welcome to deedee's world  

Bali Day-4, 9/8/07 :

Pasar Seni Guwang, Pasar Seni Sukawati, Upacara Ngaben, Istana Tampak Siring, Dewi Cafe - Tegalalang- Ubud, Museum Antonio Blanco

 

 

Pasar Guwang & Pasar Seni Sukawati

 

Perjalanan dimulai dengan wisata belanja ke Guwang, sebuah pasar seni baru yang letaknya deket banget dari Sukawati. Barang2 yang dijual juga sama, tapi harga2 disini sedikit lebih murah. Tapi abis belanja disini, tetep aja kita belanja lagi di pasar seni Sukawati. Abis kayaknya udah tradisi sih, setiap ke Bali belanja nya harus di pasar sukawati, hihi. Segala macem barang kita beli, dari kaos tipis bali yang gambarnya bambu yang sering gue pake, sampe sarung2 pantai dan tas2 buat oleh2 temen2 di Jakarta. Juga baju2 summer dress yang cantik2, lukisan2 dan tentunya cincin perak !!! wow. Abis abis dah gaji sebulan gue, hehehe

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puas belanja, kita melanjutkan perjalanan menuju Istana Tampak Siring. Tapi on the way kesana ternyata ada upacara ngaben yang diadakan ditengah jalan, sehingga otomatis lalu lintas menjadi mati, jalan tak bergerak, kita semua harus menunggu sampai upacara selesai. Karena upacara ngaben adalah upacara yang langka, maka kita semua turun untuk mengabadikan event tersebut.    

 

ngaben

 

Ngaben adalah upacara pembakaran mayat atau kremasi umat Hindu Bali.

Sedangkan kremasi sendiri merupakan praktek penghilangan jenazah manusia setelah meninggal dengan cara membakarnya. Biasanya hal ini dilakukan di sebuah krematorium atau biasa juga di sebuah makam di Bali yang disebut setra atau pasetran. Praktek kremasi di Bali disebut ngaben.

Apabila dilakukan di sebuah krematorium, biasanya jenazah ditaruh di sebuah peti kayu dan dibakar pada suhu 760 – 1150°C. Abu pembakaran kira-kira beratnya sekitar 5% berat jenazah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Istana Tampak Siring

Perjalanan ke Istana Tampak Siring memakan waktu sekitar 1 jam dari pasar sukawati. Berikut adalah sekilas info mengenai Istana Tampak Siring yang diambil dari Wiki.

 

Istana Tampaksiring adalah istana yang dibangun setelah Indonesia merdeka, yang terletak di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali.

 

Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu "tampak" dan "siring", yang masing-masing bermakna telapak dan miring. Konon, menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, namun sayangnya ia bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan bala tentaranya. Mayadenawa pun lari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap para pengejarnya tidak mengenali jejak telapak kakinya.

 

Namun demikian, ia dapat juga tertangkap oleh para pengejarnya. Sebelumnya, ia dengan sisa kesaktiannya berhasil menciptakan mata air yang beracun yang menyebabkan banyak kematian para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air tersebut. Batara Indra kemudian menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun itu yang kemudian bernama "Tirta Empul" ("air suci"). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan sambil memiringkan telapak kakinya itu terkenal dengan nama Tampaksiring.

 

Istana ini berdiri atas prakarsa Presiden Soekarno yang menginginkan adanya tempat peristirahatan yang hawanya sejuk jauh dari keramaian kota, cocok bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga maupun bagi tamu-tamu negara.

 

Arsiteknya adalah R.M. Soedarsono dan istana ini dibangun secara bertahap. Komplek Istana Tampaksiring terdiri atas empat gedung utama yaitu Wisma Merdeka seluas 1.200 m dan Wisma Yudhistira seluas 2.000 m dan Ruang Serbaguna. Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira adalah bangunan yang pertama kali dibangun yaitu pada tahun 1957. Pada 1963 semua pembangunan selesai yaitu dengan berdirinya Wisma Negara dan Wisma Bima.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terus setelah puas photo2 dan minum air suci yang ada disana, kita kembali melanjutkan perjalanan, tapi kali ini kita skipped Kintamani karena udah pernah kesana dan males karena disana cuma liat dananu aja. Emang sih danau nya indah, tapi ngak ada apa2 lagi selain danau tersebut, jadi kita semua langsung ke Ubud, dan makan di cafe yang WAJIB mampir, a rice terrace-hidden cafe so called dewi Cafe in Tegalalang, about 10km from ubud.

 

Tiap ke Bali emang gue selalu bela2in kesini. Selain cafe nya cozy banget dan agak sepi karena nggak banyak yang tau lokasi tempat ini, tempatnya sejuk dan dingin banget, pemandangan nya juga indah, pematang sawah yang hijau dan segar. Dan juga memory waktu dulu pacaran disini (suit suiiitt). Kekurangan nya cuman satu, makanan nya selalu dateng lamaaaaaaa banget. Kayaknya kalo mau makan disini harus pesen makanan nya 1 hari sebelumnya saking lamanya :-P

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puas makan2, menikmati pemandangan dan photo2, kita kembali melanjutkan perjalanan ke Ubud, muter2 Ubud sebentar dan karena waktu udah tambah sore, kita langsung menuju ke Museum Antonio Blanco

 

Museum Antonio Blanco

 

Museumnya bagus, tapi males ngebahasnya ah, secara waktu browsing ke website nya, artikel nya nggak bisa di copy paste, hehe. Yang jelas selain photo2 disana, kita juga membeli beberapa lukisan beliau yang emang bagus2 itu. Sayang, lukisan2 yang di museumnya nggak boleh di photo, kecuali lukisan2 yang ada di workshopnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anyhow, selesai muter2 ternyata udah malem, kita langsung pulang ke Kuta, istirahat, mandi dan makan sate Padang di persimpangan jalan legian-seminyak. Sate Padang yang ter-enak di Bali. Begitu gurih, pedes dan berselera.

 

to be continued with Bali Day-5

 

 


hellmeed wrote on Aug 26, '07

fotonya bagus bagus..
reipras94 wrote on Aug 26, '07
duh...bikin kangen bali eeuuyy.....
livingarief wrote on Aug 26, '07
cocok Dee, Xena versi Bali.
estimiguelariel wrote on Aug 27, '07
pas banget jadi pelukis jeung... kalo dah jadi jual harga teman yakss :)
elokdyah wrote on Aug 27, '07
ih sexy bajunya... keren...! nglukis apaan Deedee...?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.