyisakan satu ayam jago yang masih hidup. Matinya ayam2 tersebut membuat kesal dan amarah pemiliknya, Mr X (gue lupa siapa yg memerankan ini) yang pada saat makan siang dengan para pegawainya masih termenung merenungi nasib. Dan ketika amarah sudah sampai puncaknya, dia sampe melemparkan segala macam benda2 seperti sendok, garpu, sampe piring kaleng ke arah ayam. Yang bikin keren, ayamnya ternyata jadi jago ngeles. Dengan jurus Jet Li, dia meloncat kesana kemari menggunakan gerakan kungfu kayak di film2 kartun untuk menghindari lemparan, dan sebagai balasan, ayam tersebut naik ke atas meja tempat si Mr. X duduk, dan memberi serangan balasan, balik melempar segala macam kelontong tersebut kepada ownernya. Asli, baru 5 menit filmnya mulai, kita semua udah ngakak abis.
Nah, setelah acara lempar melempar ini selesai, Mr X baru menyadari, bahwa ternyata ayam yang gagah berani pantang menyerah tersebut merupakan pertanda lambang kesuksesan dia dalam berbisnis, dan mulailah ayam tersebut dijadikan maskot perusahaan yang dia dirikan, yaitu perusahaan kecap ayam medja yang menjadi satu pabrik besar yg sukses..
Lalu adegan beralih ke tahun 1993, ketika Mr X yang sudah mulai tua dikunjungi oleh anaknya Pak Widjaja (L Manik) yang datang mengunjungi pabrik bersama anak semata wayangnya Dennis (Aryo Wahab) yang masih berumur sekitar 10 tahun. Didalam pabrik, Mr. X yang sudah mulai lanjut usia memberikan wejangan seraya menyerahkan tahta kepemimpinan kepada anaknya tersebut, Widjaja. Dan ketika Mr X dan Widjaja sedang sibuk berbincang2, anak kecil yang nakal tersebut mulailah explorasi dengan mengutak atik segala macam perlatan elektronik disana (walaupun nggak mungkin aja yah bow, pabrik sebesar itu membiarkan pegawainya bekerja tanpa PPE alias personal protection equipment seperti helm, boot and masker – dan boleh membiarkan anak kecil tanpa guidance orang dewasa berkeliaran dan bisa masuk kedalam area high voltage alias tegangan listrik tinggi tanpa pengawasan ). Akhirnya gara2 dia maen pencet2 tombol yang menyebabkan kerusakan besar, Mr X ceritanya cedera dan meninggal dunia, dan ayam yang sudah menjadi maskot selama bertahun2 pun meledak (sumpe meledaknya tuh ayam keren, huehehe).
Okeh, akhirnya sebagai hukuman, Dennis yg suka error itu, dikirim oleh bapaknya untuk sekolah hingga kuliah di jurusan teknik sebuah perguruan tinggi di Jepang untuk belajar, sementara Widjaja meneruskan bisnis sang ayah, sampai suatu ketika ada suatu pengambilan iklan (adegan iklannya juga dodol banget), terjadi kecelakaan di pabrik, dimana pabrik kembali meledak dan ayamnya generasi penerus juga hancur lebur, Dennis yang sudah gede dan kuliah dikirim kembali ke Jakarta untuk menegok ayahnya yang cedera dan kena serangan jantung dalam keadaan koma karena kecelakaan tersebut. Sebelum koma, sang ayah sempet menitipkan pesan kepada para Direkturnya bahwa anaknya yang masih muda tersebut akan memegang pimpinan perusahaan dengan satu syarat khusus, yaitu bisa menemukan ayam jago baru yang akan menjadi maskot baru perusahaan.
Ketika Dennis membesuk ayahnya di RS (ih, udah lama loh gue nggak pake istilah membesuk), ada seorang lelaki berambut panjang (kita sebut saja Pak Z) yang nggak jelas dia itu sebenernya siapa dan posisinya di film tersebut sebagai apa, karena orangnya misterius, ada dimana2 (dalam mimpi, dalam pikiran dan inspirasi Dennis), sehingga kita pikir Mr misterious ini sebenernya penasehat spiritualnya keluarga Pak Widjaja tersebut). Anyway, untuk menemukan ayam keramat tersebut, Pak Z memberikan clue sebuah tempat yang tidak diketahui dimana letaknya, dengan petunjuk2 yang kurang informatif. Yang diberitahukan hanya suatu arah, dimana Dennis harus menuju kearah Utara, dimana nantinya dia akan menemukan gunung kembar yg bernama Payudara Bumi, dimana disana ada sungai berair hitam dan bercabang seribu tempat para bidadari mandi. Sang ayam akan berkokok ketika tengah malam di bawah bayang-bayang bulan purnama. Bingung kaaan ? Jangankan Dennis, kita aja yang nonton bingung aja loh, dengan cluenya yg ngak jelas itu. Anyway, Dennis pun dengan semangat 45 bersiap2 untuk mencari ayam maskot tersebut. Masalahnya, para Direkturnya tidak mau Dennis menggantikan bapaknya, mengingat Dennis itu masih muda dan tidak berpengalaman, sedangkan mereka sudah bekerja di perusahaan tersebut selama bertahun2 dan mereka merasa, salah satu dari mereka - terlebih2 Pak Misran (yang dimainkan oleh Butet Kertaradjasa) lah yang lebih layak untuk menjadi pimpinan nantinya. Maka, disusunlah rencana untuk menggagalkan usaha Dennis mencari ayam sakti tersebut. Dan dikirimlah Misran (lebih tepatnya dia menawarkan diri) untuk menemani Dennis dalam mencari ayam dengan dalih ingin membantu.
Mulai dari sinilah kelucuan demi kelucuan terjadi, dimana Dennis, Butet dan drivernya melewati hari2 bersama penduduk setempat bersama dengan masalah2 yang akan timbul nantinya, seperti masalah panceklik dan ribut antar desa karena berebutan air untuk padi disawah, rebutan cewek (Maruti) antara Dennis dengan pemuda lokal setempat (Sapari), sampe peristiwa maling ayam.
Banyak adegan2 lucu dan norak dan enggak bangeeett (misalnya, untuk seorang gadis desa yang lugu dan polos, coba yah, baru kenal dengan pemuda asing, trus dipegang tangannya sekali aja, si cewek Maruti udah napsu aja mau ciuman dengan Dennis. Trus waktu adegan air waduknya tumpah, keliatan banget gambar tiga dimensi nya, pokoknya masih banyak lagi deh kejadian2 dodol lainnya deh).
Butet itu bagus banget mainnya. Dia bisa banget memainkan peranan orang yang munafik, culas, bermuka dua, yang selalau memutar balikkan fakta, pokoknya, all the bad things – you name it. Blom lagi dialog2 nya yg kocak, nada kalimat dalam pengucapan2 dialognya yang naik turun juga ekspresi mukanya itu loooh, yang bikin gemes sekaligus bikin kita sebel sama dia :-)
Trus ada Epy Iskandar yang main sebagai Sapari, cariknya lurah, aparat keamanan kampung itu dengan kacamata itemnya dan – oh my god itu kenapa yah semua bajunya ada photo dirinya – juga gayanya dengan sepatu bootnya plus kelakuannya, dia berhasil membuat kita ngakak2 dengan gaya nya yg tengil dan belagu ala jagoan kampung. Rupanya dia takut gebetannya si Maruti bisa jatuh ketangan cowok kota, si Dennis itu
Aryo Wahab dan Uli Auliani (Dennis and Maruti) ??? Oh well, biarpun mereka mainnya masih kaku, tapi for beginner, not bad laaah. Trus gue suka sama si supir bolotnya, siapa yah yg memerankan tokohnya?
Gue nggak ngerti, kenapa film ini juga pake teks bahasa Inggris, biar bule2 juga bisa nonton kali yah, atau mungkin nantinya mau dikirim untuk ikutan festival film International ? Mudah2an. Tapi nggak seru, kan kalo diterjemahin kedalam bahasa Inggris jadi kurang lucu :-)
Gue cuma pengen komentar, informasi yang ditulis di website mereka : http://maskot.randompicturesindonesia.com sangat sedikit banget, kayak nggak niat gitu bikin web nya, huehehehe.
Trus, menurut gue pribadi, seharusnya judul film nya dibikin lebih heboh dan lebih komersil lagi, misalnya “AYAM” atau “pencarian binatang sakti” atau „SAPI BERISIK“ atau apalah, jadi orang2 lebih penasaran kepengen nonton. Title DOES make a diffrence (cateeett). (Gue udah ngebuktiin kok, dimana kalo blog gue dibuat judul yg “heboh”, orang2 pasti pada ngintip bacanya, biarpun nggak pada komentar – ih, mentang2 gue sekarang lagi seneng ngitung siapa aja dan berapa jumlah orang2 yg ngebaca blog gue tiap harinya, huehehe). Jadi, film Maskot yang menurut gue lucu dan recommended ini cuma ditonton oleh segelintir orang. Buat film bagus di hari Minggu sore, teather ini sepi banget penontonnya. Sayang sekali.
Untuk detail nya, silahkan nonton sendiri yah, gue males ngetiknya. Lagipula, nggak seru kalo semuanya diceritain secara detail. Jadiiiiiiiiii, kalo kalian pengen nonton film drama ringan yang dibumbui romatisme, lucu dan ngak terlalu mentingin logika, kalian HARUS nonton ini film ! It’s very entertaining !
PS. Gue lupa bilang, sutradaranya mas Robin Moran itu guanteeenng….(eheemm) Tapi sumpah, film nya gue bilang bagus bukan karena sutradaranya ganteng looh, suweeerrrr. Sutralah, hari ini kan nomad yah, so get your ass to the nearest Cinema and see it yerself !!!
  | Category: | Movies | | Genre: | Documentary |
Sebenernya gue males nulis review secara serius, karena it’s easier for me to write a simple ‘day to day’ story or activity rather than a topic that needs me to think a bit “hard” hehe.
Okay, I wrote this for Mpek2 bersaudara (please deh guys, id kok ya MPsneak, ketebak banget deh ah), yang pengen tau pendapat gue tentang dua buah karya anak bangsa yang udah kita tonton, yaitu “Thank You & Good Night Mother” dan “Berbagi Suami”
For reference, gue beberapa kali nonton film screening karena dulu gue kenal sama Reka, sutradara nya sinetron Bajaj Bajuri dan banyak sinteron drama lainnya yang pernah memenangkan SCTV award dengan film independent nya. Dia sering ngundang gue dan temen2 untuk nonton hasil karya nya. Tapi kayaknya nggak fair ngebandingin karya Reka yang lulusan IKJ yang notabene nya udah berpengalaman banget untuk membuat film independent, lagiupla gue disini bukan mau ngebahas tentang filmnya Reka, tapi tentang filmnya Ian.
Mari kita liat hasil review yang pertama, film screening “Thank You & Good Night Mother” yang gue tonton sama temen2 di Goethe Institute, a while ago.
Film screening ini adalah film perdana karya Ivan Handoyo. Honestly speeking, to me personally, filmnya biasa aja, menceritakan tentang kehidupan para peselancar di pulau Bandulu dan Carita – Banten yang (ternyata) merupakan salah satu daerah surfing yang baru aja gue ketahui setelah nonton filmnya. Gue kira surfing cuma ngetop di Bali dan Pelabuhan Ratu doang.
Sutradara nya mencoba mengajak penonton untuk “get the feeling”, terjun dan berasa berada didalemnya, ini bisa diliat dari cara pengambilan gambar laut & ombak2 yang menggulung yang disorot dari atas, trus kebawah dan kedalam laut yang membuat kita seakan2 merasakan deburan ombak2 itu menyentuh kulit kita. It worked for me. I did feel the sensation, but then again, I didn’t enjoy the story very much karena setting ceritanya yg selalu loncat2 dari satu adegan ke adegan lainnya yang kadang2 nggak nyambung membuat gue berpikir, mungkin emang style nya dia seperti ini. Lalu Ivan juga menyorot the excitement para pecinta peselancar tersebut yang ditangkap dari ekspresi muka2 mereka yang polos.
Then again, setelah gue browsing2 lebih jauh tentang synopsis ceritanya di websitenya http://www.thankyouandgoodnightmother.com, gue jadi lebih ngerti kenapa dia bikin cerita seperti ini. Pada dasarnya, Ian hanya ingin mengekspresikan kecintaan para peselancar kedalam bentuk media lain, yaitu media film, nothing else, nothing more. Sayang sekali.
To me, Thank You and good night mother could have been better, mengingat cerita yang ingin diangkat adalah cerita yang menggabungkan antara pemandangan, hobby dan kehidupan sehari2 para peselancar.
Sebagai seorang photographer, Ian mencoba mengambil angle gambar dari kaca mata seorang photographer, dan menurut gue ini salah banget. Pemandangan nya emang bagus dan natural, tapi yang dia lupa, yang nonton dia blom tentu pecinta photography, akan tetapi bisa jadi adalah orang2 pecinta film2 dokumenter, film2 sejenis atau simply hanya para penonton film terkini yang biasa nonton film-film standard 21. Jadi, ending2nya, tetep aja penonton akan menuntut jalan ceritanya, apalagi kalo mereka sebelum nonton filmnya nggak browsing dulu ke website yang khusus dibikin untuk supporting film ini.
Mungkin akan lebih menarik lagi apabila sutradaranya menjadikan film ini menjadi sebuah rangkaian cerita sederhana yang berkesinambungan yang ada “isi” nya, misalnya kombinasi mengenai bagaimana caranya berselancar buat beginner dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar hingga akhirnya bisa berselancar, termasuk cara ngebikin papan selancarnya, dicampur dengan kisah2 ringan seputar kehidupan di Banten. Jadi ceritanya nggak monoton cuma kesan2 atau pengalaman2 orang2 yang tergila2 pada selancar aja.
Gue coba me recall memory gue waktu nonton kemaren, menganalisa dan mencoba mengerti waktu Ian ngejelasin di website nya tentang “momen kekinian dalam ombak menyimpan kebahagian untuk masa depan dan masa lalu mereka”. Yang gue liat di film adalah masa sekarang dan masa depan, so dimana kah adegan yang mengacu ke masa lalu nya ? Hal ini berkaitan dengan judul film itu sendiri, “Thank You and Good Nite Mother” yang menurut gue adalah ucapan perpisahan yang diucapkan seseorang yang sekarat atau malah sudah tidak ada lagi. Mungkinkah gue missed the earlier scene ? mengingat emang gue masuk ke dalam ruangan pemutaran nya sedikit terlambat dari jadwal ?
Messages yang hendak disampaikan seperti aim & goalnya Ian di film ini sudah hampir kena, yaitu pengalaman, kecintaan dan kehidupan sehari2 para surfer mengenai kecintaan mereka terhadap olah raga selancar yang membuat mereka kadang2 lupa diri dan ingin melakukan apa saja demi bisa berselancar. Cuma karena potongan2 yang beralih2 dari satu scene ke scene yang lain secara terputus, juga karena pemainnya adalah para penduduk lokal yang “naif” yang diwawancara dan cerita mereka dijadikan rangkuman, membuat film yg awal nya menarik tapi pada pertengahan film ceritanya menjadi sedikit membosankan.
Untuk orang2 yang suka selancar atau at least pernah nyoba belajar surfing kayak gue, cerita film yg nggak terlalu kena dihati nggak menjadi masalah, karena keindahan lokasi syuting plus penampilan peselancar bermain air tersebut membuat gue seolah2 ingin kembali lagi kelaut dan menyatu dengan alam. Akan tetapi, bagi orang2 yang nggak ngerti atau nggak suka atau malah blom pernah mencoba berselancar, ceritanya jadi tidak begitu menarik, sehingga beberapa orang yang duduk di row didepan gue terlihat tertidur.
[ Satu point menarik yang gue suka adalah pada satu sessi nya dimana seorang peselancar menceritakan bahwa dia harus menjual satu kerbau demi membeli sebuah papan selancar – this, is somehow interesting and sound cute ]
Trus yang juga bikin agak mengecewakan, setelah film usai, Ian sebagai sutradara nggak minggling dengan penontonnya. Nggak tau apa karena pada saat itu dia terlalu sibuk, terlalu capek, nggak ada waktu atau emang males ketemu orang2. Seharusnya setelah selesai film dia bisa berbaur dengan penonton dan menanyakan pendapat orang2 yang telah menonton karya nya, sehingga dia akan mendapat berbagai masukan dari berbagai macam orang dengan berbagai macam back ground mengenai hasil jerih payah karyanya, baik yang positif maupun yang negatif. Dan alangkah menyenangkan nya kalo kita bisa diskusi dan membahas tentang film dokumenter dengan sutradara langsung, sehingga bisa terjadi “bound” yang lebih akrab dan bisa memancing hastrat orang untuk menonton karya dia yang berikutnya (bila ada). Untungnya kita masih ada kesempatan photo bareng dia dan para surfer pemain filmnya, sehingga sedikit mengobati kekecewaan kami yang ingin membahas film dengan sutradaranya.
Nevertheless, don’t mind what I think, karena gue liat kemaren banyak juga orang yang menikmati film yang mereka anggap sangat bagus tersebut. Terlepas dari pujian & kritik yang masuk, gue salut bahwa seorang IAN bisa membuat film yang notabene nya pasti telah membuang banyak waktu, tenaga, uang & pikiran dan dia berhasil mengumpulkan orang2 untuk menonton karya nya and what more, bisa memacu dia untuk membuat lebih banyak karya lagi, nggak kayak gue yang cuma bisa kritik and komentar di blog doang. Bravo Ian !!! To be continued…review on “Berbagi Suami”, itu juga kalo gue nggak males nulisnya yah…
 Nggak ada yang mau di review... wong udah lama gue nggak nonton pelem bioskop... iseng aja nge-post... cuman mau menuh2in blog gue aja...hihihi
     | Yasmin | Dec 20, '05 7:20 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Foreign |
Jadi ceritanya, hari minggu kemaren gue nonton Jakarta International Film Festival (JIFFest) di TIM sama Vira and anak2 Female radio, nonton film Yasmin, nih sedikit ulasannya
Director : Kenneth Glenaan Casting : Archie Panjabi, Renu Setna, Steve Jackson Prodution : 2004 Country : UK Genre : Drama Duration : 87 minutes Language : English/Punjabi
Yasmin is about how to be Asian, Muslim and British in the 21st century. Outside, Yasmin (Archie Panjabi, ) dresses and behaves like any young modern Westerner; at home she wears a veil, and even agrees to an arranged marriage to please her father. This keeps everyone happy until 9/11. Workmates ostracize Yasmin while the internment of her husband and radicalization of her brother spark an identity crisis. She fights for her husband’s release, and with new resolution begins to reevaluate her life.
Intinya, karakter Yasmin ini adalah wanita cantik, pintar dengan gaya metropolitan, smoking but not drinking, tapi stuck dengan kehidupan traditional Moslem di negara tersebut… jadi nih yaaa….kalo dia pergi ngantor pagi2, dia pake baju muslim, jilbab dan baju2 kurung panjang plus pasmina, trus dia nyetir sendiri ke kantor, nanti dijalan otw to the office, dia ganti baju dengan baju kerja biasa (kadang pake blouse, kadang kaos sedikit ketat) and celana jeans gaul, trus buka jilbab and pake kacamata item, and kerja dengan orang2 asing dan local dikantornya. Tapi begitu pulang kantor, dia pake lagi jilbab dan atribut2nya, trus pulang and bobo dengan kamar yang terpisah dengan suami yang tidak pernah ditidurinya karena dia married hanya untuk menyenangkan orang tuanya. Pokoknya konflik batin antara living your own live dengan harus mematuhi ada istiadat yang berlaku dilingkungan sekitar membuatnya tersiksa. Endingnya ? nonton aja sendiri, kikikik
Nice movie. Then again, film2 JIFFest kan emang selalu bagus2 yah bow. Akhirnya filmnya selesai and siap2 mo nongkrong ngupi2. But to my surprise, bintang film Yasmin ini yg bernama Archie mendadak muncul di akhir film yang bikin semua orang terkaget2.
Wow…!!! I mean, se umur2 nonton film asing, baru kali ini gue bertatapan langsung dengan bintangnya, secara film nya baru aja kelar ditonton…so langsung aja dong gue samber digital kamera gue, jepreeettt…wow..gue masih amaze sama si Yasmin alias Archie ( yang juga jadi bintang di film "Bend It Like Beckham") yg ada disebelah gue…
Tapi ngue nggak lama bisa ngobrol2 dengan Archie yang ternyata menyenangkan dan very smart for a movie star (you know how artists are, kebanyakan brainless) , gue harus cabut lagi ke acara berikutnya…sayang sekali…
do don't mind the review, sebagus atau sejelek apapun filmnya, gue jadi tau, kalo gue nonton film trus ketemu artisnya langsung, itu film langsung mendadak jadi one of my favourite movies, ever, hehehe,
Jadi review nya nggak berlaku disini dong yah ? trus ngapain juga gue posting disini ? heraaaannnn....

| |